Management Grand Royal Taliwang Hotel Bantah Tudingan Tidak Professional

KabarNTB, Sumbawa Barat – Management Grand Royal Taliwang Hotel (GRTH), Kabupaten Sumbawa Barat, membantah tidak professional sebagaimana tudingan sejumlah karyawan. Direksi GRTH, Anisa DM, didampingi Departement HRD, Syafruddin, kepada KabarNTB, Rabu 27 September 2017, menyatakan, seluruh kebijakan yang diambil  management, termasuk dalam hal mutasi (pemindahan) karyawan dilaksanakan dengan professional dan punya dasar yang jelas dengan tujuan untuk kemajuan hotel.

Dalam hal mutasi terhadap mantan Sales Eksekutif Marketing, Hetni (bukan Heny seperti diberitakan sebelumnya) menjadi humas karaoke tidak dilaksanakan  mendadak, tetapi jauh-jauh hari sebelumnya, surat penetapan mutasi yang ditandatangani langsung oleh Owner (pemilik GRTH), Alim Sugiantoro telah disampaikan kepada yang bersangkutan. Untuk mendukung keinginan menghidupkan kembali karaoke itu, pihak management, juga sudah memperbaiki sejumlah fasilitas pendukung yang rusak agar bisa dioperasikan maksimal.

“Mutasi saudari Hetni ini sengaja dilakukan untuk menghidupkan kembali karaoke yang sebelumnya ditutup. Alasannya karena hanya dia (Hetni) dari seluruh pegawai yang ada yang memiliki kemampuan. Sementara untuk merekrut dari luar tidak mungkin karena terbentur dengan pendapatan kita yang sangat minim (belum sanggup untuk menambah karyawan),” ungkap Syafruddin, sembari memperlihatkan surat  penetapan mutasi tertanggal 1 Juni 2017.

Anisa dan Syafruddin, Direksi dan HRD Grand Royal Taliwang Hotel,KSB

Justeru dengan pemindahan ke department lain itu merupakan langkah pengembangan sumberdaya yang bersangkutan. Karena jika ingin jenjang karier naik tentu harus memahami dan punya pengalaman dalam tugas-tugas didepartement berbeda. Mutasi tersebut, juga tidak menurunkan grade jabatan yang dipercayakan kepada yang bersangkutan.

“Level jabatannya di sales executive marketing sama dengan PR karaoke, grade-nya tidak turun. Karena kita menerapkan system berjenjang dalam hal penentuan jabatan karyawan. Yang bersangkutan juga berawal dari level bawah sebelum naik ke marketing,” urai mereka.

Mengenai pengambilalihan ruang kantor dan fasilitas penunjang kinerja Hetni oleh management, Anisa dan Syafruddin juga menyatakan telah dilaksanakan sesuai prosedur dengan menyurati yang bersangkutan agar mengembalikan fasilitas milik perusahaan.

Demikian pula dengan pemindahan salah satu security ke bagian cleaning service, menurut Nisa dan Syafruddin dilaksanakan sesuai prosedur. Pemindahan itu berawal dari terjadinya kehilangan asset milik hotel yang berada dibawah tanggungjawab security. Asset yang hilang itu termasuk CCTV dan aki mesin genset (pembangkit listrik). Saat asset-aset tersebut hilang, kata Syafruddin, pihak management telah membantu yang bersangkutan melalui pengurusan ke Kepolisian dan memberi toleransi agar yang bersangkutan bisa bertanggungjawab.

“Namun ternyata yang bersangkutan tidak ada inisiatif bagaimana mencari atau agar barang-barang itu bisa kembali. Akhirnya melalui rapat management diputuskan yang bersangkutan diberhentikan. Tapi owner ternyata masih punya hati nurani dan tidak membolehkan dan kami yang bersangkutan diberhentikan. Kalau dia bisa nyapu alihkan saja ke cleaning service, itu kata owner yang akhirnya kita ikuti seperti itu,” bebernya.

Untuk mengganti security, pihak management akhirnya mengambil dari perusahaan lain yang bergerak dalam bidang penyediaan tenaga security. Saat itu,menurut Syafruddin ada tiga perusahaan yang mengajukan proposal  sebagai penyedia tenaga security dan diputuskan diambil dari perusahaan yang berbasis di Kabupaten Sumbawa.

“Jadi kalau ada tudingan pungli dalam rekrutmen itu tidak benar dan kami tidak tahu, karena kami tidak merekrut langsung tetapi mengambil dari perusahaan penyedia jasa security,”  tegasnya.

Baik Anisa maupun Syafruddin menegaskan dalam kondisi hotel yang tidak menentu seperti saat ini, pihak management tidak ada niat untuk memberhentikan atau menekan karyawan. Justeru owner  memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi dan terus berupaya agar hotel bisa tetap beroperasi agar para karyawan tetap bisa bekerja.

“Sebenarnya hotel ini sudah tutup pada Desember 2016 lalu. Tetapi karena memperhatikan nasib karyawan, owner memilih tetap bertahan dengan catatan seluruh karyawan bekerja dengan semangat. Dan sampai sekarang kita tetap berusaha bertahan meski selalu merugi dan ada benturan-benturan dari internal,” ungkap mereka.(EZ)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.