Ketika Gubernur Penghafal Al Qur’an Mendadak Berkunjung ke Sekolah Katolik

Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr TGH M Zainul Majdi yang akrab disapa TGB tiba-tiba mengunjungi SMA- Kesuma (SMA-K) di Cakranegara Kota Mataram, Selasa, 18 april 2017. Kedatangan gubernur penghafal Al Qur’an itu, untuk memberikan ceramah wawasan kebangsaan bagi siswa-siswi dan staf pengajar di sekolah yayasan Kristen Katolik tersebut.

Gubernur NTB, merupakan pelopor sekaligus penggagas gerakan ideologis dalam menyuburkan nasionalisme dan kebhinekaan sebagai kekuatan membangun NKRI melalui “Gerakan Merawat Semangat Kebangsaan”.

Didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, Drs.H.Suruji, TGB disambut hangat Ketua Yayasan dan Kepala SMU-K, Rino bersama Guru dan ratusan siswa-siswi yang telah menunggu kehadiran pemimpin yang juga ulama itu.

TGB berfoto bersama para siswa SMA Kesuma

Kalimat pertama yang meluncur dari TGB saat itu adalah permintaan maaf. Ia dengan tulus meminta maaf kepada para siswa dan guru SMA Kesuma atas keterlambatannya. Ya, TGB mengakui keterlambatanya. Ia dijadwalkan tiba disekoah tersesebut pukul 09.00 Wita.

“Ini lewat 30 menit, saya mohon maaf,”. “Ini tidak baik, jangan ditiru, ya,” ujar TGB, seraya menjelaskan kepada para siswa tentang keterlambatan itu disebabkan ada tamu yang harus diterima di kantornya.

TGB mengaku dirinya sudah puluhan tahun mengetahui yayasan pendidikan SMU-Kesuma dan memuji eksistensi sekolah itu yang dikenalnya karena prestasi- prestasinya yang luar biasa.

“Jadi kalau tadi Kepala Sekolah menyampaikan banyak prestasi yang sudah dicapai, bukanlah sesuatu yang berlebihan,” katanya.

“Kalau saat ini kalian berhasil menjadi Juara Basket, Gendang Beleq dan bahkan juara olimpiade sains Provinsi NTB, maka tahun depan jangan mau lagi juara provinsi, tapi jadilah juara nasional, bahkan saya menantang kalian untuk menjadi duta Indonesia untuk menjadi juara Internasional,” ujarnya memberi motivasi yang disambut tepuk tangan riuh para siswa.

Doktor ahli tafsir Al Qur’an lulusan Universitas Al Azhar Mesir itu, menilai SMK Kesuma sebagai cermin masa depan NTB dan masa depan Indonesia yang maju dan kuat.

“Sekolah ini mencerminkan keragaman yang lengkap. Semua suku, agama, adat istiadat, ras, warna kulit, dan semua perbedaan lainnya, namun Sekolah ini tetap menjadi tempat belajar yang nyaman, aman dan berhasil meraih prestasi-prestasi yang hebat. Ini gambaran karunia Tuhan bahwa keragaman sesungguhnya kekuatan dan modal berharga dalam membangun Indonesia,” pujinya lagi.

Kepada para siswa, TGB mengingatkan agar selalu menghormati perbedaan dan mencontoh para pahlawan yang telah berjuang memerdekakan Indonesia. Dari potret para pahlawan itu, kita dapat melihat keberagaman sebagai sebuah kekuatan.

Dialog antara TGB dengan Siswa SMA Kesuma berlangsung akrab

“Misalnya dari segi pakaian, dari sisi agama, warna kulit dan semua keberagaman lainnya, namun mereka bekerja bersama untuk indonesia. Dengan semua latar belakang yang berbeda itulah modal kita untuk membangun NTB dan indonesia,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, Gubernur juga berkomunikasi langsung dengan para siswa lewat dialog yang berlangsung akrab dan menyenangkan. Ia menanyakan tentang bagaimana sikap dan cara pandang para siswa menyikapi keberagaman. Masing-masing siswa memberikan argumen yang berbeda, misalnya harus saling berhargai, toleransi, memahami dan saling mengerti.

Pada sesi pertanyaan dari siswa, seorang siswa bernama Edward bertanya kepada gubernur bagaimana cara Gubernur menjaga NTB ke depan agar tetap aman.

“Dengan kondisi NTB yang beragam, pasti juga ada potensi chaos atau konflik antar warga, bagaimana caranya mencegah,” tanya Edward.

Gubernur melempar kembali pertanyaan itu untuk mendapat pandangan dari siswa lain, bagaimana cara mereka mengatasi jika terjadi konflik. Siswa yang berani mengungkapkan pendapatnya Gubernur menyediakan hadiah khusus.

Para siswa berebut menanggapi pertanyaan itu. Gefi, menjawab pentingnya sikap toleransi dan hati-hati serta menjaga sopan santun. Dedit menambahkan perlunya saling pengertian. Abre justru melihat pentingnya ada peraturan, karena dari peraturan itu akan menumbuhkan kesadaran untuk disiplin sehingga tercipta keamanan.

Sementara Yeni melihat kesadaran diri penting untuk ditingkatkan, sedangkan beberapa siswa lain berpendapat pentingnya musyawarah, saling memaafkan, peran mediator dan menemukan akar persoalan. Gubernur menyatakan jawaban-jawaban siswa saling melengkapi satu sama lain.

“Itulah hakekat keberagaman itu, sehingga menjadi modal kekuatan kita bersama. Dalam menyelesaikan suatu permasalahan itulah yang harus dilakukan. Memperbaiki diri dan peraturan, dua-duanya penting,” tegasnya.

Secara khusus Ia mengupas tentang upaya mencegah dan mengatasi konflik dengan mengenali akar permasalahannya, kemudian bermusyawarah untuk menyelesaikannya, saling memaafkan, menengahi bila terjadi konflik dan yang paling penting adalah menumbuhkan kesadaran diri untuk menjauhi perbuatan melanggar hukum.

Dialog dan ceramah wawasan kebangsaan ditutup dengan penyerahan bingkisan kepada para siswa berupa beberapa paket buku ‘Karya Anak Negeri’ yang memuat 25 kisah inspiratif dari NTB, ‘Ikhtiar Tiada Henti’, dan buku ‘Perempuan yang Hebat’.
Gubernur juga memimpin langsung doa penutup sebelum para siswa berhamburan mendatanginya untuk bersalaman dan berfoto bersama.(Yus)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.