Ratusan Hektar Padi dan Jagung Puso Akibat Kekeringan di Sumbawa

KabarNTB, Mataram – Kemarau panjang mengakibatkan ratusan hektar lahan pertanian di Kabupaten Sumbawa mengalami gagal panen atau puso. Lahan tersebut terdiri dari 53 hektar tanaman padi dan 73 hektar tanaman jagung.

“Lokasinya menyebar dibeberapa kecamatan. Untuk tanaman padi berada di Desa Marente 45 hektar, Desa Alas 7 hektar dan Desa Penyaring 1 hektar. Sementara untuk jagung berada di Kecamatan Buer seluas 73 hektar,” sebut Kepala Dinas pertanian Kabupaten Sumbawa, Ir. Sirajuddin kepada wartawan, Kamis 5 September 2019.

Kadis Pertanian menyatakan, pihaknya sedang menginventarisir tanaman yang puso. Kedepan ia berkeinginan agar lebih banyak petani yang ikut asuransi agar ketika terjadi puso bisa mendapat talangan.

“Kan sebenarnya yang perlu kita catat bahwa ada asuransi pertanian AUTP. Tapi itu juga ada mekanisme. Kenapa tidak kita upayakan kalau bisa kedepannya banyak petani kita masuk ke asuransi. 36 ribu perhektar, manakala terkena bencana alam, bisa Rp 6 juta perhektar penggantinya dengan kategori ketentuan,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian Sumbawa, Ir Sirajuddin

Selain puso, terdapat pula lahan yang terancam gagal panen berupa tanaman jagung seluas 30 hektar di Kecamatan Utan. Kemudian terancam kekeringan, untuk padi 757 hektar di Kecamatan Plampang dan untuk jagung sebanyak 1.767 hektar tersebar di Kecamatan Plampang 1.423 hektar, Moyo Hilir 256 hektar, Maronge 14 hektar, Lape 10 hektar, Moyo Utara 39 hektar dan Buer 25 hektar. Semuanya terletak di wilayah irigasi, namun telat dalam penyuplaian air.

“Ketika kondisi ini terus berlangsung, maka akan berdampak pada kekeringan. Saat ini kendalanya debit air kurang, karena tingginya penguapan di bendungan. Kedua jarak bendungan menuju areal persawahan jauh, panjang salurannya. Selain itu juga terjadi kebocoran di saluran atau dikenal pelompong liar,” ungkap Sirajuddin.

“Kalau Ada sumber air tempat kita naikkan, saya akan upayakan untuk pompanisasi. Dan itu saya sudah lakukan kemarin mulai di Lape. Ada tiga pompa yang saya drof. Di sini ada 8 pompa, tiga yang baru saya drop untuk pinjam pakai. Sehingga selesai itu kita tarik kembali untuk menjadi operasional kegiatan berkaitan dengan kekeringan,” tambahnya.

Untuk menghindari hal ini kembali terjadi, kedepan pihaknya akan lebih mengetatkan pola tanam para petani. Yaitu dengan berkolaborasi dengan pengamat pengairan, Camat, KUPT serta penyuluh pertanian.

“Saat ini juga tengah dibahas anggaran APBD 2020 mengenai pengadaan sumur bor. Sehingga dengan adanya sumur bor nantinya diharapkan dapat membantu daerah-daerah yang rutin mengalami kekeringan,” pungkasnya.(By)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.