Kisah Setiasih, Kehilangan 11 Keluarga dan Hidup Prihatin di Pengungsian

KabarNTB, Lombok Tengah – Tenda berdiri dimana-mana, di sepanjang pinggir jalan dan lapangan. Gempa 6.8 Skala Richter (SR) pada 29 Juli, disusul gempa utama dengan magnitudo 7.0 SR pada Ahad 5 Agustus dan gempa susulan 6.4 SR pada 9 Agustus 2018 telah memporakporandakan pemukiman warga, perkantoran, sekolah dan fasilitas umum lainnya di sebagian besar wilayah pulau Lombok.

Ratusan jiwa melayang, sebagian besar tertimbun dibawah puing – puing bangunan yang roboh, dan ratusan ribu jiwa mengungsi. Mereka yang mengungsi diliputi trauma dan perasaan was was karena sampai sekarang, gempa susulan masih saja terjadi. Bahkan untuk pulang melihat kondisi rumahnya pasca gempa, banyak pengungsi yang enggan.

Setiasih dan anak bungsunya di lokasi pengungsian di Masjid Agung Praya, Lombok Tengah

Di lokasi pengungsian di area Masjid Agung Lombok Tengah, kami bertemu Setiasih, Warga Tanjung, Lombok Utara, yang menjadi salah satu kecamatan terdampak gempa paling parah. Kondisi Setiasih cukup memperihatinkan. Untuk makan di pengungsian, Ia bergantung pada sumbangan dari warga dan pengunjung masjid. Terkadang Ia mesti menepis perasaan malu dan meminta – minta di kompleks perkantoran tidak jauh dari masjid raya.

Setiasih, adalah seorang Ibu, berumur 30-an tahun. Di pengungsian, ia tinggal bersama anak bungsunya. Ia menyimpan cerita pilu, salah satu bagian yang tersisa dari peristiwa gempa dahsyat yang mengguncang Pulau Lombok tanah kelahiran dan tempat tinggalnya.

Ia berusaha terlihat tegar dengan melempar senyum ketika kami bertemu. Seorang anak lelaki berusia sekitar 9 tahun duduk menempel disampingnya. Dia adalah anak bungsu, sekaligus satu-satunya anak Setiasih yang selamat dari peristiwa gempa.

Meski berusaha tegar, kesedihan berbalut trauma tetap tergambar jelas dari balik sorot mata Setiasih. Ia memulai kisah dengan menceritakan suasana kampungnya di Dusun Montong, Desa Jenggala, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara. Kampung itu asri dan indah. Warganya yang mayoritas petani peternak, hidup rukun dan damai.

“Berita yang saya dapat, rumah saya telah rusak. Demikian pula kampung saya, hancur,” ucapnya lirih.

Namun yang paling membuat hati Setiasih hancur berkeping-keping adalah kabar bahwa anak sulungnya meninggal tertimpa reruntuhan rumah dalam peristiwa gempa 7.0 SR pada Ahad petang 5 Agustus lalu. Ia mengaku sangat menyesal tidak berada dirumah saat kejadian itu.

Hari Sabtu (4 agustus) sehari sebelum gempa 7.0 SR, Suaminya menyampaikan keinginan untuk melihat Masjid Agung Praya, di Lombok Tengah. Sudah lama sang suami mendengar tentang kemegahan masjid tersebut. Namun belum ada kesempatan untuk melihat langsung dan sholat didalamnya. Ia memutuskan mengajak istrinya, Setiasih, kesana. Merekapun berangkat membawa serta si bungsu.

Namun suami Setiasih mendapat firasat buruk, sehingga Ia memutuskan untuk menginap satu malam dirumah keluarganya di Praya. Firasat itu menjadi kenyataan. Ahad petang, saat warga sedang khusuk melaksanakan sholat Isya di masjid, gempa dahsyat itu terjadi. Semua panik. Semua berusaha menyelamatkan diri ditengah deru suara bangunan yang roboh dan teriakan – teriakan pilu meminta pertolongan.

Setiasih, beserta suami dan anak bungsunya berhasil selamat. Tetapi dari kampungnya di Lombok Utara Ia mendapat kabar anak sulungnya tewas. Pun 11 orang keluarga dekatnya yang lain. Mereka tidak berhasil menyelamatkan diri ketika gempa mengguncang dan merobohkan bangunan-bangunan tempat mereka berlindung.

Keesokan harinya, dia menerima kabar bahwa rumah mereka sudah ambruk, menimpa anak sulungnya yang dinyatakan meninggal dunia. Duka tersebut dimulai dari hari itu.

Setiasih tak dapat menggambarkan betapa besar keinginannya untuk pulang, untuk melihat kondisi rumahnya yang roboh, dan tentu saja untuk melihat jenazah anak sulungnya terakhir kali. Tetapi kondisi, dimana gempa susulan masih terus terjadi, memaksanya mesti bertahan di pengungsian.

“Saya ingin pulang. Sejak kabar mengenai anak saya meninggal dan rumah roboh, saya ingin pulang. Tapi suami memutuskan untuk bertahan dulu disini sampai situasi benar-benar aman,” ujarnya, sembari menyeka air mata.

Kini Setiasih menjadi satu diantara ratusan ribu jiwa yang terpaksa tinggal di pengungsian. Ia tidak keberatan, meski harus hidup sangat prihatin di tempatnya saat ini. Namun Ia sangat berharap rumahnya di Lombok Utara sudah didata oleh pihak pemerintah disana, dan bisa mendapatkan bantuan seperti korban lainnya.

“Ini musibah yang datang dari tuhan. Saya harus menerimanya dan saya ikhlas,” ucapnya.(DK)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.