Delapan Pendapat Ulama tentang Kapan Tepatnya Waktu Lailatul Qadar

Tidak ada dalil yang secara tegas menyebutkan kapan waktunya

 

Republika.co.id– Malam lailatul qadar merupakan malam di mana berkah dan kemuliaan bertumpah ria di muka bumi. Namun, kapan sebenarnya malam tersebut akan terjadi?

Para ulama pun ketika berbicara tentang kapan tepatnya malam lailatul qadar berbeda pendapat. Dikutip dari buku Jaminan Mendapat Lailatul Qadar, Ahmad Sarwat mengatakan perbedaan pendapat itu bukan karena para ulama tidak mampu mendapatkan dalil, tetapi justru karena dalilnya tidak ada yang secara tegas menyebutkan kapan waktunya.

Pendapat pertama menyebutkan malam lailatul qadar ini terjadi pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Pendapat ini merupakan pendapat jumhur ulama, di antaranya Madzhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah, serta Al-Auza’i dan Abu Tsaur. Bahkan Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah. Mereka menegaskan malam itu tepatnya pada malam 27 Ramadhan.

Pendapat kedua mengatakan, malam qadar itu beredar sepanjang Ramadhan, sejak malam pertama hingga malam terakhir di bulan Ramadhan. Artinya, bisa saja lailatul qadar itu jatuh di malam-malam itu di sepanjang Ramadhan.

Pendapat ketiga, mengatakan, malam lailatul qadar itu adanya di malam-malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan, tetapi tidak bisa dipastikan pada tanggal berapa. Namun meski tidak diketahui, tanggalnya tidak berpindah-pindah, setiap tahun selalu jatuh pada tanggal yang sama.

Hanya saja Allah SWT merahasiakan malam itu kepada kita. Sehingga tetap dipersilakan untuk mencarinya di semua malam sepuluh terakhir. Pendapat ini merupakan pendapat resmi Madzhab Asy-Syafi’ iyah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam An-Nawawi.

 Pendapat keempat, lailatul qadar jatuh di malam pertama Ramadhan. Pendapat ini dikemukakan oleh Abi Razin Al-Uqaili Ash-Shahabi, yang meriwayatkan hadits dari Abi Razin Al-Uqaili Ash-shalabi yang meriwayatkan hadits dari ibnu Abbas RA, “Malam lailatul qadar itu jatuhnya pada malam pertama bulan Ramadhan”.

Pendapat kelima, lailatul qadar jatuh pada malam 17 Ramadhan. Pendapat ini didasarkan pada hadits berikut.

Dari zaid bin arqam RA, berkata, “Aku tidak ragu bahwa malam 17 Ramadhan adalah malam turunnya Alquran.” (AR. Ath-Thabrani dan Abu Syaibah)

Dan diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa malam Lailatul Qadar itu adalah malam yang siangnya terjadi Perang Badar, berdasarkan firman Allah SWT; Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba kami di hari Furqaan yaitu di hari bertemunya dua pasukan. (QS Al anfal 41)

Pendapat keenam menyebutkan lailatul qadar jatuh pada sepuluh malam tengah Ramadhan. Al-Imam An-Nawawi mengisahkan pendapat ini, dimana sebagian ulama di kalangan Madzhab Asy-Syafi’iyah berpendapat seperti ini. Al-Imam Ath-Thabari mengaitkan pendapat ini kepada Utsman bin Abil Ash dan Al-Hasan Al-Bashri.

Pendapat ketujuh, mengatakan lailatul qadar jatuh pada malam ke-19 Ramadhan. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa dalilnya diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dari Ali bin Abi Thalib RA. Al-Imam Ath-Thabari mengaitkan hadits tersebut kepada Zaid bin Tsabit dan Ibnu Mas’ud RA dan Ath-Thahawi menyambungkan hadits itu kepada Ibnu Mas’ud RA.

Pendapat kedelapan mengatakan malam lailatul qadar berpindah-pindah setiap Ramadhan, dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan ke malam lainnya.

Pendapat ini berangkat dari begitu banyaknya perbedaan yang kita dapat dari banyak riwayat, di mana semuanya tidak mungkin ditolak, namun juga tidak mungkin digabungkan menjadi satu kesimpulan bahwa jatuhnya malam qadar itu pada malam tertentu. Sehingga pendapat yang kedelapan ini mengaitkan malam qadar itu bergonta-ganti jatuh pada setiap tahun, sesuai dengan semua hadits yang menyebutkannya.

Terdapat pendapat yang mengatakan terjadinya malam qadar itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan, hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah yang mengatakan; Rasulullah SAW beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, yang artinya: “Carilah malam Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan,” (HR. Bukhari Muslim)

Rasulullah SAW pernah ditanya tentang lailatul qadar, lalu beliau menjawab, “Lailatul qadar ada pada setiap bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

“Carilah lailatul qadar itu pada malam ganjil dari sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).

 

 

Komentar