Ribut Soal Pembangunan Hall di Mantar, Ini Penjelasan Dispar NTB

KabarNTB, Sumbawa Barat – Dinas Pariwisata NTB, angkat bicara terkait ribut-ribut tentang proyek pembangunan hall paralayang di Desa Mantar, Desa Poto Tano, Sumbawa Barat yang sebelumnya diprotes keras Ketua Mantar Paralayang Club (MPC) KSB, H Deden Zaedul Bahri.

Kabid Pengembangan Destinasi, Dinas Pariwisata NTB, L Kusuma Wijaya, kepada KabarNTB, mengatakan, program pembangunan hall itu berawal dari rasa prihatin atas kondisi hall sebelumnya yang sudah tidak layak.

Menurutnya, tiga kali berkunjung ke Mantar (terakhir sebelum pembangunan), kondisi hall dimaksud tidak ada perubahan, bahkan semakin memprihatinkan.

“Kalau dilihat (bangunan) awalnya bahaya. Tiangnya sudah diganjal pake bambu. Prihatin kita sebenarnya. Kalau itu memang jadi tempat orang paralayang, wisatawan, atlet terus ada kejadian bangunannya rubuh dan ada yang cedera, apa iya ada yang bertanggungjawab,” ungkap Kusuma Wijaya yang dihubungi via sambungan telephon, Ahad siang 8 September 2019.

L Kusuma Wijaya, Kabid Pengembangan Destinasi , Dinas Pariwasata NTB (foto: ist)

“Sebenarnya sederhana saja, kalau kita merasa memiliki, milikilah secara utuh. Rawatlah, jagalah ia. Kalau ada yang rusak segeralah diperbaiki. Nah ini sudah bertahun-tahun, saya sudah tahun ketiga kesana (Mantar) kondisinya kayak gitu. Saya yang prihatin melihat itu. Kenapa kok teman-teman disana yang katanya memiliki kok diabaikan. Apa nunggu rubuh dulu?. Jangan ketika sudah ada yang ketiban rubuh, baru kita merasa, astaga ya memang harusnya kita perbaiki dulu,” bebernya.

Kondisi itulah, yang menurut Kusuma menjadi dasar dialokasikannya program perbaikan hall dimaksud dan dimasukkan dalam program yang dibiayai Dana Alokasi Khusus (DAK) Dinas Pariwisata NTB tahun 2019 senilai Rp 190 juta. Ia menegaskan, yang melatarbelakangi perbaikan itu hanya niat untuk menyiapkan fasilitas yang memadai dan nyaman bagi para atlet paralayang maupun wisatawan yang berkunjung.

“Hanya disana tempat orang berkumpul dan bernaung, tidak ada ditempat lain karena disekitarnya wilayah terbuka, jadi pasti orang berkumpul disitu. Sementara kondisinya sudah reot, bahkan sudah melengkung tengahnya itu. Khawatir sekali kita melihat. Niatnya hanya itu, tidak ada yang berlebih-lebihan,” terangnya.

Perbaikan, sambungnya, atas usulan dari Kabupaten Sumbawa Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, karena memang tidak ada dana perbaikan yang dialokasikan oleh Pemda. Sebelum dibangun, Kusuma juga menyatakan sudah ada komunikasi dan koordinasi dengan Bupati (Sumbawa Barat) dan tidak serta merta dibangun begitu saja.

“Ada koordinasi dan juga disetujui perangkat desa, kades dan seterusnya,” ucapnya.

Soal desain bangunan yang disertai dinding, Ia menjelaskan, desain itu bertujuan untuk mengakomodir kebutuhan atlet dan wisatawan yang berkunjung. Dinding yang dibangun, kata dia, tidak full melingkupi seluruh bangunan. Yang dinding full hanya pada ruangan khusus yang dimaksudkan sebagai tempat penitipan barang para atlet paralayang maupun wisatawan. Selebihnya adalah hall (ruang terbuka tanpa dinding).

“Orang kesana kan bawa barang, jadi disanalah tempat penitipan barang, jadi tidak dibiarkan terbengkalai atau ditaruh disembarang tempat menumpuk. Selain mengganggu juga tidak aman. Makanya nanti disiapkan tempat penitipan,
lengkap dengan petugasnya. Jadi atlet maupun wisatawan tenang karena barang mereka aman,” paparnya.

Terkait protes keras yang disampaikan Ketua Mantar Paralayang Club terkait desain bangunan, Kusuma Wijaya menyatakan pihaknya siap melakukan penyesuaian jika memang desain tersebut mengganggu aktifitas paralayang. Menurut dia, semagat yang terpenting adalah kebutuhan di lokasi tersebut (untuk atlet maupun wisatawan) bisa memenuhi.

“Ya nanti kita sesuaikan, dindingnya kita turunkan kalau memang mengganggu. Saya rasa tidak ada yang terlalu baku lah. Yang penting apa yang menjadi kebutuhan disitu bisa sama-sama saling memenuhi (baik fungsi maupun kenyamanan),”.

“Kalau memang ada yang diprotes, tidak perlu seperti itu, toh bisa bisa kita komunikasikan. Kita juga sangat selektif memberi dukungan dan program. Prinsipnya bagi kita, ya sama-sama saling mendukung. Kita prihatin, karena ga gampang dapat dukungan. Kalau diginikan semua orang, kan ga ada yang mau mendukung kita nanti,” pungkasnya.(EZ)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.