KSB Daerah Pertama di Indonesia Ekspor Rumput Laut Hasil Budidaya Sistem Kerambah

KabarNTB, Sumbawa Barat – Kabupaten Sumbawa Barat menjadi daerah pertama di NTB dan di Indonesia yang berhasil melaksanakan ekspor rumput laut hasil budidaya dengan metode kerambah.

Ekspor perdana rumput laut itu dilaksanakan pagi tadi di Pantai Moro, Desa Sagena Kecamatan Poto Tano dengan tujuan negara Tiongkok.

Program budidaya rumput laut sistem kerambah saat ini dikembangkan oleh 45 kepala keluarga (KK) warga Sagena yang merupakan kelompok binaan program Community Development (Comdev- pengembangan masyarakat) PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PTAMNT).

Bupati Sumbawa Barat HW Musyafirin didampingi GMO PTAMNT Wudy Nugroho menggunting pita tanda pelepasan armada yang membawa rumput laut Sagena untuk ekspor ke Tiongkok, Kamis 8 Maret 2018

“Volume ekspor perdana ini sebanyak 15 ton dari area tanam seluas 1 are (100 meter persegi). Hasil ini menunjukkan budidaya sistem kerambah jauh lebih menguntungkan dari sistem long line atau patok dasar yang sebelumnya digunakan oleh petani rumput laut di KSB,” ujar Manager Comdev PTAMNT, Bambang Triharyono, dalam laporannya.

Senior Manager Community Relation (Comrel) PTAMNT, Syarafuddin Jarot, menjelaskan, untuk pengembangan budidaya rumput laut sistem kerambah ini, PTAMNT menggandeng PT Costalindo Sumbawa Energi, perusahaan yang telah berpengalaman melaksanakan budidaya sistem kerambah di Sulawesi Selatan.

“KSB menjadi daerah kedua di Indonesia yang menggunakan sistem ini. Hasilnya, sesuai paradigma baru program Comdev yang kami terapkan, jauh lebih menguntungkan dan usaha ini akan berkelanjutan karena potensi lahan yang kita miliki di KSB masih sangat luas,” urai Jarot.

Ia menjelaskan, budidaya sistem kerambah memiliki keunggulan karena tidak membutuhkan lahan yang luas. Kalau sistem patok dasar, kelemahannya lahan yang bisa ditanami sangat terbatas karena tergantung kontur dasar laut. Sedangkan sistem long line beresiko tinggi terhadap pasang surut air laut dan ancaman line putus akibat tertabrak perahu atau ikan sehingga kurang efisien.

Dengan sistem kerambah, lahan yang dibutuhkan sangat minim yang berimbas pada modal yang bisa ditekan dan produksi mencapai dua kali lipat.

“Jadi kesejahteraan petani bukan mimpi dengan sistem ini,” ucap Jarot seraya mengajak masyarakat khususnya di daerah pesisir KSB untuk ikut terlibat dalam mengembangkan budidaya rumput laut sistem kerambah.

Jarot menyatakan optimis program budidaya sistem kerambah bisa berkelanjutan mengingat potensi lahan yang sangat luas dan pangsa pasar rumput laut di dunia masih terbuka lebar.

“Ekspor perdana ini memang jumlahnya masih sedikit, itu karena kita masih fokus pada pengembangan dan peningkatan kemampuan petani dalam budidaya,” ujarnya.

Model kerambah yang digunakan untuk budidaya rumput laut sistem kerambah

Selain itu PTAMNT tidak hanya menggandeng perusahaan yang bertugas untuk melatih dan mendampingi petani dalam budidaya, tetapi juga memastikan ketersediaan pasar untuk menyerap produksi yang ada dengan menggandeng perusahaan eksportir rumput laut.

“Kuota ekspor yang ada sekarang mencapai 18 kontainer per bulan. Yang bisa kita penuhi baru 5 kontainer. Artinya masih banyak peluang. Kalaupun kuota terpenuhi masih banyak mitra dan jaringan pasar lain yang bisa kita cari jika memang produksinya besar,” jelas Jarot.

Feizal Benny Franke dari PT Coslindo Sumbawa Energi, mitra Comdev PTAMNT, mengatakan, potensi laut di KSB sangat cocok untuk budidaya rumput laut sistem kerambah, karena arus dan kondisi ombaknya sangat baik.

“Kami memang sempat kembangkan sistem ini di Sulawesi Selatan,  tetapi sekarang sudah berhenti karena keterbatasan lahan. Sementara disini potensi lahan masih sangat luas,” katanya.

Feizal juga menjamin bahwa kualitas rumput laut kerambah sama dan bahkan lebih baik dari kualitas rumput laut yang dibudidayakan dengan sistem long line atau patok dasar.

“Kualitasnya tidak menurun, bahkan lebih baik karena dengan kerambah rumput laut lebih terlindung dari lumut dan lebih mudah dibersihkan,” jelasnya.

Karena kualitas yang sangat baik itu, kata Feizal, harga beli dari petani oleh eksportir juga bersaing. Sementara untuk modal, satu are lahan modal yang dibutuhkan hanya sekitar Rp 25 juta. Per 45 hari panen bisa mencapai 7 ton (basah), dua kali lipat dari hasil panen sistem long line dan patok dasar.

“Saat ini harganya Rp 15 ribu per kg kering. Jika dikalkulasikan dengan hasil panen 6 – 7 ton rumput laut basah (600 – 700 kg rumput laut kering) petani bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp 6 – 7 juta per sekali panen,” jelasnya.

Bupati KSB, HW Musyafirin yang melepas ekspor perdana rumput laut Sagena, menyatakan apresiasi atas program pendampingan dan pembinaan Comdev PT. AMNT sehingga rumput laut Sagena bisa menembus pasar internasional. Terobosan-terobosan, paradigma bisnis berkelanjutan yang dilakukan PT. AMNT, kata bupati, tentu harus diadopsi Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Dinas Pertanian, juga Dinas Perikanan Kelautan sehingga kebutuhan pangan tidak bergantung dari daerah lain.
Dinas Kelautan dan Perikanan diminta bupati agar bersinergi dengan Comdev PTAMNT untuk mengembangkan budidaya ikan kerapu, salah satu program yang sedang digagas.

“Kita berharap ini bukan ekspor perdana seperti yang dulu pernah gagal, kemudian ini kedua kali, tapi ini perdana yang baru dan terus berlanjut seterusnya,” kata Bupati.

Hadir dalam kegiatan tersebut, General Manager Operasi (GMO) PTAMNT, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sumbawa serta Ketua Tim penggerak PKK dan Ketua GOW beserta jajaran Pemda dan masyarakat.(EZ/*)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.