Masih Trauma, 23 Sekolah di KSB Belum Mulai Kegiatan Belajar Mengajar

KabarNTB, Sumbawa Barat – Gempa 7.0 SR yang mengguncang Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) pada 19 Agustus 2018 lalu, tidak hanya menimbulkan 4 orang korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan ribuan unit rumah dan fasilitas umum serta sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) KSB, Tajuddin, mengatakan 85 sekolah terdampak gempa dimaksud.

“20 sekolah Taman Kanak Kanak (TK), 50 Sekolah Dasar (SD) dan 15 sekolah menengah pertama (SMP),” ungkap Tajuddin, dalam kegiatan konfrensi pers penanggulangan dampak bencana alam gempa di Posko utama penanggulangan di kantor BPBD KSB, Senin sore 27 Agustus 2018.

Para siswa di salah satu sekolah dasar di Kota Taliwang menjelang kegiatan belajar mengajar di tenda darurat

Untuk TK, jumlah ruang kelas yang mengalami rusak berat sebanyak 25 unit (ruang kelas, perpustakaan, ruang kantor), rusak sedang 20 unit ruang dan rusak ringan 7 unit ruang kelas. Untuk SD, ruang kelas yang mengalami rusak berat sebanyak 41 unit (ruang kelas, kantor, ruang guru, perpustakaan), 30 unit ruang mengalami rusak sedang dan 24 unit ruang kelas rusak ringan.

Sedangkan untuk SMP, sebanyak 52 unit ruang kelas mengalami rusak berat, 47 unit ruang rusak ringan dan 24 unit ruang mengalami rusak ringan.

Dikpora sendiri, sesuai instruksi pimpinan daerah, telah meminta seluruh sekolah untuk mulai aktif melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) pada Senin (27/8) kemarin. Namun berdasarkan hasil pantauan tim yang dibentuk Dikpora di lapangan, ditemukan adanya trauma dikalangan siswa maupun guru.

“Akibatnya tidak semua sekolah berani melaksanakan kegiatan belajar di sekolah (dalam ruang kelas), walaupun tidak mengalami kerusakan yang berarti. Jadi itu juga sulit kami paksakan, sambil perlahan kami beri pemahaman,” jelasnya.

Selain itu, ditemukan juga fakta di lapangan bahwa ada 23 sekolah yang belum melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada Senin kemarin. Sekolah-sekolah tersebut, kata Tajuddin, terkendala dengan belum tersedianya tempa belajar darurat atau sementara. Sekolah – sekolah tersebut membutuhkan bantuan berupa tenda atau terpal untuk sekolah darurat.

“Sedangkan sekolah yang lain sudah mulai melaksanakan kegiatan walaupun berlangsung sampai jam 10 atau jam 11 siang. Besok (pihak sekolah) akan kami panggil kembali untuk membicarakan lebih tekhnis kegiatan belajar mengajar ini, apakah dengan double shift, masuk pagi dan siang,” imbuhnya.

Menanggapi persoalan tersebut, Bupati HW Musyafirin meminta agar Kepala BPBD KSB untuk segera membangun tenda – tenda untuk lokasi belajar sementara bagi para siswa di 23 sekolah dimaksud.(EZ)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.