Pembayaran Molor, Sekolah Disegel, Istaka Karya Belum Bisa Beri Kepastian

KabarNTB, Sumbawa Barat – PT Istaka Karya, mengakui belum menyelesaikan pembayaran kepada sejumlah subkontraktor lokal yang mengerjakan rehab rekons sekolah-sekolah yang rusak berat akibat gempa di Sumbawa Barat.

Perusahaan BUMN ini memang ditunjuk pemerintah untuk melaksanakan rehab rekons fasilitas kesehatan, pendidikan dan tempat ibadah yang rusak akibat gempa yang terjadi pada Agustus – September 2018 lalu. Dalam perjalanannya, PT Istaka menunjuk sejumlah perusahaan lokal sebagai subkontraktor, termasuk perusahaan milik H Saiman yang menyegel ruang kelas SDN Seminar Salit, SDN Sapugara dan SDN Tepas Sepakat, kecamatan Brang Rea, pada Sabtu hingga Senin kemarin (30/9).

Baca juga : http://kabarntb.com/pembayaran-molor-subkontraktor-lokal-di-ksb-segel-bangunan-sekolah-korban-gempa/

“Kita memang masih belum ada uang pak,” ungkap Agus, perwakilan PT Istaka Karya di Sumbawa Barat yang dihubungi via sambungan telephon, Selasa 1 Oktober 2019.

Pintu ruang kelas SDN Seminar Salit, Kecamatan Brang Rea yang sempat disegel subkontraktor lokal karena belum menerima pembayaran penuh dari PT Istaka Karya

Agus membantah lambatnya proses pembayaran itu berkaitan dengan pencairan dana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ke Istaka Karya.

“Kita masih proses. Karena pembayaran itu kan harus melalui birokrasi dulu, nggak langsung dibayar tunai gitu,” ucapnya.

Baca juga : http://kabarntb.com/segel-sdn-seminar-salit-dibuka-h-saiman-jangan-bayar-terlalu-lama/

Meski demikian, Agus menyatakan persoalan dengan subkontraktor lokal yang sempat berujung pada penyegelan ruang kelas di sejumlah sekolah di kecamatan Brang Rea, sudah selesai dalam pertemuan yang difasilitasi Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) pada Senin siang 30 Oktober 2019.

“Sudah selesai,” ucapnya.

Soal kapan realisasi pembayaran tersebut, Agus menyatakan itu adalah kewenangan kantor pusat Istaka Karya.

“Waktu yang pasti belum, itu dari kantor pusat nanti. Kemarin itu Dikpora bersurat (ke kantor pusat Istaka). Kita menunggu suratnya dulu dari Dikpora,” imbuhnya.

Baca juga : http://kabarntb.com/bendungan-kerekeh-sumbawa-mulai-dibangun-awal-2021/

Agus juga mengakui bahwa dari 14 sekolah rusak berat akibat gempa yang ditangani Istaka, proses pembayarannya masih belum tuntas, meski pengerjaannya oleh para subkotraktor sudah selesai.

“Memang (pembayaran) harus sesuai dengan progress. Kalau sudah selesai baru kita ajukan untuk mendapatkan pencairan. Kita sudah sempat membayar 50 persen (kepada para subkontraktor),” pungkasnya.

Terpisah, kepala Dikpora, KSB, H Mukhlis, juga mengakui bahwa persoalan dengan subkontraktor lokal sudah selesai.

“Kemarin sudah bertemu, H Saiman dengan dua orang perwakilan Istaka. Saya diminta membuat surat ke kantor pusat Istaka dan sudah saya buat. Segelnya juga sudah dibuka,” ujar H Mukhlis.

H Mukhlis menyatakan pihaknya akan mengawal persoalan ini, agar kedepan tidak ada lagi aksi penyegelan yang bisa mengganggu proses belajar mengajar para siswa di sekolah.

“Kita disini hanya memfasilitasi dengan Istaka untuk penyelesaian pembayaran,” tandasnya.(EZ)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.