‘Kandaga’ dan Puluhan Koleksi ‘Kere Alang’ Kuno Dipamerkan Dikbud Sumbawa

KabarNTB, Sumbawa – Sebanyak enam buah peti antik peninggalan masa lampau dipamerkan ke publik di Aula UPT Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sumbawa, di Sumbawa Besar.

“Peti antik atau Kandaga ini sebelumnya disita dari oknum tidak bertanggung jawab yang hendak membawa peti tersebut ke luar daerah,” ungkap Kepala Dikbud Sumbawa, H Sahril saat membuka pameran temporer dimaksud, Sabtu 14 September 2019.

Kabid Kebudayaan Dikbud Sumbawa, H Hasanuddin, menerangkan, Kandaga merupakan wadah menyimpan pakaian dan barang berharga ketika lemari belum begitu dikenal dlm kehidupan Tau Samawa.

“Kandaga terganti fungsinya saat lemari sudah akrab dalam rumah Sumbawa. Sehingga Kandaga dianggap sebagai barang yang tiada gunanya lagi, maka dibiarkan begitu saja tak terurus,” urainya.

Namun Kandaga rupanya menjadi salah satu barang incaran para pemburu barang kuno. Mereka kemudian membeli dari Tau Samawa.

“Seputaran Tahun 1994 banyak sekali Kandaga dibawa keluar (dari Sumbawa). Yang terdapat di Museum Dikbud dan dipamerkan adalah hasil sitaan oleh KP3 Poto Tano Tahun 1996,” ungkap H Ace.

Selain Kandaga, turut dipamerkan pula puluhan koleksi kain kuno khas Sumbawa, antara lain Kere Alang Jit Tahan Uji, Kere Alang Bakemang Dua, Pabasa Alang, Sapu Alang, Sarangan Cila, Kere Alang Salaki, Cipo Cila, Kere Alang Kemang Sasir dan Ragi Sasit.

Para siswa dari berbagai sekolah mengunjugi pameran Kandaga dan Kere Alang Kuno yang dilaksanakan Dikbud Sumbawa

Menurut H Sahril, rata-rata kain kuno tersebut telah berusia diatas 100 tahun. Kain – kain tersebut merupakan milik sembilan orang kolektor yang meminjamkannya ke Museum Dikbud Sumbawa untuk dipamerkan.

“Ada sekitar 24 koleksi kain kuno yang kami tampilkan,” sebutnya.

Pemilihan materi ini, sambungnya, diharapkan memberikan dampak besar bagi penambahan pengetahuan terutama siswa untuk pembelajaran mereka pada pelajaran muatan lokal. Termasuk pelestarian karya budaya Tau Tana Samawa.

Hal ini penting, mengingat banyak masyarakat, terutama generasi muda, tidak memahami sejarah, makna dan tujuan dari berbagai benda karya budaya peninggalan leluhur mereka. Kere Alang, misalnya, selama ini hanya dikenal sebagai kain tenun songket khas Sumbawa sebagai kain yang sipakai pada upacara adat, pawai, dan kegiatan budaya lainnya.

“Tapi sesungguhnya Kere Alang itu memiliki pembagian di masa lalu, ada yang hanya diperuntukan bagi wanita, ada yang diperuntukan bagi kaum lelaki. Ada yang dibuat dengan tekjnik songket dan sulam dalam satu kain. Ini merupakan satu karya budaya yang penting juga diketahui oleh masyarakat,” jelasnya.

Pameran temporer itu akan berlangsung selama 10 hari sampai 23 September mendatang, melibatkan kolektor kain kuno dan pelajar sebagai pengunjungnya.

Tahun 2020 mendatang, Dikbud Sumbawa juga akan mengelar pameran serupa namun dengan materi yang berbeda, yakni materi tentang seni ukir ragam hias tradisonal khas Sumbawa.(JK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses