Mengaku Salah dan Kecolongan, Desainer Fashion Street Sail Moyo Tambora Minta Maaf

KabarNTB, Sumbawa – Heboh tentang peragaan busana ‘Tenun dan Fashion Street Fest Sail Indonesia Moyo Tambora 2018’ yang dilaksanakan Rabu, 12 September 2018 di Jembatan Samota Kota Sumbawa Besar, akhirnya ditanggapi oleh desainer busana yang dikenakan para model dalam pagelaran tersebut.

Salah seorang desainer yang terlibat dalam peragaan busana itu, Ali Agysah, dalam peryataan resmi yang diterima Redaksi Jum’at sore 14 September 2018, menguraikan secara rinci persiapan sampai dengan dilaksanakannya peragaan busana yang melibatkan peragawan dan peragawati lokal Sumbawa itu.

Ali mengawali pernyataannya dengan menceritakan menceritakan tentang konsep dari acara fashion show tersebut. Berikut penjelasannya :

Salah satu foto peragaan busana yang berlangsung di atas Jembatan Samota yang ramai dikecam warganet

1. Acara pada malam itu diawali dengan penyajian sebuah tarian mistis yaitu tarian Dulang Pasangka yang dibawa oleh Sanggar Seni Riam Bagentar Desa Sebasang Kecamatan Moyo Hulu. Yang memiliki makna rasa syukur, rasa sukacita atas nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

2. Setelah penyajian itu, muncul 6 (enam) model memperagakan busana adat Sumbawa yaitu pakaian Sumbawa Salonang Antin, Busana Lonas Pabite, Busana Lante Gadu, Busana Ceremonial of Barodak, Busana Pangantan Basapu, dan Busana Palace Style. Dan dilanjutkan dengan parade kreasi kre alang yang diperagakan oleh ibu-ibu yang aktif di organisasi kewanitaan dan memiliki minat terhadap dunia fashion. Dua peragaan ini menggambarkan awal dimulainya sebuah peradaban yang berlandaskan budaya, spiritual, ketuhanan.

3. Setelah dua penyajian peragaan tersebut, muncul kelompok anak yang mempresentasikan gaun berbahan dasar tenun khas Sumbawa dan Bima. Disini kita menggambarkan keceriaan dari dunia anak-anak. Dari sini kami ingin menceritakan bahwa anak-anak akan membawa peradaban ini menuju ke hal yang lebih baik sebagai harapan dan dibekali dengan nilai-nilai budaya serta kearifan lokal.

4. Di peragaan ke empat kami menampilkan 3 model gadis remaja dan 10 model pria remaja, disini kami menceritakan tentang kehidupan remaja, yang tidak bisa kita pungkiri bahwa walaupun kita sudah membekali mereka dengan pendidikan aklaq, tapi setelah mereka menuju ke usia remaja, pengaruh dari lingkungan sangat berpengaruh terhadap pergaulan mereka. Inilah yang kami ceritakan melalui karya kami.

5. Peragaan selanjutnya, kita masuk kepada titik terendah kehidupan berupa manusia. Kami mengambil contoh bencana yang sedang menimpa NTB. Melalui 3 karya futuristic yang memiliki detail yang tidak biasa dan tidak beraturan yang menceritakan tentang bencana gempa yang baru saja menimpa NTB.

6. Selanjutnya peragaan ditampilkan dengan menghadirkan 5 model pria membawakan busana formal berbahan tenun NTB. Disini menjadi salah satu cara menceritakan tentang titik balik manusia setelah terkena bencana, memunculkan semangat untuk mencari lagi peradaban yang hampir hilang. Disini juga kita menampilkan 8 koleksi busana pesta modifikasi berbahan dasar tenun NTB dengan konsep muslimah. Yang mana kita menceritakan bahwa Sumbawa tidak buta dan mampu menerima gempuran globalisasi yang modern, namun tetap berpegang teguh pada syariat dan adat istiadat, dimana kita juga sangat memahami falsafah hidup Tau Samawa ADAT BARENTI KO SARA, SARA BARENTI KO KITABULLAH.

7. Dan terakhir show ditutup dengan penampilan 8 koleksi busana karya desainer Provinsi dan 10 koleksi busana karya desainer Nasional yang semuanya bertemakan busana pesta muslimah.

“Namun setelah pelaksanaannya, banyak muncul stigma negatif dari masyarakat, terutama warga net. Terkait salah satu dari koleksi kita yang dikatakan melanggar syariat yang ada di Tana Samawa,” tulisnya.

Ali mengaku kecolongan atas hal ini dan mengaku sangat menyadari bahwa hal itu murni kesalahan dirinya dan tim.

“Dan busana yang diperdebatkan sebenarnya bentukannya bukan seperti yang beredar saat ini. Tapi kami mendesain busana tersebut dengan menutup belahan, dan sayangnya tutupan belahan tersebut dibuat terpisah, dan ketika show akan dimulai, ternyata tutupan belahan tersebut ketinggalan di galeri desainer dan waktu tidak memungkinkan untuk mengambilnya, karena show segera dimulai,” jelasnya.

Karena itu, Ali mewakili tim desainer yang tergabung dalam Sumbawa Fashion Community (SFC) menyampaikan permohonan maaf kepada Pemerintah Kabupaten Sumbawa dan masyarakat Sumbawa atas ketidaknyamanan yang terjadi.

“Dan kami menjadikan hal ini sebagai suatu pembelajaran yang sangat berharga agar dikesempatan lainnya tidak akan mengulang hal tersebut, dan lebih memahami etika dan estika berbusana Tau Samawa,” imbuhnya.

Seperti diberitakan, acara fashion show yang menjadi bagian dari event Sail Indonesia Moyo Tambora Tahun 2018 itu, menuai kecaman dari masyarakat, khususnya warganet, karena menampilkan busaha terbuka yang mempertontonkan aurat. Kegiatan itu dituding tidak sesuai dengan adat istiadat Tau Tana Samawa yang memegang teguh palsafah “Adat Barenti Ko Sara, Sara Barenti Ko Kitabullah”.(JK/EZ)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.