Mengenal Mori Hanafi, Keturunan Ulama – Ulama Besar Bima yang Lebih Memilih Politik daripada Bisnis

Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat akan digelar 27 Juni 2018 mendatang.

Salah satu figur yang akan ikut bertarung di Pilgub NTB nanti adalah H Mori Hanafi. Politisi Gerindra yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD NTB itu akan bertarung sebagai calon wakil gubernur mendampingi TGH Ahyar Abduh sebagai calon Gubernur. Pasangan ini lebih dikenal sebagai Paket AMAN.

Yang menarik, meski bukan satu-satunya bakal calon dari Pulau Sumbawa (ada DR Zulkieflimansyah dari Sumbawa sebagai calon gubenur berpasangan dengan Hj Siti Rohmi Djalillah dan HM Amin, juga dari Sumbawa sebagai calon wakil gubernur berpasangan dengam HM Suhaili FT), namun Mori Hanafi merupakan satu-satunya bakal calon dari etnis Mbojo (Bima – Dompu). Fakta ini disebut sejumlah kalangan sebagai salah satu faktor menguntungkan bagi Mori Hanafi untuk meraup suara signifikan dari wilayah paling timur NTB itu.

Namun tidak banyak yang tahu siapa sesungguhnya Mori Hanafi, termasuk profile dan sepak terjangnya sebelum duduk di Udayana.

Mori Hanafi adalah putra kedua dari pasangan Alm Drs H Marwan Saridjo (Mantan Sekjen Kemenag) dan Ibu Hj. Kultsum binti HM Said. Ayah dan ibunya sama-sama asli Ngali, Kabupaten Bima. Dari silsilah kakek dan neneknya, Mori Hanafi adalah cicit Syeh Ali Zainab (berasal dari Sila Kananga yaitu bapak dari neneknya yang bernama Hj Zainab). Sementara dari garis keturunan ayahnya, Mori Hanafi adalah cicit dari TGH Abubakar bin Nawawi, yang akrab disapa Syeh Abubakar Ngali (yaitu bapak dari  HM Said, ayah dari Hj Kulsum binti HM Said, ibu Mori Hanafi).

Syaikh Abubakar Ngali adalah Ulama Besar yang ditunjuk oleh Sultan Ibrahim (Raja Bima) untuk menjadi Lebe Dalam dan Imam Besar di mesjid Sultan Bima mulai tahun 1911 silam.

Syaikh Abubakar Ngali ini bermukim di tanah suci Mekah menuntut ilmu agama Islam selama 12 tahun lamanya dan mendapat sertifikat SYAHDATUL TADRIS untuk mengajar di Masjidil Haram.

Kemudian HM Said, kakek Mori Hanafi (dari ibu), juga mendapat sertifikat SYAHDATUL TADRIS untuk mengajar di Masjidil Haram. Sedangkan H Marwan Saridjo, ayah Mori Hanafi setelah mengakhiri masa tugasnya sebagai Sekjen di Kemenag RI, mendirikan Ponpes Modern Al Mannar di Bogor Jawa Barat. H Marwan Saridjo juga merupakan pendiri Masjid Al-Manar yang megah berarsitek modern di Desa Kelahirannya Ngali.

Mori Hanafi sendiri merupakan lulusan S1 Ekonomi dari Universitas Pancasila Jakarta tahun 1995. Ia berhasil menyelesaikan S2 konsentrasi  Majanemen Ilmu Perdagangan Internasional pada 1996.

Mantan Ketua BEM Universitas Pancasila ini, mengawali karirnya di politik praktis pada  tahun 1999 saat terpilih sebagai anggota DPRD NTB dan kembali terpilih untuk kali kedua pada tahun 2014 dan diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD.

Perjalanan Mori Hanafi sampai terjun ke dunia politik tidak lepas dari peran ayahnya.
Seiring keadaan politik Indonesia pasca reformasi dimana keran demokrasi semakin terbuka, dalam sebuah diskusi kecil dengan sang ayah tentang masa depan Indonesia (NTB), utamanya masa depan Bima Raya,  cakrawala berfikir Mori Hanafi terbuka untuk berbuat lebih bagi masyarakat. Salah satu caranya adalah dengan terjun ke politik, untuk berjuang lewat parlemen maupun eksekutif. Keinginan itu didukung penuh oleh sejumlah koleganya yang merupakan petinggi Partai Gerindra.

Tahun 2008 ia resmi bergabung sebagai Kader Partai Gerindra dan menjabat sebagai Wakil Ketua DPD Partai Gerindra NTB.
Keinginan kuat untuk berbuat lebih bagi masyarakat itu pula yang membuat mantan Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) ini tidak ragu meninggalkan dunia bisnis dan beralih ke politik.

Padahal ia boleh dibilang telah sukses dengan bisnis yang digelutinya. Kala itu Ia memimpin beberapa perusahaan swasta yang boleh dibilang masuk kategori perusahaan bonafid, seperti PT CATUR WISATA yang bergerak di bidang Tour and Travel dan memiliki cabang di seluruh Indonesia, PT MORINDO MOTOR yang bergerak di bidang perbengkelan, salon mobil dan jual beli mobil.
Bukan itu saja, Mori Hanafi juga memimpin perusahaan beberapa perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi dan perusahaan periklanan luar ruang.

Sekilas tentang Dwi Tunggal Ahyar-Mori

Pasangan Ahyar – Mori disebut sebagai pasangan ideal karena merupakan refresentasi dari keterwakilan dua pulau besar NTB, yakni Lombok dan Sumbawa. Karenanya, pasangan yang juga dikenal dengan sebutan Paket AMAN itu disebut pula sebagai Dwi Tunggal.

Konsep Dwi Tunggal, menurut Mori Hanafi adalah sebuah konsep yang paling tepat untuk NTB. Dimana pengertian Dwi Tunggal yakni dua yang dijadikan satu. Menyatukan dua kekuatan besar di NTB.

“Kekuatan itu tak lain adalah Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, untuk menjadi satu kekuatan menuju NTB yang memakmurkan warganya, membangun dan memajukan NTB yang adil, sejahtera, transparan, penuh kebersamaan tanpa ada perbedaan, cinta keberagaman dan merata dalam membangun sekaligus menata NTB lebih baik bersama-sama dengan moto Ahyar-Mori : ‘NTB Untuk Semua’,” urainya.(Bobby/*)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.