KabarNTB, Sumbawa Barat – Tiga lembar Kre’ Jet Tahan Uji (kain tenun khas Tana Samawa), yang terdiri dari sarung (kre’), ikat kepala (sapu’) dan selempang berumur ratusan tahun akan menjadi salah satu koleksi yang dipamerkan di Pameran Benda Cagar Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sumbawa Barat 1 – 4 Agustus mendatang.
Meski kondisinya sudah sangat tua dengan warna yang telah memudar dan cacat (robek) di beberapa tempat, namun tiga helai kain yang menjadi bagian dari Pabasa Samawa (pakaian adat Sumbawa) itu memiliki nilai historis yang sangat tinggi.
Kabid Kebudayaan Dikbud Sumbawa Barat, Ajad Sajadah, memperkirakan kain-kain berwarna merah hati dengan sulaman benang emas dan beragam motif itu berasal dari era 1870-an.

Ia mengisahkan, tiga lembar kain tersebut merupakan hadiah dari raja Sumbawa kala itu, kepada H Abdurrahman, salah satu penasehatnya dari wilayah Kemutar Telu (Seteluk, Taliwang, Djareweh).
“Haji Abdurahman sendiri adalah salah satu penasehat spiritual Raja Sumbawa waktu itu. Beliau (H Abbdurahman) tinggal di Desa Mura’ (sekarang masuk wilayah kecamatan Brang Ene’). Pabasa (sarung, ikat kepala dan salempang) ini adalah hadiah dari raja kepada beliau,” urai Ajad yang merupakan cicit dari H Abdurahman.
“Nilai historisnya itulah yang membuat anak keturunan Haji Abdurahman tetap menyimpan hingga sekarang,” imbuhnya.
Pameran Benda Cagar Budaya Dikbud KSB rencananya akan dibuka Sekda Amar Nurmansyah pada Senin pagi 01 Agustus 2022 di lobby kantor setempat. Benda-benda yang dipamerkan adalah benda yang berkaitan dengan sandang, pangan dan papan masyarakat Tana Samawa sejak masa lampau hingga jaman modern saat ini.
Selain Pabasa tersebut, masih banyak benda-benda cagar budaya lainnya yang akan dipamerkan, seperti peralatan rumah tangga, alat pertanian hingga senjata. Panitia, kata Ajad, membagi kategori benda – benda itu berdasarkan masa pembuatan atau penggunaannya.
“Ada peralatan yang digunakan pada era tahun 30-an kebawah seperti gobang (koin), senjata, termasuk kre’ jit tahan uji dimana salah satunya adalah Pabasa yang menjadi hadiah Raja Sumbawa untuk H Abdurahmn ini. Ada peralatan di era tahun 40-an, era tahun 40-an sampai tahun 80-an, serta era tahun 80-an keatas (era modern. Di era modern ini termasuk karya fotografi lukisan dan lain-lain,” bebernya.
Untuk memastikan generasi muda mengenal sejarah leluhur mereka serta berbagai jenis peralatan yang digunakan sebagai bagian dari tadisi budaya dan kearifan lokal sejak masa lampau, panitia pameran mengundang seluruh siswa-siswi dari seluruh SD dan SMP yang ada di KSB untuk datang menyaksikan pameran.
“Mengingat jumlah siswa yang sangat banyak, kehadiran mereka kita jadwalkan secara bergiliran per sekolah,” kata Ajad.
Selain pameran kebudayaan, Pekan Kebudayaan Daerah dengan tema ‘Angan Bakedek’ yang dilaksanakan Dikbud KSB juga diisi dengan dialog kebudayaan, sosialisasi cagar budaya dan lomba permainan tradisional yang akan dikemas pada 8 – 13 Agustus mendatang.(EZ)







