Polresta Mataram Gagalkan Upaya Ambil Paksa Jenazah Covid-19 oleh Keluarga

KabarNTB, Mataram — Aparat dari Polresta Mataram mengagalkan pengambilan paksa jenazah Covid-19 oleh pihak keluarga, Senin 27 Juli 2020.

Warga dari Telagawaru hendak mengambil paksa jenazah dari RSUD Kota Mataram. Namun karena kesigapan personel Polresta Mataram, upaya pengambilan paksa itu berhasil digagalkan.

Kapolresta Mataram, Kombes Pol Guntur Herditrianto mengatakan, pihaknya tidak akan membiarkan pengambilan paksa jenazah Covid-19.

“Tidak ada pengambilan paksa jenazah Covid-19 di RSUD Kota Mataram. Tidak akan kita biarkan siapapun yang akan mengambil paksa jenazah Covid-19,” ungkap Kapolresta di RSUD Kota Mataram.

Suasana di RSUD Kota Mataram saat ratusan Warga Telagawaru datang hendak mengambil paksa jenzah positif Covid-19

Ratusan warga Telagawaru datang datang ke RSUD Kota Mataram untuk mengambil jenazah pasien berinisial MR (34 tahun). MR dinyatakan positif Covid-19 sebelum meninggal dunia.

Sebelum dinyatakan meninggal dunia. MR dirawat di RSUD Kota Mataram sejak hari Sabtu 25 Juli 2020. Pasien dirawat dengan keluhan sesak nafas dan gangguan ginjal. Terhadap pasien langsung dilakukan swab. Dua jam setelahnya, hasil swab keluar dengan status positif Covid-19. Setelah berjuang melawan sakitnya. MR tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada Senin dini hari (27/07/2020) sekitar pukul 03.30 wita.

Keluarga pasien dari Telagawaru tidak percaya MR meninggal dunia karena Covid-19. Ratusan warga beramai-ramai mendatangi RSUD Kota Mataram sekitar pukul 07.40 wita. Warga datang untuk mengambil paksa jenazah MR. Mereka menuntut RSUD menyerahkan jenazah MR. Warga juga bermaksud untuk memakamkan MR tanpa protokol Covid-19.

Polresta Mataram langsung siaga. Personel tambahan diturunkan di pos pengamanan RSUD Kota Mataram yang sebelumnya sudah disiagakan. Tapi kesepakatan gagal dicapai. Kepolisian bertindak tegas dengan menghalau puluhan warga untuk keluar dari halaman rumah sakit. Upaya pengambilan paksa pun digagalkan petugas. “Tidak ada yang kita kasih untuk pengambilan paksa jenazah Covid-19. Kita sudah tegaskan itu,’’ timpal Kapolresta.

Meski demikian, Kepolisian tetap menjaga perasaan keluarga. Kepolisian dan rumah sakit mengizinkan 10 orang anggota keluarga untuk menghadiri proses pemakaman jenazah. 10 perwakilan keluarga ini dibekali Alat Pelindung Diri (APD) untuk pengamanan saat memakamkan keluarganya. “Karena harus dimakamkan sesuai protokol. Ada 20 orang keluarga yang diberikan APD. Kita kawal juga jenazahnya sampai ke rumah duka. Kita turunkan personel Shabara dengan tujuan jangan sampai ada pengambilan paksa jenazah di tengah jalan,” ungkap Kapolresta.

Ia dengan tegas meminta warga masyarakat untuk jangan lagi memaksakan kehendak menjemput paksa jenazah pasien Covid-19. Karena selain berpotensi menularkan penyakit. Juga berpotensi melanggar hukum. “Ini bukan apa-apa ya. Yang kena dampaknya juga masyarakat. Itu bisa menularkan Covid itu sendiri,’’ katanya.

Perwira polisi melati tiga ini juga menegaskan, Kepolisian siap menindak tegas dan memproses hukum pihak yang mengambil paksa jenazah Covid-19. “Siapa yang melakukan dan menyuruh melakukan. Itu semuanya bisa kita tindak. Kita bisa tangkap dan proses. Kepada masyarakat juga jangan coba-coba untuk mengambil paksa jenazah Covid-19,’’ tegas Kapolresta.(JK/NK)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.