KabarNTB, Sumbawa — Komisi II DPRD Sumbawa menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Aliansi Petani Jagung (APJ) Plampang, Dinas Tekhnis dan perwakilan pengusaha terkait harga jagung, Senin 22 Juni 2020.
Desakan para petani jagung yang tergabung dalam APJ agar pemerintah menaikkan harga jagung untuk menutupi biaya operasional tidak membuahkan hasil dan nampaknya masih menjadi mimpi. Pasalnya kenaikan harga jagung tidak dapat terealisasi dan tetap pada nominal harga lapangan saat ini, sebesar Rp 3.250 per Kg. Padahal para petani jagung hanya memintai kenaikan harga menjadi Rp 3.300 per Kg.

Dalam RDP yang dipimpin Ketua Komisi II, Berlian Rayes dan dihadiri seluruh anggota Komisi terkait, perwakilan pengusaha yang hadir, menjelaskan bahwa harga jagung ditentukan oleh pasar, sementara pihak pengusaha hanya menyesuaikan saja. “Dalam artian pengusaha pasrah dengan hukum pasar. Jika pembelian di wilayah Plampang disamakan dengan harga Sumbawa maka perlu juga ada margin pembiayaan untuk ongkos angkut dan buruh. Kecuali petani langsung membawa ke gudang maka harga dapat sedikit lebih tinggi,” beber perwakilan pengusaha yang hadir di RDP.
Sementara pemerintah daerah belum bisa mengintervensi harga jagung, kecuali pemerintah pusat bisa membantu lebih besar lagi proporsi anggaran untuk pertanian pada komoditas unggulan seperti jagung. Misalnya dengan menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) jagung menjadi Rp 3.500 per Kg.
Saat ini memang harga pasar menjadi indikator harga. Meski demikian ada ruang yang dapat diisi oleh pemerintah daerah dan pusat misalnya mengintervensi harga dengan subsidi harga panen. Dengan demikian langsung tepat sasaran. Bilapun tidak bisa secara menyeluruh tapi dapat diterapkan pada sentra produksi nasional, sehingga semangat bertani jagung dapat dijaga.
Salah satu strategi adalah membangun pabrik pakan ternak di sentra produksi jagung. Stimulan kepada pengusaha pabrik pakan dapat diberikan dengan memberikan kemudahan dalam investasi. Dengan demikian harga akan bersaing.
Strategi lainnya adalah memasyarakatkan konsumsi jagung seperti mengkonsumsi beras. Sehingga pasar lokal akan lebih terbuka luas. Jadi tidak hanya untuk pakan ternak, konsumsi pangan keseharian juga sangat bagus, karena jagung mengandung karbohidrat seperti halnya padi /beras. Hasil analisa pakar kesehatan juga menyatakan bahwa nasi jagung baik untuk kesehatan. “Skema serta strategi tersebut diatas merupakan salah satu solusi bersama untuk kedepan,” ucap Ketua Komisi II, Berlian Rayes.(JK)







