KabarNTB, Sumbawa Barat – Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menyiapkan anggaran sebesar Rp 13 miliar untuk pengembangan pariwisata kerakyatan di kawasan Tiu Suntuk dan Bintang Bano. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memperkuat sektor pariwisata berbasis masyarakat yang dinilai memiliki potensi besar bagi peningkatan ekonomi warga.
Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) KSB, Nurdin Rahman, SE mengatakan, pengembangan destinasi wisata kerakyatan telah dipersiapkan secara matang melalui penyusunan rencana induk pariwisata daerah. Penyusunan dokumen tersebut dilakukan bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Total anggaran yang disiapkan sekitar Rp13 miliar untuk pengembangan pariwisata kerakyatan Tiu Suntuk dan Bintang Bano,” ujar Nurdin Rahman kepada wartawan, Kamis, 30 April 2026.

Ia menjelaskan, penyusunan rencana induk pariwisata dilakukan secara paralel dengan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sumbawa Barat.
Menurutnya, dokumen tersebut telah rampung dan kini sedang dalam tahap pengajuan rancangan peraturan daerah (Raperda).
Ia menegaskan, konsep pariwisata kerakyatan menjadi fokus pemerintah daerah karena diyakini mampu melibatkan masyarakat secara langsung dalam pengelolaan dan pengembangan destinasi wisata. Karena itu, seluruh elemen masyarakat dilibatkan agar memahami arah pembangunan pariwisata di daerah.
“Kita libatkan mereka semua agar mereka paham dan ikut memiliki program pariwisata kerakyatan ini,” ungkapnya.
Menurutnya, potensi pariwisata kerakyatan di Kabupaten Sumbawa Barat masih sangat besar untuk terus dikembangkan. Selain Tiu Suntuk dan Bintang Bano, pemerintah daerah juga mulai melirik kawasan Danau Lebo dan Pantai Balada sebagai destinasi wisata masa depan.
Ia menyebutkan, Danau Lebo berpotensi menjadi rest area strategis yang dapat beroperasi selama 24 jam, terutama ketika aktivitas industri smelter mulai berjalan penuh di wilayah tersebut. Keberadaan kawasan itu diharapkan mampu menjadi titik singgah sekaligus pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
“Suatu saat akan ada pariwisata kerakyatan Lebo dan Pantai Balada. Danau Lebo bisa menjadi rest area dan tempat singgah masyarakat selama 24 jam ketika industri smelter berjalan,” imbuhnya.(*)






