KabarNTB, Sumbawa Barat – Management RSUD Asy Syfa Sumbawa Barat, terpaksa menghentikan sementara layanan perawatan VIP untuk memaksimalkan pelayanan di Unit Gawat Darurat (UGD), ditengah kendala kekurangan personil tenaga kesehatan di rumah sakit setempat.
Direktur RSUD Asy Syfa, dr Carlof Sitompul mengatakan kondisi ini terjadi sebagai imbas meningkatnya angka penanganan orang beresiko, baik PPTG, OTG, ODP, maupun kontak erat positif Covid-19 di KSB yang ditangani di RSUD Asy Syfa dalam beberapa minggu terakhir.
Meningkatnya angka penanganan ini berujung pada adanya puluhan tenaga kesehatan, baik dokter, perawat maupun bidan yang bertugas di UGD RSUD Asy Syfa, Sumbawa Barat yang masuk dalam kelompok beresiko dan terpaksa menjalani karantina untuk mengantisipasi kemungkinan tertular Covid-19.

“Terdapat sebanyak 23 petugas IGD yang menjalani karantina secara mandiri. Mereka sudah menjalani pemeriksaan dengan rapid test dimana 3 diantaranya reaktif,” jelas dr Carlof di Posko Utama Gugus Tugas Covid-19 KSB, Ahad malam 3 Mei 2020.
Proses karantina yang sedang dijalani inilah yang membuat IGD RSUD Asy Syfa kekurangan tenaga medis untuk melayani pasien. Salah satu cara untuk menutupi kekurangan ini adalah dengan mengalihkan tenaga medis yang sebelumnya bertugas di pelayanan VIP ke UGD.
“Jadi sejak akhir april kami sudah meniadakam layanan VIP, karena tenaga medisnya ditarik ke UGD. Untuk mengoptimalkan layanan di UGD ada juga yang dimutasi dari Puskesmas, terdiri 1 dokter, 3 perawat dan 2 bidan. Kalau yang dari VIP semuanya dialihkan ke UGD,” imbuh dr Carlof.
Sebanyak 23 orang petugas kesehatan di UGD yang menjalani karantina itu terdiri dari dokter, perawat dan bidan. Dari jumlah tersebut yang hasil pemeriksaannya reaktif sebanyak 3 orang. Dari hasil tracing contact sementara, kata dr Carlof, puluhan tenaga kesehatan ini terlibat kontak bukan di internal rumah sakit, tetapi di luar. “Saya belum bisa memastikan dulu dari mana, karena proses penelusuran masih belum selesai,” jelasnya.
Seluruh tenaga medis dimaksud, termasuk yang RDT reaktif saat ini sedang menjalani karantina mandiri di rumahnya. “Karena mereka petugas kesehatan, mereka sudah tahu protokol yang harus dilaksanakan selama karantina, sembari kita minta bantuan juga dari teman-teman di Puskesmas untuk memantau,” demikian dr Carlof.(EZ)
