LATS Pertanyakan Konsep Peragaan Busana di Jembatan SAMOTA

KabarNTB, Sumbawa — Bukan hanya warganet yang mengecam kegiatan peragaan busana bertajuk ‘Festival Tenun & Fashion’ dalam rangka Sail Moyo Tambora yang dilaksanakan di Jembatan SAMOTA pada Rabu malam 12 September 2018. Lembaga Adat Tanah Samawa (LATS) turut menyayangkan dan mempertanyakan konsep kegiatan yang dilaksanakan panitia penyelenggara.

Acara yang dihadiri oleh Bupati Sumbawa dan Kepala Dinas Pariwisata Propinsi NTB serta Anggota Forkopimda tersebut bertujuan sebagai ajang promosi kain tenun Sumbawa yang bermuara pada meningkatnya perekonomian masyarakat pengrajin tenun.

Namun LATS menilai dari sisi ranah adat dan budaya Tau Tana Samawa, dalam peragaan busana tersebut, ada beberapa penampilan peragawati yang tidak sesuai dengan adat budaya masyarakat Sumbawa.

Syukri Rahmat S.Ag, Sekretaris Majelis Adat LATS

“Kalau ditarik ke ranah adat dan budaya Tau Tana Samawa, tentu ini tidak sejalan. LATS dalam hal ini tidak memahami konsep yang dilakukan panitia, Kami sangat menyayangkan hal tersebut, dimana ada beberapa anak-anak gadis yang berlenggak lenggok memperagakan busana dengan paha terbuka di tempat umum,” ungkap Sekretaris Majelis Adat LATS, Syukri Rahmat, kepada KabarNTB, Kamis 13 September 2018.

Menurut Syukri, peragaan busana oleh tiga gadis remaja seperti foto yang banyak beredar dan dikecam di media sosial, sangat bertentangan dengan nilai adat dan budaya Samawa yang berpalsafah “Adat Barenti Ko Sara, Sara Barenti Ko Kitabullah”.

Kedepan LATS mengharapkan kepada panitia, agar mengemas event semacam itu dengan tetap melihat adat budaya dan tradisi masyarakat lokal. Karena lokasi event tersebut berada di Tana Samawa dan tentu yang menyaksikan adalah kebanyakan dari warga setempat serta tamu undangan lainnya.

”Saya salut dengan adanya event semacam itu yang memberi dampak positif juga pada perkembangan tenun daerah Sumbawa dan beberapa tenun dari daerah lain. Namun perlu dipertimbangkan kemasan yang akan ditampilkan juga oleh panitia,“ jelasnya.

Sementara terkait dengan beredarnya video latihan para peragawati di dalam Istana Dalam Loka dengan lengak lengok mengenakan sepatu lengkap, Syukri juga sangat menyayangkan hal tersebut.

Ia menjelaskan, Istana Dalam Loka adalah salah satu simbol dari harkat dan marwah Tau Tana Samawa, sehingga pun harus tetap dijaga marwahnya. Salah satu bentuk menjaga marwahnya dibuatlah aturan dan ketentuan, tidak boleh menggunakan sandal dan sepatu di istana seperti yang terlihat di dalam video.

”Saya berharap kita sama-sama menjaga Istana tersebut, kalau bukan kita siapa lagi,” tandasnya.(JK)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.