Sumbawa Besar, KabarNTB
Burung Kakatua Kecil Jambul Kuning yang hidup liar di Cagar Alam Jereweh Kabupaten Sumbawa Barat diambang punah. Kini populasinya dicagar alam yang lokasinya berdekatan dengan konsesi tambang Batu Hijau itu tersisa tiga ekor. Sepuluh tahun lalu, populasinya disite yang sama terpantau tujuh ekor. “Monitoring dilakukan empat kali dalam setahun. Tetap saja yang kelihatan yang tiga ekor itu disite yang sama. Jadi populasinya sudah kritis. Terancam punah,” ungkap Kepala Seksi BKSDA NTB Wilayah II Pulau Sumbawa, Arep.
Ditemui Selasa (09/09/2025) dikantornya di Jalan By Pass Sering Kecamatan Untir Iwis, Sumbawa, Arep menyebut banyak faktor yang menyebabkan kritisnya populasi burung bernama latin Cacatua sulphurea occidentalis tersebut. Diantaranya perburuan liar, gangguan predator alami hingga migrasi oleh faktor lingkungan dan ketersediaan pakan.
Arep menepis ancaman punahnya populasi Kakatua efek eksploitasi tambang, sebab Cagar Alam Jereweh dikelilingi oleh fungsi hutan lain. Lagipula posisinya cukup jauh dari lokasi tambang. “Tak ada pengaruhnya. Tak ada polusi debu, suara ataupun getaran dari aktifitas tambang,” terang Arep.
Meski demikan sambung pria bertubuh gempal ini, Amman selaku operator tambang Batu Hijau ikut bertanggung jawab dalam konservasi fauna dan flora.
Selain di Cagar Alam Jereweh, Kakatua Kecil Jambul Kuning dapat ditemukan di Taman Buru Pulau Moyo Kabupaten Sumbawa. Populasinya juga kritis. Tinggal 50 ekor. Di Pulau Lombok, burung endemic Maluku, dan Nusa Tenggara ini sudah lama dinyatakan punah. Karenanya Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018, burung Kakatua Kecil Jambul Kuning masuk dalam list satwa yang dilindungi, dan daftar merah IUCN dengan katagori tertinggi yakni kritis terancam punah [critically endangered].
Ex Situ Jadi Solusi
Akademisi Universitas Mataram Maiser Syaputra, Pande Komang Suparyana dan Febriana Tri Wulandari dalam jurnal penelitian yang dipublikasikan tahun 2022 menyimpulkan, konservasi ex situ merupakan salah satu cara memulihkan populasi Kakatua Kecil Jambul Kuning. Ex Situ adalah metode konservasi melalui peran pemeliharaan dan perkawinan yang lebih intensif diluar habitat alami.
BKSDA pun mengiyakan upaya pelestarian Kakatua melalui konservasi ex situ dengan metode penangkaran. “Kami sudah memikirkan dan merencanakannya,” imbuh Arep.
Namun implementasi penangkaran burung yang pandai meniru suara manusia ini memiliki kesulitan cukup tinggi, lantaran minimnya penelitian terhadap kakaktua serta butuh biaya mahal. Untuk itu BKSDA menggandeng Amman. “Naskah perjanjian sebagai payung hukum kerjasama BKSDA dan Amman sudah di Jakarta. Tinggal disahkan oleh Dirjen BKSDA” papar Arep.
Fauna Prioritas
Amman memberi perhatian serius terhadap kelestarian Kakatua Kecil Jambul Kuning yang habitatnya berdekatan dengan konsesi Batu Hijau. Spesies ini menjadi salah satu fauna prioritas dalam Biodiversity Management Plan Amman yang disusun berdasarkan hasil Critical Habitat Assessment. Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana, mengatakan demikian dalam pesan singkatnya kepada KabarNTB.com.
Menjawab ajakan BKSDA melakukan konservasi Kakatua Kecil Jambul Kuning, Kartika menyatakan kesediaan perusahaannya bekerjasama dalam hal Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE). “Amman siap mendukung langkah-langkah yang akan disepakati bersama demi mencapai tujuan konservasi jangka panjang. Kami percaya bahwa kolaborasi ini dapat memperkuat upaya menjaga keberlanjutan populasi Kakatua Kecil Jambul Kuning, baik di habitat aslinya maupun melalui inisiatif konservasi alternatif,” papar Kartika.
Lebih lanjut mantan jurnalis televisi ini mengatakan, Amman secara konsisten berperan aktif dalam menjaga kelestarian Kakatua Kecil Jambul Kuning di Cagar Alam Jereweh. “Kami melakukan pemantauan rutin sebanyak dua kali dalam setahun, termasuk beberapa kali pemantauan gabungan bersama tim BKSDA NTB.”
“Untuk mendukung efektivitas pemantauan, Amman memfasilitasi transportasi tim BKSDA menggunakan helikopter—yang hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit. Kalau jalan kaki bisa 9 jam,” tambahnya.
Selain pertukaran data hasil pemantauan dengan BKSDA, AMMAN juga memperhatikan kebutuhan habitat Kakatua Kecil Jambul Kuning melalui program reklamasi. Dalam proses revegetasi, Amman menanam pohon Binong (Tetrameles nudiflora), yang dikenal sebagai salah satu jenis pohon favorit Kakatua ini untuk bersarang. “Amman tidak hanya fokus pada operasional pertambangan, tetapi juga pada upaya menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar wilayah,” pungkas Kartika. (IR)







