Pemuda Brang Ene Tuntut Pelaksana Proyek Bendungan Tiu Suntuk Prioritaskan Tenaga Lokal

KabarNTB, Sumbawa Barat – Puluhan pemuda yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Brang Ene, Sabtu pagi 2 Mei 2020 melakukan aksi demonstrasi, menuntut agar perusahaan pelaksana pembangunan Bendungan Tiu Suntuk memprioritaskan tenaga kerja lokal dalam proyek raksasa tersebut.

Aksi yang dilaksanakan sebagai bagian dari peringatan hari buruh sedunia (May Day) itu, diikuti puluhan pemuda pencari kerja dan tokoh pemuda kecamatan setempat di lokasi proyek bendungan Tiu Suntuk di Desa Mujahidin Kecamatan Brang Ene.

Jayadi, Korlap Aksi, dalam orasinya, menegaskan perusahaan pelaksana proyek wajib hukumnya memberdayakan tenaga kerja lokal dalam setiap tahapan pembangunan Bendungan Tiu Suntuk. Hal ini penting agar keberadan mega proyek yang masuk dalam proyek strategis nasional itu bisa memberi manfaat lebih untuk warga sekitar.

Aksi demonstrasi menuntut kontraktor pelaksana pembangunan mega proyek bendungan Tiu Suntuk memberdayakan tenaga kerja lokal oleh puluhan pemuda Kecamatan Brang Ene (foto: yadi)

“Termasuk dalam tahapan eksplorasi dan land clearing, Kami minta untuk mengoptimalkan penggunaan tenaga kerja lokal. Demikian pula setiap tahapan pembangunan bendungan Tiu Suntuk lainnya,” tegas Jayadi.

Ia menyatakan, perusahaan pelaksana proyek terkesan abai terhadap tenaga kerja lokal. Padahal, dalam sosialisasi Bulan Februari lalu, antara perusahaan, pemerintah dengan perwakilan masyarakat Brang Ene ditegaskan pemberdayaan tenaga lokal agar menjadi atensi khusus. Namun pelaksana proyek disebutnya ingkar.

“Hari ini kita saksikan sendiri perusahaan sudah beroperasi, tetapi kita justru ‘gigit jari’. Padahal tenaga kerja di Brang Ene sangat lengkap, baik yang skill, apalagi yang non skill,” imbuhnya.

Pentolan aksi lainnya, Malikurrahman Iken, mewarning pelaksana proyek. Ia menegaskan tidak ada alasan untuk tidak mempekerjakan tenaga kerja lokal dalam semua tahapan pembangunan Bendungan Tiu Suntuk yang dilaksanakan.

“Kalau butuh operator, orang di Brang Ene banyak yang bisa, karena banyak eks pekerja tambang Batu Hijau yang memiliki sertifikasi keahlian di Brang Ene,” sebut Iken.

Iken juga menyayangkan, sikap perusahaan yang belum membangun komunikasi resmi dengan Pemerintah Desa dan Kecamatan terkait perekrutan tenaga kerja. Kondisi itu, menurutnya, menuai polemik di tengah tengah masyarakat. “Wajar tenaga kerja lokal bereaksi. Jadi ingat, demonstrasi kali ini hanya untuk memulai dan menggugah masyarakat Brang Ene. Kami akan turun ke jalan berkali kali, dengan massa yang lebih besar lagi jika perusahaan tetap abai terhadap tenaga kerja lokal,” ancamnya.

Jika perusahaan pelaksana punya itikad baik untuk merekrut tenaga kerja lokal, sambung Iken, maka perusahaan harus segera melakukan pemetaan tenaga kerja dan segera membangun komunikasi dengan pemerintah untuk selanjutnya disampaikan kepada masyarakat.

“Silahkan perusahaan membuka lowongan terlebih dahulu. Segera dilakukan dan berikan bukti kepada kami kalau mereka serius mempekerjakaan masyarakat lokal,” tegasnya.

Selain menuntut pembedayaan tenaga kerja lokal, massa aksi juga mendesak perusahaan pelaksana memperhatikan akses transportasi kebutuhan perusahaan dengan meminimalisir kecelakaan lalu lintas, serta mendesak perusahaan memberikan CSR kepada masyarakat setempat secara luas dan dilakukan secara terbuka.

Aksi tersebut berjalan lancar hingga selesai dan seluruh peserta yang sebelumnya melakukan konvoi keliling Kecamatan Brang Ene, tetap menerapkan protokol pencegahan Covid-19.(ENK/EZ)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.