Budidaya Lele Sumbawa Butuh Intervensi Pemasaran dari Pemerintah

KabarNTB, Sumbawa – Usaha budidaya lele di Kabupaten Sumbawa mulai menggeliat. Masyarakat antusias menggeluti usaha tersebut dan cukup berhasil.

Namun produksi yang berlimpah itu tidak diikuti denganńnnb6y6ý suksesnya pemasaran. Yang terserap pasar hanya beberapa persen. Pasalnya pasokan dari luar tidak bisa dibendung. Pedagang dan pengusaha warung makan yang menjadi market kelompok budidaya ini mengambil pasokan dari luar daerah (dari Lombok dan Pulau Jawa). Jika kondisi ini terus dibiarkan bisa mengancam usaha budidaya masyarakat lokal yang ada di Sumbawa. Padahal para konsumen jauh lebih untung jika bekerjasama dengan kelompok budidaya lokal tersebut.

Ketua kelompok Budidaya Lele “Dea papin” Desa Pernek, Kecamatan Moyo Hulu, Supriadi kepada wartawan menjelaskan, Budidaya lele yang selama ini ia kembangkan sudah mencapai puluhan kolam.

Anggota kelompok budidaya lele di Desa Pernek melakukan panen. Kesuksesan budidaya ini dihadang persoalan pemasaran

“Ada kolam bibit lele berbagai ukuran, lele remaja hingga lele konsumen. Perlakuannya pun berbeda termasuk pakan yang diberikan. Untuk bibit, satu kolam bisa mencapai puluhan ribu ekor. Demikian dengan ikan lele konsumen yang siap dipasarkan satu kolam berisi 1 ton lele,” jelasnya, saat menerima kunjungan kelompok wartawan yang tergabung dalam Jurnalis Bangku Belakang (BaBe), Rabu 4 april 2018 lalu.

Menurut Sapriadi, kelompoknya bisa menghasilkan bibit sekitar 30 ribu ekor atau 3 ton per bulannya. Untuk lele konsumsi mencapai 1 ton per bulan.

“Memang untuk memenuhi kebutuhan pasar Sumbawa yang mencapai 5 ton per bulan belum mencukupi. Jadi kami membina sejumlah kelompok budidaya mitra sehingga mampu menghasilkan lebih dari kebutuhan pasar,” ungkapnya.

Menurutny, salah satu kunci sukses budidaya lele adalah kebersamaan. Dengan kebersamaan ia dengan kelompok binaanya telah mampu memenuhi kuota pasar Sumbawa.

Yang menjadi kendala uatama bagi mereka adalah pemasaran yang terkesan begitu sulit. Usahawan lokal ini mesti berhadapan dengan pasokan lele dari Pulau Lombok dan Pulau Jawa. Para konsumen juga telah membentuk kelompok yang telah lama menjalin kerjasama dari pemasok luar daerah.

“Pemasok dari dua pulau itu menguasai 88 persen pasar Sumbawa, kami dapat sisanya,” ujar Sapriadi.

Padahal menurutnya, banyak keuntungan jika mengambil lele dari pengusaha lokal. Pengiriman yang singkat, juga harga yang sangat kompetitif. Sedangkan pasokan dari luar, terkadang ada beberapa yang mati dalam proses pengiriman.

Tapi pemasok luar tidak hilang akal. Mereka mengirim lele remaja kemudian dibudidaya di Sumbawa selama beberapa minggu, setelah lele dewasa baru dijual.

Masalah lain yang dihadapi kelompok budidaya lele lokal, adalah persoalan pakan. Tingkat biaya produksi lele di pakan mencapai 85%. Ketika biaya pakan bisa ditekan maka biaya produksi akan turun.

Untuk itu sangat dibutuhkan intervensi pemerintah daerah dalam mengatasi persoalan ini. Misalnya membuat regulasi untuk membatasi pasokan dari luar, serta memberikan subsidi pakan sehingga biaya produksi bisa ditekan.

Sejauh ini untuk bisa bertahan dan menjaga animno maupun semangat masyarakat lokal dalam budidaya lele. pihaknya menjalin kerjasama dengan BUMDes dan Ponpes Dea Malela, terutama dalam hal pembibitan dan pemasaran. Tak hanya itu ikan lele dipasarkan dalam bentuk siap santap yang dititipkan melalui para pedagang keliling. Metode lain adalah door to door. Dari berbagai cara ini hasil budidaya bisa dipasarkan sebanyak 3 ton.

“Keberadaan regulasi yang mengatur tata kelola budidaya dan pemasaran penting dipikirkan Pemda dan DPRD untuk keberlangsungan kelompok kelompok budidaya yang ada,” demikian Sapriadi.(JK)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.