Di DPW PKB, Firin – Fud Bicara Soal Demokrasi, PBB dan Kotak Kosong

KabarNTB, Mataram – Bakal calon bupati Sumbawa Barat (KSB), HW Musyafirin, kembali menegaskan sikap tidak ingin memborong semua partai politik untuk dijadikan kendaraan di Pilkada 23 September mendatang.

Berbicara di acara penyampaian visi misi bakal calon yang dilaksanakan DPW PKB NTB di Mataram, Sabtu 11 Januari 2020, HW Musyafirin yang hadir bersama Fud Syaifuddin, menyatakan dirinya selaku kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Fud Syaifuddin selaku kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang memiliki total 7 kursi DPRD sebenarnya sudah melampaui syarat dukungan untuk maju di Pilkada.

Baca juga : http://kabarntb.com/2020/01/dukungan-pkb-di-pilkada-ksb-99-persen-jelas-irfani-kami-tidak-mau-konyol/

Namun Ia menegaskan komitmen untuk merangkul tujuh parpol yang menjadi bagian dari koalisi 2015, termasuk PKB. “Kami berharap PKB tetap menjadi bagian dari koalisi kami,” ungkapnya dihadapan enam orang panelis yang disiapkan DPW PKB NTB.

Meski demikian, bakal calon petahana itu mengakui, tetap khawatir tidak akan ada lawan tanding di Pilkada, karena saat ini hampir semua parpol di KSB telah merapat ke pasangan Firin – Fud.

Pasangan Bakal Calon Bupati – Wakil Bupati KSB, HW Musyafirin – Fud Syaifuddin saat menyampaikan visi misi yang dilaksanakan DPW PKB NTB

“Komitmen kita membangun demokrasi bersama-sama, tidak ada masalah juga kalau umpamanya ada calon lain, kita beri kesempatan, supaya demokrasi ini bisa berjalan dengan baik. Tapi paling tidak koalisi kami di 2015, termasuk PKB di dalamnya mudah-mudahan ini bisa tetap bertahan,” ungkap HW Musyafirin.

Baca juga : http://kabarntb.com/2020/01/menteri-ppn-bappenas-masuk-rpjmn-pembangunan-smelter-di-ksb-prioritas/

Untuk parpol di luar koalisi 2015, Ia menyebut Gerindra dan Golkar yang sudah merapat. Sehingga parpol yang tersisa adalah Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat. Sementara Partai Bulang Bintang (PBB), meski masuk dalam 7 parpol koalisi pengusung Firin – Fud di 2015, HW Musyafirin menegaskan belum mau diambil. Alasannya, agar sisa parpol yang ada bisa memenuhi syarat mengusung pasangan calon di Pilkada.

Dengan syarat minimal diusung parpol atau gabungan parpol pemilik 25 persen kursi DPRD, maka PAN dan Demokrat di KSB yang masing-masing menguasai 2 kursi, membutuhkan parpol lain agar bisa memenuhi syarat. Jika bisa mengambil PBB maka total tiga parpol dimaksud memiliki 6 kursi dari total 25 kursi DPRD KSB, karena PBB juga menguasai 2 kursi.

“PBB belum kami mau ambil, itu supaya dia genap, kalau kita ambil PBB, tidak genap (tidak memenuhi syarat jumlah kursi), tidak bisa mengusung. Jadi sementara PBB kami beri kesempatan untuk datang ke koalisi sebelah,” urainya.

Baca juga : http://kabarntb.com/2019/12/tak-berminat-borong-partai-firin-fud-persilahkan-gerindra-usung-figure-lain/

Menjawab, Lalu Satriwansyah, salah satu panelis yang mempertanyakan apakah Firin – Fud akan memilih ada lawan tanding atau memilih melawan kotak kosong di Pilkada, bakal calon wakil Bupati, Fud Syaifuddin, menegaskan komitmen untuk membangun demokrasi yang sehat.

“Bagi kami, ada lawan jadi, tidak ada lawan juga jadi, karena itu (mencalonkan diri) adalah hak warga negara, hak partai politik juga (untuk mengusung pasangan calon). Saya pikir tidak ada partai politik mau kalah. Maka dengan persentase hasil survey elektabilitas yang tinggi (diatas 80 persen) dan kinerja kami selama empat tahun, telah memberikan bukti bahwa Sumbawa Barat lebih baik,” urainya.

Kalau disuruh memilih ada lawan atau tidak ada lawan, ujar Fud, Firin – Fud akan memilih ada lawan. Tetapi persoalannya, partai politik yang tidak mau. “Saya pernah berbicara dengan salah seorang komisioner KPU yang menyatakan, kalau tidak ada lawan berarti demokrasi gagal. Saya katakan, jangan bilang begitu, karena faktanya, melawan kotak kosong itu adalah bagian dari proses demokrasi yang harus kita hargai dan hormati,” bebernya.

Baca juga : http://kabarntb.com/2019/12/pbb-dengan-firin-fud-antara-kekecewaan-dan-pintu-yang-masih-terbuka/

Kondisi akan berbeda, sambung Fud, jika partai politik memiliki calon sendiri, seperti halnya antara pasangan Firin – Fud dengan PBB yang pada 2015 menjadi bagian dari koalisi pengusung. Tetapi karena untuk Pilkada 2020 PBB memiliki calon dari kader sendiri, Firin – Fud tidak masuk mendaftar ke parpol besutan Yusril Ihsa Mahendra itu.

“Sama dengan Demokrat, ada calonnya. Jadi kami menghargai dan tidak masuk (mendaftar). Kami-pun tidak memaksa semua parpol kita ambil, tapi Alhamdulillah, seperti Gerindra, datang ke kami, Golkar juga begitu, kami diminta mendaftar. Maka penentuan, itu tergatung dari partai politik masing-masing,” pungkas Fud Syaifuddin.(EZ)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.