Berkat ‘Armada Semut’ Penghasilan Nelayan KSB Naik Lima Kali Lipat

KabarNTB, Sumbawa Barat – Penambahan armada tangkap nelayan di Kabupaten Sumbawa Barat naik lima kali lipat sejak program bantuan alat tangkap digulirkan pada 2016 lalu melalui Program Daerah Pemberdayaan Gotong Royong (PDPGR).

Kepala Bidang Perikanan Tangkap, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) KSB, Noto Karyono, mengatakan, sebelum program PDPGR berupa bantuan perahu lengkap dengan mesin dan alat tangkap digelontorkan, rata-rata penghasilan kotor nelayan di KSB sebesar Rp 176 ribu per hari.

“Setelah dikurangi biaya operasional (BBM dan lain-lain) setiap nelayan per hari rata-rata hanya membawa pulang Rp 97 ribu net / hari. Ini karena alat tangkap yang sangat terbatas dan masih tradisional,” jelas Noto.

Tim DKP KSB berfoto bersama ratusan sampan ‘armada semut’ yang telah dibagikan kepada para nelayan pada 2017 lalu

Sementara sejak program PDPGR digelontorkan, pendapatan nelayan naik lima kali lipat. Itu terjadi karena sarana tangkap seperti perahu dan alat apungnya relatif lebih modern.

“Dalam lima hari melaut rata – rata nelayan mendapatkan penghasilan kotor sebesar Rp 3 juta – 3,5 juta. Jadi kalau dikalkulasikan sekitar Rp 800 ribu per hari,” jelas Noto.

Perubahan alat tangkap ini, sambungnya, juga berpengaruh pada komoditas tangkapan para nelayan. Sebelumnya nelayan hanya menangkap jenis palagis kecil dan ikan dasar.

Saat ini ada komoditas baru yang ditangkap nelayan, yakni komoditas gurita. Nelayan penangkap gurita ini bergabung dalam suatu komunitas dengan anggota mencapai 35 sampan.

Sekali turun melaut (4 hari). Hasil pendataan oleh DKP, per periode melaut, satu sampan minimal memperoleh tangkapan 100 kg (satu kuwintal).

“Per kg harganya Rp 52 ribu dikalikan 100 kg maka uang yang didapat Rp 5,2 juta. Dipotong biaya operasional sekitar Rp 1,5 juta maka pendapatan bersihnya sekitar Rp 3,5 juta per 4 hari melaut,” urainya.

Pemda KSB sebut Noto, sejak 2016 telah menyalurkan bantuan sampan dan alat tangkap untuk nelayan laut lebih dari 1.000 unit. Bantuan sampan ini disebut sebagai ‘armada semut’. Tahun 2018 ini bantuan masih akan dialokasikan Pemda untuk para nelayan pemegang kartu Bariri Nelayan yang belum mendapatkan bantuan.

“Tahun ini bantuan khusus untuk nelayan laut, karena nelayan Lebo’ sudah tuntas di tahun 2017 kemaren. Saat ini sedang proses pengadaan,” tandas Noto.

Pola penyaluran bantuan sampan dan alat tangkap ini sama dengan pola bantuan PDPGR lainnya, dimana setiap nelayan penerima diwajibkan menabung di bank yang ditunjuk Pemda sebesar 10 persen dari total nilai bantuan yang diterima.

Tabungan itu baru bisa dicairkan setelah mencapai nilai 120 persen dari nilai bantuan. Artinya para penerima bantuan PDPGR diajarkan untuk menabung karena tabungan itu tidak dicicil untuk membayar bantuan yang diterima kepada Pemda, tetapi dibayarkan kepada diri mereka sendiri.(EZ)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.