Kyai Zul Jadi Imam Sholat Jenazah, Suasana Duka Iringi Pemakaman Mala Rahman

KabarNTB, Sumbawa Barat – Suasana duka keluarga, kerabat, sahabat dan kolega serta ribuan pelayat mengantarkan jenazah mantan Wakil Bupati Sumbawa Barat dua periode, H Mala Rahman ke peristirahatan terakhir di Pemakaman Umum ‘Tabola’ Kelurahan Menala, Kota Taliwang, Selasa pagi 17 November 2020.

H Mala Rahman meninggal dunia di kediamannya di Lingkungan Kota Baru Kelurahan Dalam, Kota Taliwang, pada Senin sore 16 November 2020. Sebelumnya Almarhum sempat menjalani perawatan di RSUP NTB di Mataram karena sakit.

Sebelum dibawa ke pemakaman, jenazah H Mala Rahman disholatkan di Masjid Agung Darussalam Kompleks Kemutar Telu Centre (KTC). Wakil Bupati KSB non aktif, Fud Syaifuddin dan sejumlah tokoh lainnya nampak hadir. Mantan Bupati Sumbawa Barat dua periode, KH Zulkifli Muhadli (Kyai Zul) bertindak sebagai imam sholat jenazah.

KH Zulkifli Muhadli (Kyai Zul) menjadi imam sholat jenazah Almarhum H Mala Rahman di Masjid Agung Darussalam Kompleks KTC Taliwang

Kyai Zul, Masjid Agung Darussalam, bahkan komplek KTC Taliwang, memiliki keterikatan yang kuat dengan Almarhum. Kyai Zul adalah Bupati yang didampingi Almarhum dalam dua periode kepemimpinan di Tana Pariri Lema Bariri.

Sejarah mencatat, pasangan Kyai Zul – Mala Rahman merupakan Bupati – Wakil Bupati definitif pertama Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) setelah terbentuk pada 20 November 2003. Sebelum mereka menjabat usai memenangkan Pilkada tahun 2005, kepemimpinan di KSB diisi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati yang dijabat oleh Almarhum Drs. HA. Wahab Yasin.

Sebagai pempimpin definitif pertama, pasangan Kyai Zul – Mala Rahman merupakan peletak dasar ‘Peradaban Fitrah’ yang menjadi spirit utama pembangunan di KSB. Simbol peradaban fitrah ini tergambar dari tata letak bangunan inti di Kompleks KTC (pusat pemerintahan KSB) yang mereka bangun di periode pertama kepemimpinan sebagai Bupati – Wakil Bupati. Yakni Masjid Agung Darussalam (di ujung barat), Tugu Syukur yang berdiri di jantung kompleks dan Graha Fitrah dan graha bhakti praja (gedung Setda) yang tegak lurus menghadap ke arah Masjid Agung Darussalam (kiblat) di kelilingi oleh bangunan gedung perkantoran dinas / instansi.

Suasana pemakaman Almarhum H Mala Rahman di Pemakaman Umum Tabola Kelurahan Menala

Hubungan antara Kyai Zul – H Mala Rahman sebagai pemimpin terbukti kuat. Menghadapi periode kedua saat akan mencalonkan diri di Pilkada 2010, Kyai Zul tetap memilih Mala Rahman sebagai pendampingnya sebagai calon wakil bupati. Pasangan ini, saat itu mencetak sejarah sebagai satu-satunya pasangan petahana di NTB yang tetap bersatu dan kembali berpasangan mencalonkan diri untuk periode kedua.

Padahal begitu banyak figure lain, baik dari kalangan professional maupun yang didorong partai politik yang mengincar posisi sebagai calon wakil Kyai Zul. Di detik-detik terakhir, menjelang berakhirnya masa pendaftaran ke KPU, Kyai Zul menelpon H Mala Rahman yang saat itu sedang melaksanakan ibadah haji di Mekkah dan mengajaknya kembali maju sebagai pendamping di Pilkada. Pasangan ini tetap solid sampai berakhirnya periode kedua kepemimpinan mereka di tahun 2015.

Ketika kabar mengenai wafatnya H Mala Rahman tersiar pada Senin sore 16 November 2020, Kyai Zul bersama istri, merupakan salah satu orang yang pertama melayat ke rumah duka di Lingkungan Kota Baru Taliwang. Hari ini, untuk terakhir kalinya, Kyai Zul kembali menunjukkan bahwa H Mala Rahman tidak sekedar pendamping sebagai pemimpin, tetapi juga keluarga sekaligus sahabat. Ia menjadi imam sholat jenazah dan ikut mengantarkan ke peristirahatan terakhir di pemakaman umum ‘Tabola’ Kelurahan Menala, sekaligus memimpin do’a untuk sahabatnya itu.

Saat menyampaikan kata hati atas nama keluarga, Kyai Zul menyatakan Almarhum H Mala Rahman tidak bisa dilepaskan dari sejarah KSB. “Sudah banyak kawan-kawan kita yang ikut berjuang melahirkan KSB yang telah pergi mendahului kita. Hari ini wakil bupati 10 tahun meninggalkan KSB. Semua kita akan pergi. Tidak ada diantara kita yang tidak akan pergi meninggalkan dunia ini. Hidup ini hanya dua, kita akan meninggalkan apa yang kita cintai, atau yang kita cintai itu akan meninggalkan kita,”.

“Saya biasa memanggil beliau dengan Pak Mala. Tidak dengan panggilan lain, Mudah-mudahan Allah terima amal kebaikannya, diampuni dosa kesalahannya, diberikan rahmat oleh Allah SWT, diberikan syafaat oleh Rasulullah SAW. Keluarga yang ditinggal tetap beriman, ikhlas dan sabar, anak-anaknya menjadi anak yang soleh, yang selalu mendoakan,” harapnya.

Innalillahi Wainnailahi Raajiun.. Selamat Jalan Drs. H. Mala Rahman.(EZ)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.