KabarNTB, Sumbawa Barat – Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (ARPUSDA) Sumbawa Barat membuat terobosan dalam upaya melestarikan ‘Lawas’ – sastra lisan Tana Samawa dengan membuat buku elektronik Lawas Samawa.
Buku bertajuk ‘Antologi Lawas : Suara Hati, Adat, dan Kebijaksanaan Tau Samawa’ meliputi 400 halaman itu, saat ini bisa diakses semua orang dan tersedia dalam bentuk aplikasi digital berisi ribuan lawas dengan berbagai jenis. Mulai dari lawas pamuji, lawas pasatotang, lawas muda mudi, lawas pembangunan, hingga lawas politik.
Kepala Dinas ARPUSDA Sumbawa Barat, H Burhan Daeng Mangango, mengatakan, inisiatif membuat buku lawas digital itu merupakan wujud komitmen untuk melestarikan adat istiadat dan budaya Tana Samawa dalam bentuk sastra lisan. Di era sekarang, adat istiadat dan tradisi lokal cenderung terpinggirkan ditengah serbuan informasi digital yang memenuhi ruang publik.

“Jika tidak ada upaya untuk melestarikan bukan tidak mungkin tradisi lokal ini bisa punah. Apalagi proses regenerasi pegiat seni lokal sangat lama. Ini yang membuat kami termotivasi untuk membukukan kumpulan lawas yang ditulis dan dikumpulkan oleh Pak Sanapiah Amin,” ungkap Aji Daeng Bur.
Ia mengisahkan, awalnya Penulis Antologi Lawas, Sanapiah Amin, kesulitan untuk membukukan koleksi ribuan lawan yang diciptakan sendiri maupun yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Beberapa pihak yang dihubungi tidak bisa memberi solusi agar koleksi lawas tersebut bisa terdokumentasi dengan back.
“Beliau akhirnya bertemu kami dan Alhamdulillah koleksi ribuan lawas itu bisa dibukukan,” imbuhnya.
Daeng Bur berharap buku digital ‘Antologi Lawas ; Suara Hati, Adat, dan Kebijaksanaan Tau Samawa’ bisa menjadi menjadi referensi sekaligus memperkaya khasanah kebudayaan lokal Tana Samawa.
Penulis Antologi Lawas, Sanapiah Amin, mengaku sangat mengapresiasi Dinas ARPUSDA Sumbawa Barat yang mengambilalih menerbitkan buku tersebut. Sebagai pegiat budaya, ia sebelumnya sempat khawatir koleksi ribuan lawas yang telah diciptakan maupun dikumpulkan dari berbagai sumber di seantero Tana Samawa itu akan hilang karena tidak terdokumentasi.
“Dengan adanya inisiatif ARPUSDA Alhamdulillah sekarang kita bisa belajar, membaca dan mengalisa pesan-pesan yang terkandung dalam lawas dengan mudah, karena sudah tersedia dalam buku digital,” ungkapnya.
Ribuan lawas yang termuat dalam buku Antologi tersebut, menurut Sanapiah Amin telah ditulis dan dikumpulkan sejak tahun 2013. Proses menciptakan lawas memang mudah bagi Sanapiah Amin yang sudah belajar belawas sejak kecil. Ia bahkan menciptakan lawas khusus di setiap momentum Pilkada di KSB dan era kepemimpinan tokoh tertentu.
“Saat Pilkada KSB pertama di tahun 2005 ada lawasnya, begitupun Pilkada 2010, 2015 sampai Pilkada terakhir. Begitupun saat Kyai Zul (KH Zulkifli Muhadli) menjadi bupati ada lawasnya, Pak Musyafirin jadi bupati juga ada lawasnya,” ungkapnya.
Yang menjadi tantangan tersendiri juga mengumpulkan lawas dari seantero Tana Samawa. Ia bahkan harus mendatangi para orang tua yang jago belawas untuk meminta ijin agar lawas yang diciptakan bisa ditulis.
“Jadi ribuan lawas yang termuat di buku Antologi ini bukan hanya ciptaaan saya sendiri, tapi saya kumpulkan dari para orang tua kita baik yang ada di KSB maupun di Sumbawa,” pungkasnya.(EZ)




