Wabup Sumbawa : Perusakan Hutan Bukan oleh Petani Jagung, Tapi Pembalakan Liar !

KabarNTB, Sumbawa — Wakil Bupati Sumbawa, Drs H Mahmud Abdullah menegaskan kerusakan hutan di daerah itu disebabkan oleh aktifitas pembalakan liar (illegal loging), bukan karena aktifitas penanaman jagung.

“Isu yang berkembang selama ini, yang menganggap kerusakan hutan diakibatkan oleh petani jagung adalah salah besar. Kerusakan hutan lebih diakibatkan oleh adanya pelaku perambahan,” ujar Wabup saat memimpin Rakor dan Evaluasi program Gemajipi di Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, belum lama ini.

Dikatakan Wabup, Rakor dan evaluasi program Gerakan Masyarakat Jagung Integrasi Sapi (Gemajipi) Kabupaten Sumbawa Tahun 2018 ini penting dilakukan,
Lantaran masih banyak masalah yang dihadapi sehubungan dengan Program Gemajipi.

Rakor dan evaluasi, selain untuk membahas langkah-langkah yang dapat diambil untuk memperkecil resiko, khususnya masalah banjir yang diakibatkan oleh gundulnya hutan akibat perambahan hutan.

“Jangan salahkan petani terkait penanaman jagung, karena rusaknya hutan bukan karena ditanami jagung, tetapi karena perambahan hutan,” ulangnya.

Wabup pada kesempatan tersebut juga meminta Dinas Pertanian untuk dapat mengatasi masalah berkurangnya produksi jagung Kabupaten Sumbawa Tahun 2018. Kondisi itu, menurutnya, mungkin disebabkan oleh kurangnya subsidi pupuk dari pemerintah pusat, serta isu mutu bibit yang kurang baik.

“Saya minta agar semua pihak dapat memetakan wilayah-wilayah yang masuk zona aman, kurang aman, dan tidak aman untuk penanaman jagung. Dan untuk daerah-daerah yang masuk zona tidak aman, kepada Dinas Pertanian, jangan sekali-kali diberikan bantuan bibit,” tegas Wabup.

Terkait limbah jagung yang terbuang percuma dan urin sapi yang bisa dijadikan sebagai pupuk organik, Wabup minta Dinas terkait, dalam hal ini Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, dan Bappeda untuk saling bersinergi dengan melibatkan Sumbawa Techno Park untuk pengembangan teknologinya.

Dirinya berharap, agar sentuhan teknologi segera direalisasikan, sehingga produktivitas jagung Kabupaten Sumbawa semakin meningkat. Dengan potensi lahan dan sentuhan teknologi yang memadai, Wabup optimis target 1 juta ton per tahun bisa tercapai.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Tarunawan, menyampaikan bahwa Kabupaten Sumbawa masuk dalam 3 (tiga) besar nasional dalam hal produksi jagung.

Alasan jagung menjadi tanaman favorit untuk ditanam petani Sumbawa, karena sejak zaman nenek moyang tanaman jagung sudah disandingkan dengan tanaman padi, sebagai makanan pokok. Selain kondisi geografis Kabupaten Sumbawa yang cocok ditanami jagung serta faktor harga jagung yang stabil, di atas Harga Patokan Pemerintah (HPP) sebesar Rp. 3.150.

“Program Gemajipi merupakan salah satu program untuk menopang hajat hidup petani,” jelas Tarunawan.

Sedang Kepala Dinas Peternakan Ir H Talifuddin menyampaikan bahwa limbah jagung, saat ini sudah tidak lagi dibakar dan dibuang, tetapi sudah diproses, dan dijadikan pakan ternak.

Dijelaskannya, pada Tahun 2017, Kabupaten Sumbawa mendapatkan bantuan sebanyak 39 unit alat pencacah limbah jagung, dan sudah didistribusikan serta dimanfaatkan oleh masyarakat. Distribusi alat pencacah limbah jagung tersebut meliputi Kecamatan Labangka 10 unit, Kecamatan Lunyuk 10 unit, dan 17 unit untuk Kecamatan Moyo Hilir dan Kecamatan Moyo Utara.

Terkait masalah subsidi pupuk yang masih kurang, menurut Kadis Peternakan, dapat diatasi apabila kotoran dan urin ternak tersebut dikelola dan bisa dimanfaatkan dengan baik. Hal ini sangat memungkinkan mengingat populasi ternak sapi di Kabupaten Sumbawa cukup banyak, mencapai 280 ribu ekor.

“Urin ternak tersebut, selain untuk bio gas juga dapat diolah menjadi pupuk cair dan pestisida organik,” urainya.(JK)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.