Pernikahan Dini Jadi Pemicu Anak Stunting

KabarNTB, Sumbawa – Pernikahan diusia dini menjadi pemicu tingginya angka keluarga beresiko stunting-gagal tumbuh pada anak.

“Pernikahan dini sangat berpengaruh selain kurangnya kecukupan gizi, pola asuh anak serta buruknya sanitasi dan air bersih,” ungkap Technical Asisten Stunting untuk Kabupaten Sumbawa Abdus Samad Maulana yang ditemui Kamis, 02/06.

Ilustrasi stunting (net)

Kebanyakan pelaku pernikahan diusia dini sambungnya, tidak siap dalam membina rumah tangga. Hal ini berpengaruh pada kehamilan dan ketika menyusui.

Tidak sampai disitu masih kata Maulana, pernikahan dini juga rentan dengan perceraian hingga berpengaruh dipola asuh anak.
Karenanya untuk mencegah keluarga beresiko stunting dari pernikahan dini, telah dijalin hubungan kerja dengan Kantor Urusan Agama (KUA) guna dilakukan pembinaan pada pelaku sebelum pernikahan dini terjadi.

Selain dengaan KUA, pencegahan stunting pada keluarga beresiko ini juga dilakukan melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK). “Ada 1176 TPK. Tim beranggotakan bidan desa, KB dan PKK melalui kegiatan posyandu,” paparnya.

Dari data di Maulana, sebanyak 7 kecamatan di Kabupaten Sumbawa menduduki tempat teratas Keluarga Beresiko Stunting.

Kecamatan tersebut meliputi utan, Sumbawa, Badas, Empang, Lebangka, Rhee dan Orong Telu.
“Ada 11 desa di 6 kecamatan,” paparnya. Indonesia menargetkan bebas stunting pada tahun 2045. Stunting berakibat pada gagal tumbuh anak yang mempengaruhi produktifitas, intelektualitas dan kesehatan kala anak tersebut menginjak dewasa.(IR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses