Keluarga Aisyah, Bocah Penderita Tumor Berujung Gizi Buruk di KSB Apresiasi Perhatian Pemda dan Donatur

KabarNTB, Sumbawa Barat – Aisyah, seorang bocah perempuan yatim piatu berusia 5,5 tahun, warga Kelurahan Dalam Taliwang, kini menjalani perawatan di RSUD Asy Syfa Sumbawa Barat. Ia dirujuk dari Puskesmas Taliwang sejak 21 Oktober lalu.

Bocah Aisyah yang mengalami penyakit tumor yang menyebabkan tubuhnya tidak bisa mencerna makanan sehingga membuat kondisi fisiknya lemah dengan tubuh kurus, sebelumnya sempat viral di media sosial. Adalah Apriyani dengan akun facebook @Apriyani Kue Dan Katering yang pertama kali memposting kondisi Aisyah di media sosial pada 20 Oktober 2020 lalu. Postingan berisi foto Aisyah dalam posisi digendong lengkap dengan caption donasi itu langsung dibanjiri komentar netizen dan dibagikan 170 kali. Bukan hanya di Facebook, perihal kondisi Aisyah juga juga beredar di grup-grup WA.

Selain donasi langsung dari berbagai kalangan, sejumlah kelompok masyarakat juga berinisiatif turun ke jalan di dalam Kota Taliwang, menggalang donasi untuk Aisyah.

Aisyah, bocah penderita tumor yang menyebabkan tubuhnya tidak bisa mencerna makanan yang berujung pada gizi buruk saat ini menjalani perawatan di RSUD Asy Syfa KSB

Apriyani yang merupakan saudara dekat dari Nenek yang selama ini merawat Aisyah, mengaku sangat bersyukur atas kepedulian masyarakat terhadap kondisi bocah tersebut.

“Kami atas nama keluarga menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya atas donasi dan kepedulian yang telah ditunjukkan masyarakat. Dinas Kesehatan dan Pimpinan aerah juga sudah berjanji untuk membantu, walaupun sebelumnya bantuan juga sudah diberikan,” ungkap Apriyani yang ditemui KabarNTB, Sabtu sore 24 Oktober 2020.

Apriyani juga menceritakan secara tentang latar belakang keluarga Aisyah. Kedua orang tua Aisyah sudah meninggal dunia. Saat masih hidup orang tua Aisyah tinggal menumpang di rumah kakek neneknya di lingkungan Baleong Kelurahan Dalam. Ibu Aisyah jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia saat Aisyah masih berumur 1,5 tahun. Di usia 3 tahunan, giliran sang Ayah meninggal, disebabkan penyakit kanker getah bening. Sejak kematian kedua orang tuanya, praktis Aisyah sepenuhnya dirawat oleh neneknya.

“Neneknya, sudah berkorban luar biasa sebagai tulang punggung keluarga, karena seluruh biaya perawatan dari suami sampai anak dan menantunya beliau yang tanggung,” bebernya.

Tahun 2017 bocah Aisah mulai sakit-sakitan. Tahun 2018, pemerintah daerah KSB melalui dinas kesahatan dan Puskesmas Taliwang mulai mengintervensi dalam hal perawatan Aisyah. Ada juga petugas khusus dari Puskesmas Taliwang yang bertugas memantau kondisi kesehatannya. Tahun 2019, Pemda KSB melalui Dikes mulai memberikan bantuan asupan nutrisi berupa makanan tambahan dan susu secara rutin. Bantuan untuk Aisyah juga datang dari Baznas dan Dinas Sosial KSB.

“Kami berterimakasih kepada Pemerintah KSB yang sangat peduli terhadap Aisyah. Karena sejak awal sudah banyak sekali bantuan yang diberikan melalui Dikes, Puskesmas, biaya BPJS, Dinas Sosial dan Baznas,” terang Apriyani.

Tahun 2019 Aisyah dibawa neneknya ke Mataram. Aisyah saat itu sempat menjalani rawat inap selama 3 minggu. Selama perawatan, perkembangan gizi Aisyah bagus. Namun dari hasil cityscan, ternyata ada tumor didalam tubuh bocah malang itu. Benjolan tumor tersebut berada di dekat hati Aisyah.

Oleh Puskesmas Taliwang Aisyah langsung dirujuk ke RSUD Asy Syfa yang selanjutnya merujuk ke Rumah Sakit Sanglah di Denpasar Bali untuk tindakan lebih lanjut.

Selama 3 bulan di Bali, Aisyah menjalani perawatan untuk perbaikan nutrisi dan mengecilkan ukuran benjolan tumor yang dideritanya. Perkembangannya saat itu cukup bagus. Ukuran benjolan yang semula 8 cm menyusut menjadi 2 cm. Perkembangan yang baik ini membuat Tim Dokter di RSUD Sanglah menjadwalkan tindakan operasi pengangkatan tumor Aisyah pada bulan Februari 2020. Namun saat jadwal operasinya akan dilaksanakan, Aisyah mengalami sakit demam dan batuk yang menyebabkan dokter mengambil keputusan menunda operasi. Dokter selanjutnya menjadwalkan operasi di bulan Maret 2020.

“Di Bulan Maret wabah Covid-19 mulai merambah Indonesia dan Provinsi Bali saat itu merupakan salah satu daerah yang paling banyak kasus positifnya. Jadi pihak keluarga tidak bisa membawa Aisyah ke Bali untuk menjalani operasi,” beber Apriyani.

Tiga minggu lalu, tepatnya di awal Oktober, kondisi Aisyah drop Sepulang dari Sumbawa. Dalam dua minggu terakhir kondisinya terus menurun. “Ia kehilangan nafsu makan. Tetap ada suplai nutrisi tambahan dari Dikes, tapi ia tidak mau makan sama sekali. Itu yang membuat berat badannya turun drastis menjadi 7,9 Kg dan fisiknya lemah,” terang Apriyani.

Melihat kondisi Aisyah yang drop, Apriyani mengusulkan untuk membawa Aisyah ke Mataram atau ke Bali untuk menjalani perawatan seperti sebelumnya. Namun Nenek Aisyah menolak karena tidak punya uang untuk biaya transportasi dan akomodasi selama menjaga Aisyah jika dirawat. Biaya perawatan Aisyah memang ditanggung BPJS. Tetapi biaya hidup keluarga yang menunggui dan biaya lain-lain tidak ada sama sekali.

“Dari situ, saya berinisiatif mengangkat masalah ini ke media sosial untuk menggalang donasi untuk membantu agar Aisyah bisa dibawa untuk dirawat,” ucapnya.

Apriayani menegaskan, Ia dan pihak keluarga tidak menyalahkan pemerintah terkait kondisi Aisyah. Menurutnya, pemerintah telah memberikan pelayanan dengan baik termasuk membantu dalam hal perawatan dan pemantauan kondisi kesehatan Aisyah.

“Ini yang ingin saya klarifikasi, bahwa saat itu kami dalam kondisi tidak berdaya, tidak memiliki apapun yang bisa kami pakai untuk bantu Aisyah, sehingga kami berfikir singkat bagaimana caranya agar cepat ada biaya untuk membawanya menjalani perawatan dengan menggalang donasi dari masyarakat lewat media sosial,” imbuhnya.(EZ)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.