Pertemuan Tahunan IMF – Bank Dunia Pasca Gempa Lombok

*)Oleh :  Imam Wahyudi Indrawan

Pada tahun 2018, Indonesia memiliki sejumlah hajatan besar. Selain kegiatan Asian Games yang akan mengumpulkan negara-negara Asia ada kompetisi olahraga pada bulan Agustus, Indonesia juga akan menghelat pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia pada Oktober 2018.

Kegiatan ini bukanlah kegiatan tahunan biasa. Momentum untuk menjadi tuan rumah perhelatan ini tergolong sangat langka karena tradisinya, pertemuan tahunan IMF digilir setiap tiga tahun sekali di antara negara anggota dengan dua tahun berturutan diselenggarakan di markas IMF di Washington DC, Amerika Serikat. Mengingat bahwa ada 189 negara anggota di dalam IMF, ratusan tahun dibutuhkan Indonesia untuk mendapatkan kesempatan kedua menjadi tuan rumah kegiatan pertemuan tahunan ini.

Persiapan pemerintah sendiri tidaklah main-main untuk menghelat kegiatan yang rencananya akan diadakan di Pulau Bali ini. Menurut rilis di sejumlah media massa, pemerintah Indonesia telah menyiapkan pagu anggaran senilai Rp 855,5 miliar selama tahun anggaran 2017 dan 2018. Hal ini tidaklah mengherankan mengingat perkiraan delegasi yang hadir mencapai 15.000 orang dari 189 negara anggota IMF, utamanya delegasi para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral setiap negara anggota.

Namun kemudian yang menjadi pertanyaan, bagaimana manfaat dari agenda tahunan IMF-Bank Dunia ini dapat dirasakan secara lebih luas di Indonesia? Pertanyaan tersebut menjadi relevan mengingat besarnya anggaran yang digelontorkan pemerintah dan potensi ekonomi besar yang dapat digali dari jumlah delegator yang hadir di Bali.

Manfaat yang secara langsung dapat dirasakan adalah pada sektor pariwisata. Kunjungan para delegator dalam jumlah besar dan persiapan pemerintah tentu memperkuat dinamika pariwisata di Indonesia, khususnya di Pulau Bali sebagai tempat acara pertemuan tahunan digelar. Potensi ekonomi ini setidaknya akan mencakup perhotelan, transportasi, dan makanan dan minuman. Selain itu, pemerintah juga mencoba mengoptimalkan potensi pariwisata dengan menyiapkan enam destinasi wisata di luar Bali, yaitu Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Tana Toraja, Danau Toba, Banyuwangi, dan Candi Borobudur.

Destinasi wisata di wilayah luar Pulau Bali disiapkan agar para delegator yang hendak menghabiskan waktu di Indonesia dapat dilayani dengan sebaik-baiknya. Apabila dapat dioptimalkan, maka secara ekonomis, agenda tahunan IMF-Bank Dunia ini akan memberikan manfaat bagi pembangunan di daerah-daerah tujuan wisata.

Akan tetapi, pada 29 Juli dan 5 Agustus 2018, dalam selang waktu yang berdekatan, Pulau Lombok diguncang gempa besar yang berkekuatan antara enam hingga tujuh Skala Richter yang dapat dikatakan memporak-porandakan hampir seluruh infrastruktur di Pulau Lombok. Gempa ini sendiri juga berdampak pada Pulau Bali, Pulau Sumbawa dan Jawa Timur bagian timur yang berdekatan dengan Pulau Lombok. Maka rencana pemerintah untuk mengoptimalkan potensi pariwisata di sekitar Bali, utamanya Pulau Lombok menjadi tidak terlaksana.

Maka, kembali kepada pertanyaan di atas, yakni bagaimana mengoptimalkan pertemuan di atas agar dapat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia? Pemerintah harus dapat mendorong inisiatif-inisiatif perbaikan pembangunan global seperti isu keuangan global, perubahan iklim dan pemerataan kesejahteraan yang pada gilirannya dapat berbuah kebijakan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia. Dan yang lebih penting lagi, pemerintah dapat mengarahkan para delegator untuk datang ke Lombok dan sekitarnya.

Namun, hal ini bukan sekedar untuk berwisata semata, melainkan sebagai wujud kepedulian global atas bencana yang terjadi di Lombok. Kepedulian global atas bencana yang tampak di mata masyarakat adalah sinyal kuat para pejabat dunia untuk kelangsungan pembangunan global yang lebih baik. Pemerintah Indonesia dalam hal ini perlu menunjukkan kepemimpinan dan inisiatif yang kuat sehingga pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat global, termasuk masyarakat Lombok yang tengah diselimuti duka.(*)

*) Penulis adalah Mahasiswa Master of Economics, International Islamic University Malaysia

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.