APAKAH RABIES ITU BERBAHAYA DAN BISA DIOBATI?

Oleh : Drh. Isnia Nurul Azmy

Penulis adalah Medik Veteriner Muda Dinas Pertanian Kab. Sumbawa Barat
Mahasiswa Pasca Sarjana Manajemen Inovasi UTS

Rabies atau yang dikenal penyakit anjing gila adalah penyakit zoonosis yang menyerang susunan saraf pusat manusia dan hewan mamalia.

Penyakit ini disebabkan oleh virus dari genus Lysavirus famili Rhabdoviridae. Virus tersebut menyerang sistem saraf pusat (otak) sehingga muncul gejala seperti demam, tidak nafsu makan, air liur berlebihan, perubahan perilaku (menyendiri, mudah kaget, gelisah, fotofobia, hidrofobia, kejang-kejang hingga mengalami kematian).

Rabies bersifat zoonosis karena dapat ditularkan dari hewan ke manusia melalui luka terbuka akibat gigitan dan cakaran Hewan Pembawa Rabies (HPR) yang positif rabies seperti anjing, kucing, kera, musang. Selain itu dapat juga ditularkan melalui kontak air liur HPR yang positif rabies dengan membran mukosa (Nugroho et.al 2013).

Menurut catatan sejarah yang ditemukan, Rabies pertama kali di Indonesia secara resmi oleh Esser di Jawa Barat pada Tahun 1884 pada kerbau dan pada anjing ditemukan pada Tahun 1889. Penyebaran Rabies di Indonesia bermula dari tiga Provinsi yaitu Jawa Barat, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan sebelum perang Dunia II.

Setelah Tahun 1945 dalam kurun waktu kurang dari tiga puluh lima tahun, Rabies menyebar ke dua belas Provinsi lain, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, DI. Aceh, Lampung, Jambi, DI. Yogyakarta, Bengkulu, Kalimantan Timur, Riau dan Kalimantan Tengah (Departemen Pertanian 2007; WHO 2013).

Pada Tanggal 14 November 2008, di Provinsi Bali Penyakit Rabies muncul kembali dan pada Tanggal 15 Januari 2019 Penyakit Rabies masuk pertama kali di Pulau Sumbawa yaitu di Kabupaten Dompu. Kemudian pada Tahun yang sama Penyakit Rabies menyebar di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Sumbawa serta pada tanggal 31 Maret 2022 terjadi terjadi kejadian luar biasa di Kabupaten Sumbawa Barat (Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB 2022).

Rabies merupakan salah satu penyakit zoonosis yang sangat berbahaya dan menjadi perhatian nasional. Menurut data (WHO 2022), di benua Asia dan Afrika tingkat kematian manusia akibat rabies adalah lebih dari 95% dengan HPR utama adalah anjing sebanyak lebih dari 99%. Rabies juga memiliki nilai Case Fatality Rate (CFR) sebesar 100% (Fadillah et al. 2023).

Kejadian Gigitan Hewan Pembawa Rabies (GHPR) di Kabupaten Sumbawa Barat bulan Januari s.d Oktober 2023 sebanyak 176 kasus yang terdiri dari 75% dibawa oleh anjing, 24% oleh kucing dan 1% oleh kera. Korban GHPR tersebut terdiri dari 35% anak-anak, 14% remaja, 25% dewasa dan 26% lansia. Dari 176 kasus tersebut, hanya 14 sampel otak yang berhasil diambil untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan di Balai Besar Veteriner Denpasar. Hasil pemeriksaan sampel otak tersebut menunjukkan sebanyak 7 sampel positif, 5 sampel negatif dan 2 sampel masih dalam proses pengujian (Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa Barat 2023).


Sumber: Dinas Pertanian Kab. Sumbawa Barat

Berdasarkan data situasi umum rabies tersebut, kejadian GHPR dan penularan rabies masih terjadi di Kabupaten Sumbawa Barat, sehingga kegiatan penanganan dan pencegahan rabies yang efektif masih terus dilakukan. Kegiatan penanganan dan pencegahan rabies yang efektif diantaranya :

1. Kegiatan vaksinasi rabies pada Hewan Pembawa Rabies (HPR) berpemilik
Rabies tidak dapat diobati melainkan hanya dapat dicegah dengan kegiatan vaksinasi rabies pada HPR berpemilik. Vaksinasi merupakan tindakan pengendalian dan pencegahan yang paling efektif terutama di daerah endemik dengan cakupan vaksinasi sebesar 70%, dengan tujuan untuk mendapatkan kekebalan. Program vaksinasi dilakukan rutin sekali setahun (Fadillah et al. 2023). Jika pelaksanaan program vaksinasi rutin dilakukan, akan memberikan protektivitas sejak 6 minggu s.d 2 tahun (Sudarmayasa et al. 2020). Capaian vaksinasi pada HPR yang telah dilakukan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa Barat bulan Januari s.d Oktober adalah 23%. Hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya vakisnasi rutin.

Gambar 1. Kegiatan Vaksinasi Rabies di Kecamatan Taliwang

2. Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)
Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya vaksinasi dan meningkatkan cakupan vaksinasi, dapat dilakukan kegiatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) pada masyarakat khusunya komunitas anjing buruan dan cat lover. Dengan adanya kegiatan tersebut harapannya para pemilik HPR rutin melakukan vaksinasi rabies di Puskeswannak masing-masing kecamatan. Selain itu, dapat juga diinformasikan kepada anak-anak tentang pertolongan pertama dan tata laksana gigitan jika terjadi GHPR, sehingga penyebaran virus dan kematian dapat dicegah.

Gambar 2. Kegiatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi di Kecamatan Taliwang

HIMBAUAN!!!

1. Kepada para pemilik Hewan Pembawa Rabies (Anjing, Kucing, Kera) segera divaksinasi rabies di Puskeswannak masing-masing kecamatan;

2. Jika terjadi gigitan, segera dilaporkan ke petugas Puskeswannak, Puskesmas untuk dilakukan investigasi baik pada Hewan Pembawa Rabies (Anjing, Kucing, Kera) maupun pada korbannya.(*)

Komentar