Program Bela Negara PT AMNT : Menciptakan Karyawan Berkarakter dan Cinta NKRI

Program Bela Negara yang dilaksanakan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PTAMNT) untuk para karyawan dan tenaga kerja lokal non skill yang baru direkrut, membawa perubahan sangat signifikan terhadap sikap mental para karyawan dan calon karyawan yang menjadi peserta program tersebut.

Pertanyaan banyak pihak, termasuk para karyawan sendiri, tentang tujuan dan urgensi program bela negara terjawab setelah mereka ditempa selama dua minggu hingga satu bulan dalam program yang dilaksanakan bekerjasama dengan TNI itu.

***

Sekitar 100 orang, berseragam hijau dengan sepatu boot dan topi rimba bergerak serempak, mengikuti aba-aba dari dua orang pemimpin pasukan. Pemimpin laki – laki dan perempuan itu bergerak dinamis dari ujung ke ujung barisan. Mereka sedang memimpin pasukan mengumandangkan yel-yel penuh energi dan motivasi, sebelum memulai latihan montenering dan baris berbaris.

Mereka adalah para tenaga kerja lokal non skill PT MacMahon, perusahaan aliansi PTAMNT di tambang Batu Hijau. 100 orang itu merupakan gelombang pertama peserta program Bela Negara dari 314 tenaga non skill yang segera akan diperkerjakan di Batu Hijau.

100 orang tenaga kerja lokal non skill peserta gelombang pertama program Bela Negara di Rindam IX Udayana

Tidak main-main, mereka dikirim untuk mengikuti program bela negara di Resimen Induk Kodam IX/Udayana (Rindam IX Udayana) di Tabanan, Bali. Rindam IX/Udayana adalah lokasi pendidikan, latihan, pengkajian dan pengembangan serta membantu pembinaan latihan secara teknis terhadap satuan-satuan jajaran Kodam IX/Udayana. Termasuk menjadi lokasi pendidikan Calon Tamtama dan Calon Bintara dari wilayah Bali, NTB dan NTT.

Mayoritas diantara 100 orang ini, sebelumnya punya pandangan yang sama dengan orang lain tentang urgensi maupun tujuan bela negara yang wajib mereka ikuti sebelum mulai bekerja. Bahkan diantara mereka ada yang takut ketika pertama kali tiba di Rindam IX Udayana, karena mengira akan digembleng layaknya calon tentara.

Tetapi perasaan takut itu berubah 180 derajat. Ida Indrayanti, seorang tenaga kerja non skill dari Kecamatan Sekongkang, bahkan mengaku tidak tahu akan diikutkan program bela negara saat lulus tes sebagai pekerja di PT MacMahon.

“Pertama datang kesini ada perasaan takut, juga bingung. Latihan-latihan yang diberikan baru pertama kali saya ikuti. Namun setelah beberapa hari saya justeru merasakan perubahan,” ungkapnya, kepada KabarNTB yang berkesempatan mengunjungi kegiatan Bela Negara di Rindam IX Udayana, Kamis 9 Nopember 2018.

Ida mengaku mengalami perubahan cukup banyak selama sekitar dua minggu berlalu mengikuti kegiatan tersebut. Ia  mengaku menjadi lebih disiplin, bertanggungjawab dan lebih optimis menghadapi tantangan, termasuk tantangan saat sudah mulai bekerja nanti.

“Di tempat kerja juga membutuhkan kedisiplinan, loyalitas, ketertiban, solidaritas, tanggungjawab, kerjasama tim untuk maju bersama, bukan kemajuan individu saja. Itu yang dilatih dan membuat saya sangat senang berada disini,” ungkapnya.

Hampir senada, Munawir Alwi, peserta dari Kecamatan Seteluk, juga mengaku sempat takut ketika pertama kali tiba di Rindam. Pemikirannya sama, Rindam adalah tempat penggemblengan calon tentara dan pasti mereka akan menjalani latihan yang sangat keras.

Ida Indrayanti, Eko Saputro dan Munawir Alwi bersama pelatih dan Kepala Diklat Rindam IX Udayana, Letkol Arif Supardiman

“Tapi setelah beberapa hari disini, kita justeru merasakan jiwa corsa, jiwa kebersamaan, saling peduli, solidaritas dan kekeluargaan yang sangat tinggi. Jadi rasa capai itu hilang. Kedepan (ketika bekerja) kita dituntut tanggungjawab yang lebih besar, jadi apa yang kami dapatkan disini akan sangat bermanfaat,” ungkapnya.

Tentang anggapan bahwa program Bela Negara yang dianggap berat bahkan menakutkan, Eko Saputro, tenaga kerja lokal dari Kelurahan Menala, Taliwang, menyatakannya sebagai anggapan yang keliru.

“Teman-teman yang lain yang belum mengikuti program ini (tenaga non skill), tidak usah ragu untuk ikut. Ini program yang sangat bagus untuk pengembangan diri. Saya sendiri tidak menyesal, saya justeru bangga, karena dari lokasi saja (Rindam IX Udayana), tidak semua orang bisa ikut program bela negara atau masuk kesini,” urainya.

Selama pelatihan ini para peserta mendapatkan materi wawasan kebangsaan untuk membentuk karakter peserta menjadi ‘Indonesia Banget’, latihan baris berbaris (PBB) untuk melatih kedisiplinan dari diri sendiri dan selanjutnya menjadi disiplin dalam kelompok (kerjasama tim). Pelatihan yang tidak kalah penting adalah mind setting (pola pikir) yang diarahkan untuk menciptakan pola pikir yang baik dan positif. Tidak boleh ada keraguan, karena jika ragu maka pola pikir akan negative. Apapun yang dilakukan harus bertanggungjawab.

Mereka juga diajarkan kepemimpinan. Menurut Letkol Arif Supardiman, Kepala Diklat Rindam IX Udayana, semua peserta merupakan calon pemimpin. Jadi kepemimpinan dasar merupakan materi wajib yang mesti diikuti.

“Kepemimpinan diri sendiri dulu, baru mempengaruhi lingkungan. Ini langsung dipraktekkan. Kita tunjuk mereka sendiri sebagai ketua kelas, sebagai pemimpin. Dan yang dipimpin harus loyal, karena kepemimpinan pasti estafet. Setiap peserta akan mendapat giliran menjadi pemimpin,” ujarnya.

Untuk keterampilan dan ketahanan fisik, peserta dilatih montenering dan bela diri. Pelatihan ini penting untuk menciptakan keperibadian yang tangguh dan bisa diandalkan dalam kondisi kedaruratan. Bela diri dan montenering arahnya ke SAR (Save and Resceu), karena dalam bekerja kelak mereka tidak tertutup kemungkinan akan menghadapi situasi darurat yang membutuhkan ketahanan fisik dan keterampilan dalam bertahan maupun membantu orang lain.

Selain materi pembentukan karakter dan wawasan kebangsaan, peserta juga dilatih ketahanan fisik lewat kegiatan montenering

Ia menyatakan para peserta tidak dilatih secara militer, tetapi semangat bela Negara yang diaplikasikan dalam pelatihan disesuaikan dengan kondisi dan situasi tempat mereka akan bekerja nanti.

“Jadi nanti (saat bekerja) mereka bisa disiplin, khususnya soal waktu. Kita tahu bahwa pola kerja di PTAMNT sangat menghargai waktu. Selain itu mind setting, jangan ada lagi pola pikir sektoral karena untuk mencapai sukses harus bersama-sama,” beber Letkol Arif.

Program pelatihan Bela Negara tidak hanya diperuntukkan bagi calon karyawan non-skill. Sejak April 2018, Amman Mineral dan Aliansi Mitra Kerja telah mengirimkan sekitar 474 karyawannya untuk mengikuti program Bela Negara di Korem 162 Wirabhakti Mataram, NTB.

“Untuk karyawan saat ini sudah angkatan ke VII dari gelombang pertama. Seluruh karyawan, termasuk level top management juga ikut program ini,” ujar General Manager Operation (GMO) PTAMNT, Wudi Raharjo, usai memberikan pembekalan kepada para peserta program bela Negara di Rindam IX Udayana.

Wudi menjelaskan, pelatihan teknis, non-teknis, termasuk pelatihan terkait keselamatan kerja dan Bela Negara merupakan bagian dari proses rekrutmen calon karyawan non-skill untuk Amman Mineral dan Aliansi Mitra Kerja yang telah diinformasikan sebelumnya dalam Letter of Offer (LOO) dan telah disepakati dan ditandatangani oleh para calon karyawan.

“Pelatihan bertujuan untuk menyiapkan agar calon karyawan memiliki kompetensi yang sesuai serta  memahami budaya bekerja yang aman untuk memenuhi persyaratan kegiatan operasional perusahaan,” ujarnya.

Dengan visi misi menjadi kebanggaan nasional dan perusahaan pilihan bagi seluruh pemangku kepentingan, Manajemen PTAMNT dan Aliansi Mitra Kerja, kata Wudi, secara serius menyiapkan, melaksanakan dan mengawal program pelatihan khususnya Diklat Bela Negara untuk memastikan keberhasilan program ini.

General Manager Operation (GMO) PTAMNT, Wudi Raharjo menyempatkan diri memberi pembekalan kepada para peserta program Bela Negara

Proses ini merupakan salah satu keberhasilan perekrutan dengan satu pintu (bekerjasama dengan Pemerintah Daerah KSB), khususnya dalam pengembangan masyarakat di sekitar tambang. Keseriusan manajemen ini ditunjukkan dengan hadir dan turun langsung di beberapa sesi penting pelatihan seperti pembukaan, supervisi program, pembekalan materi kepemimpinan serta penutupan program.

“Amman Mineral dan Aliansi Mitra Kerja meyakini bahwa Pelatihan Bela Negara sangat penting untuk membentuk karakter calon karyawan sehingga mempunyai disiplin dan loyalitas yang tinggi, karakter yang unggul,  fokus dalam bekerja, kinerja yang tinggi, jujur, memiliki kerjasama tim serta membangun semangat dan wawasan tentang  kebangsaan,” paparnya.

Inisiatif PTAMNT dan Mitra Kerja-nya menyelenggarakan program Bela Negara ini, diapresiasi oleh Danrindam IX Udayana, Kolonel Inf Esy Suharto.

“Saya berterimakasih atas inisiatif (AMNT) ini. Artinya kesadaran untuk membekali karyawan agar memiliki disiplin dan tanggungjawab dipercayakan ke Rindam. Bela Negara di Rindam bukan hanya untuk militer tetapi semua warga Negara bisa ikut, baik BUMN maupun Swasta,” ucapnya.

Danrindam yang baru dilantik pada tanggal 7 Nopember 2018 itu, menjelaskan program Bela Negara, sesuai Undang-Undang Dasar 1945, bertujuan bahwa setiap warga Negara punya hak dan kewajiban untuk ikut menjaga ketahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk melaksanakan amanat tersebut, setiap warga Negara perlu untuk meningkatkan kedisiplinan dan integritas.

Kerjasama PTAMNT dengan Rindam IX Udayana dalam pelaksanaan program Bela Negara merupakan bagian dari upaya tersebut. Dimana karyawan dilatih untuk disiplin, semangat dan memiliki etos kerja yang baik. Yang tidak tidak kalah penting adalah menumbuhkan rasa cinta kepada perusahaan dalam hubungan kecil dan hubungan besarnya adalah rasa cinta terhadap NKRI. Jadi materi yang diberikan selama kegiatan Bela Negara arahnya adalah membangkitkan rasa dan semangat kebangsaan bagi peserta.

Danrindam IX Udayana, Kolonel Inf Esy Suharto

“Agar mereka disiplin baik secara lahir maupun bathin. Kalau disiplin lahir, ada pelatih baru takut, baru melaksanakan sesuai ketentuan. Tetapi kalau disiplin batin, tidak ada pelatih, dia tetap melaksanakan apa yang harus dilaksanakan. Harapannya selesai dididik Bela Negara, begitu bekerja dan memegang jabatan para peserta tetap melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya, ada atau tidak ada atasan yang mengawasi. Tidak ada hal-hal yang lain,” urainya.

Danrindam mengaku memahami ada masyarakat yang beranggapan berbeda, apalagi program dilaksanakan di Rindam.

“Begitu dengar Rindam persepsinya itu, oh ini wajib militer, angkat senjata, guling-guling dan sebagainya. Tidak seperti itu. Kalau ada kegiatan fisik itu semata-mata hanya untuk menumbuhkan rasa kebersamaan. Kegiatan seperti outbound juga tujuan sama, untuk menumbuhkan rasa empati, membantu satu dan yang lain,” jelasnya.

Kolonel Esy Suharto menyatakan 100 orang peserta angkatan pertama non skill yang menjadi peserta telah menujukkan kemajuan yang sangat baik selama mengikuti program. Tidak ada perlakuan khusus bagi peserta yang satu maupun yang lain, karena standar yang diterapkan sama, baik itu bagi kalangan swasta maupun BUMN.

“Mereka sepertinya sudah betah disini. Tidak ada rasa ketakutan, keterpaksaan. Kalau ada, pasti ada indikatornya, misalnya lari atau kabur dari program. Dan kalau saya lihat, dari mimik mukanya mereka merasa enjoy segar, karena fisiknya juga dilatih. Setelah sekian hari mereka bisa beradaptasi dan merasa enjoy disini,” pungkasnya.(EZ/*)

 

 

 

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.