Jaksa Ancam Sita Eksekusi Aset Mendiang Syamsuddin

Sumbawa, KabarNTB – Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumbawa Besar mengharapkan dan meminta agar keluarga atau ahli waris dari terpidana kasus korupsi bantuan bencana alam (BBA) Kecamatan Empang, Syamsuddin Haiti, beritikad baik untuk membayar uang pengganti dan denda yang harus dibayar oleh mendiang terpidana.

Jika tidak dibayar maka Kejari Sumbawa Besar akan menempuh upaya hukum berikutnya dalam hal ini jalur perdata bahkan sita eksekusi aset mendiang terpidana.

Menurut Kepala Kejaksanaan Negeri (Kajari) Sumbawa Besar, Sugeng Hariadi, SH.MH., Selasa (03/11/2015) bahwa pihaknya tetap mengharapkan adanya itikad baik dari ahli waris Syamsuddin Haiti. Paling tidak menemui atau berkomunikasi dengan pihaknya terkait waktu maupun jumlah yang akan dibayarkan.

Dalam hal ini, terpidana dibebankan untuk membayar uang pengganti senilai sekitar Rp 400 juta dan denda Rp 50 juta. Hanya saja, hingga detik ini ahli warisnya sama sekali belum mengontak pihak Kejari Sumbawa Besar.

Padahal tandas Kajari, pihaknya akan sangat berterimakasih jika ahli waris berupaya membayar uang pengganti dan denda tersebut.

“Kalau gak dibayar, saya akan gugat dan eksekusi rumah atau mobilnya. Kami lakukan aset resing,” tegas Kajari.

Ia memaparkan, memang dulu pernah pihak terpidana ingin membayar uang pengganti dengan cara mencicil sekitar Rp 50 juta, tapi dalam perkara tersebut telah diatur bahwa pembayaran dilakukan setelah terpidana dieksekusi Kejaksaan. Tapi sekarang terpidana telah meninggal dunia dan ahli warisnya wajib melunasi uang pengganti maupun denda yang dibebankan kepada terpidana.

“Pernah beliau mengatakan mau bayar untuk uang pengganti. Kalau gak salah waktu Rp 50 juta tapi saya tolak. Karena belum saya eksekusi badannya pak almarhum. Harus badannya dulu baru uang penggantinya bersamaan. Namun sekarang sudah meninggal, maka uang penggantinya harus dibayar ahli warisnya,” jelas Kajari.

Sugeng menegaskan, bahwa kasus tersebut telah inkrah di tingkatan Mahkamah Agung sehingga harus dieksekusi. Hanya saja ketika itu terpidana dalam keadaan sakit, maka mau tidak mau Kejari Sumbawa Besar menunggu yang bersangkutan sembuh. Karena isterinya mau membayar tapi dibayar dengan cara cicil.

Kendati demikian, pihaknya tetap menunggu berakhirnya masa duka dari pihak ahli waris terpidana. Upaya yang akan dilakukan berupa pemanggilan dengan cara santun kepada yang bersangkutan.

“Kami kemarin menunggu 7 hari, tapi teman-teman Jaksa di sini minta menunggu sampai 40 hari. Mungkin nanti ada itikad baik dari ahli waris mendatangi kami. Monggo kami membuka pintu lebar-lebar, kami masih bisa melakukan win-win solution,” ujar Kajari.

Opsi tersebut dilakukan karena di satu sisi uang negara dikembalikan dan pihak keluarga merasa ringan membayar. (K-K)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.