Senin sore 16 Maret 2026, saya dan beberapa wartawan lain, berkesempatan buka puasa bersama dengan AMMAN Scholars (Penerima beasiswa AMMAN). Program beasiswa tersebut fokus dalam mendukung program belajar vokasi dan pendidikan formal di sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) unggulan di Pulau Jawa bagi siswa – siswi tamatan SMP sederajat di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang dilaksanakan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), perusahaan operator tambang tembaga dan emas di Batu Hijau.
Sore itu empat orang AMMAN Scholars hadir. Satu diantaranya adalah Ahyati Mulya. Ia adalah alumni program batch pertama (tahun 2021). Perempuan yang akrab dipanggil Aya itu sebelumnya menempuh pendidikan pada Jurusan Animasi 2D SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus. Saat pertama ikut program, Aya mengaku buta sama sekali terhadap menggambar dan desain grafis. Tetapi justeru itu yang membuatnya terpacu untuk belajar. Perjuangannya tidak sia-sia. Selain nilai akademik yang bagus, ia juga berkesempatan ikut program magang sebagai graphic designer dan content planner di Studio 7inc Jogja selama delapan bulan. “Karena saya kebetulan hoby fotografi dan berkesempatan mengembahkan hoby saya selama belajar, saya akhirnya dipercaya menjadi fotografer di Teaching Factory RUS Animation Studio selama tiga bulan,” ucapnya.
Aya lulus pada 2024. Saat itu juga ia langsung mendapat tawaran bekerja dari perusahaan graphic designer di Jakarta. Namun ia mesti menolak tawaran tersebut. Sebagai anak perempuan satu-satunya ia diminta pulang kampung menemani ibunya di Jereweh. Ia harus pulang, meski harus mengubur mimpinya untuk berkarir di Jakarta.

Namun menetap di kampung tidak membuat Aya patah semangat. Ia punya modal ilmu dan pengalaman creative digital. Ia lalu mendaftar berbagai pekerjaan yang bisa dikerjakan secara remote. Sembari menunggu, Aya mencari kesibukan dengan berjualan dimsum. Keahliannya mendesain gambar dan video dicurahkan sepenuhnya dalam mempromosikan dimsum buatannya di media sosial. Dimsum dengan jargon “one bite instantly in love” itu akhirnya viral dan mengundang banyak pembeli. “Saya bahkan bisa mendapat omset penjualan diatas satu juta per hari. Disamping rasa, konten-konten yang saya buat ternyata cukup ampuh untuk menarik pembeli,” katanya. Sukses berjualan dimsum, dibarengi dengan peluang kerja. Ia diterima bekerja di Bene Residence dan Eatery di Desa Benete Maluk sebagai resepsionis sekaligus dipercaya untuk mengelola berbagai brand design dan social media.
Konsep yang diterapkan dalam program ini memang mengajarkan para peserta untuk mandiri. Mereka tidak hanya harus lolos seleksi ketat dengan ratusan pesaing. Selama menempuh pendidikan, mereka diwajibkan tinggal dengan orang tua asuh dan diberi target berupa standar nilai akademik minimal 75. Jika nilai tersebut tidak tercapai beasiswa bisa distop. Konsep ini secara tidak langsung mengajarkan para peserta program untuk mandiri, disiplin dan bertanggungjawab.
Beasiswa AMMAN merupakan salah satu dari sekian banyak Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) berkelanjutan yang dilaksanakan AMMAN. Inisiatif ini mencakup pengembangan kapasitas masyarakat, agar dapat memaksimalkan kesejahteraan dan potensi sumber daya manusia dan wilayah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), terutama pasca tambang beroperasi. Visi PPM AMMAN adalah, “Komunitas di mana AMMAN beroperasi, memiliki ekosistem sosial budaya dinamis yang menghasilkan peluang luas bagi semua untuk berkembang.” PPM AMMAN dijalankan melalui tiga pilar, yakni Human Capital Development (Pengembangan Sumber Daya Manusia), Economic Empowerment (Pemberdayaan Ekonomi), dan Sustainable Tourism (Pariwisata Berkelanjutan).
Human Capital Development fokus pada program edukasi dan kesehatan dengan menargetkan masyarakat di sekitar wilayah operasional, apa pun latar belakangnya, untuk memiliki kesejahteraan, kemampuan, dan hak untuk menentukan arah menuju masa depan yang lebih baik dengan penghidupan/pekerjaan yang bermartabat. Penerima Beasiswa AMMAN (AMMAN Scholars) adalah salah satu program utama yang dijalankan di bawah pilar ini untuk memastikan pemerataan akses pendidikan berkualitas dengan menyediakan pendidikan dan pelatihan vokasi bagi masyarakat KSB. Program ini bertujuan untuk menciptakan generasi muda KSB yang unggul dan kompetitif, serta memberikan dampak sosial positif yang berkelanjutan dan terukur.
Beasiswa vokasi yang diberikan kepada AMMAN Scholars terdiri dari beasiswa pendidikan formal (Sekolah Menengah Kejuruan / SMK dan Pendidikan Tinggi Diploma 3) dan pendidikan non-formal (pelatihan alat berat, hospitality dan digital skills). Kedua program vokasi ini ditujukan kepada pemuda/i KSB sebagai penerima manfaat program untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang menghasilkan sumber daya manusia terampil dan siap kerja, serta sesuai dengan kebutuhan industri agar pekerjaan yang didapatkan berkualitas. Pendidikan vokasi juga diharapkan membangun spirit kewirausahaan para lulusan.
Sejak 2021, AMMAN Scholars untuk pendidikan formal SMK telah dilakukan sebanyak lima batch. Hingga 2025, beasiswa SMK telah memberikan manfaat kepada 240 AMMAN Scholars yang terpilih melalui tahapan seleksi yang ketat dan transparan. AMMAN Scholars yang terpilih melanjutkan pendidikan SMK di berbagai daerah seperti Kudus Jawa Tengah, Ponorogo dan Malang Jawa Timur. Sekolah yang menjadi tujuan belajar AMMAN Scholars meliputi PGRI 1 Kudus untuk jurusan Beauty, spa, hospitality. SMK PGRI 2, Ponorogo untuk jurusan Heavy Equipment (alat berat), SMK PGRI 2 Kudus untuk jurusan Culinary. SMK Wisudha Karya Kudus untuk jurusan Mechanics, Electrical Engineering, Mechanical Engineering, Nautical Studies, Nautical Engineering. SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus untuk jurusan Software Engineering, Animation, Graphic Design, Printing Technology. SMK NU Ma’arif Kudus untuk jurusan Welding dan Automation. SMK NU Banat Kudus untuk jurusan
Fashion Designer dan SMK Brantas Malang untuk jurusan Mechanical Engineering dan Electrical Engineering.
Salah satu AMMAN Scholars yang cukup menarik perhatian adalah Rabiatul Adwiah atau biasa disapa Atun. Menarik karena Atun bersama satu orang rekannya sesama perempuan dalam satu angkatan, berhasil membuktikan bahwa ilmu kelistrikan tidak hanya menjadi monopoli kaum lelaki. Perempuan juga bisa. Ia saat ini menempuh pendidikan di SMK Brantas Malang di jurusan Teknik Pembangkit Listrik. Atun juga membuktikan kesibukannya dalam bidang akademik tidak menjadi penghambat untuk berperan aktif di organisasi kesiswaan, Ia yang merupakan alumni SMPN 1 Maluk, saat ini juga menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS SMK Brantas dan tetap aktif menjadi anggota ekstrakurikuler Matematika. Dua kompetisi matematika dari UNISMA dan UM pernah dia ikuti.

Saat mendaftar untuk ikut seleksi AMMAN Scholars, Atun sebenarnya tertarik pada dua jurusan, yakni perhotelan dan listrik. “Tetapi karena kemampuan bahasa inggris saya kurang, saya akhirnya memilih jalan pintas dengan memilih jurusan listrik. Alhamdulillah lulus dan diterima SMK Brantas,” kenang bungsu dari empat bersaudara itu.
Atun lahir dan besar di Desa Mantun, Kecamatan Maluk. Ayahnya berprofresi sebagai tukang ojek dan ibunya sebagai Ibu Rumah Tangga. Di masa depan, ia bermimpi menjadi operator listrik yang handal di sebuah PLTA di Indonesia.
Selain Atun hadir pula Nayla Aulia Marsya yang tercatat sebagai AMMAN Scholars Kelas XI Jurusan Perhotelan SMK PGRI 1 Kudus Batch 2025. Selain mengikuti pelajaran seperti biasa, Nayla juga sedang mengikuti magang internal yang diadakan sekolah. Nayla magang sebagai kasir OZA Café yang merupakan teaching factory (TEFA) dari SMK PGRI 1 Kudus. Ia mengaku Pengalaman sebagai kasir membawa banyak perubahan baru dalam dirinya. “Saya sebenarnya pemalu untuk berbicara dan berinteraksi di depan banyak orang, Alhamdulillah sekarang mulai nyaman dan percaya diri. Bahkan momen ketika menjelaskan menu ke customer menjadi pengalaman yang membahagiakan. Setelah magang internal ini, gaya menargetkan untuk bisa magang eksternal di Hotel Ritz-Carlton Jakarta,” ungkapnya.
Nayla bermimpi pada saatnya nanti bisa bekerja di salah satu hotel di negeri sakura Jepang. Kesukaannya pada anime dan sushi membuat Jepang menjadi negara impiannya sekaligus untuk mendongkrak taraf hidup keluarga. Gadis warga Kelurahan Telaga Bertong, Kecamatan Taliwang itu, saat ini tinggal bersama neneknya. Sementara Ibunya berprofesi sebagai PMI (pekerja migran Indonesia) di sebuah resto di Hongkong.
Dari empat penerima beasiswa yang hadir sore itu, Michael Gabriel Lele adalah yang paling beruntung. Ia telah dua kali mendapat kesempatan menerima beasiswa dari AMMAN. Pertama ketika ia berhasil lolos sebagai penerima Beasiswa AMMAN Football Fellowship PSS Sleman dan sempat bersekolah SMP selama 1 tahun di Jogja. Tahun 2025 silam ia kembali lolos menjadi penerima beasiswa AMMAN dan saat ini menempuh pendidikan di jurusan tekhnik alat berat SMK PGRI 2 Ponorogo.
Di sekolah, Kael aktif di beberapa kegiatan ekstrakurikuler seperti Taruna, Futsal, Basket dan Sepakbola. Ia pernah mewakili sekolah dalam turnamen futsal di Madiun.
Pemilik cita -cita menjadi pengusaha rental alat berat itu, menyatakan program AMMAN Scholars menjadi salah satu pintu gerbang bagi para pelajar di KSB untuk memasuki masa depan yang lebih baik lewat skill dan karakter pribadi yang kuat.(Hairil Zakariah)







