KSB Aman dari Rabies, Lalu Lintas HPR Dibatasi

KabarNTB, Sumbawa Barat – Wilayah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dinyatakan tetap aman dan steril dari penyakit anjing gila (Rabies). Meski beberapa pekan lalu kasus Rabies terjadi di Kabupaten Dompu, namun hingga sekarang di KSB belum ada kasus ditemukan.

“Pemprov NTB juga menyatakan KSB sebagai wilayah yang aman dari Rabies,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan (Distanbunak) KSB, Suhadi, kepada KabarNTB, Rabu 23 Januari 2019.

Meski dalam status aman, namun Distanbunak, Kata Suhadi,
tetap berkoordinasi dengan pihak terkait dan terlibat aktif dalam pembatasan
lalu lintas Hewan Pembawa Rabies (HPR) agar tidak sampai masuk ke KSB dan NTB
secara umum.

Ilustrasi (net)

“Yang terdepan dalam pembatasan ini adalah Balai Karantina
dan Kepolisian.  Penjagaan diintensifkan
di perbatasan antar kabupaten/kota, juga di pintu masuk wilayah. Kalau KSB di
Pelabuhan Poto Tano. Tapi ini bukan penutupan, hanya pembatasan yang
diberlakukan oleh Gubernur. Kalau penutupan kewenangan menteri,” jelasnya.

HPR (Hewan Pembawa Rabies) adalah kucing, anjing dan kera.  Suhadi mengakui di KSB jumlah HPR cukup
banyak, seperti kucing dan anjing, baik yang dipelihara maupun yang liar. Ia menghimbau
para pemilik kucing dan anjing peliharaan untuk proaktif memeriksakan kesehatan
hewan peliharaan mereka Poskeswan atau dokter hewan.

Sementara untuk anjing liar, jumlah populasinya tetap
dipantau. Dinas terkait juga akan melakukan sosialisasi kepada para pemilik
hewan peliharaan.

Suhadi menghimbau masyarakat untuk proaktif melaporkan jika mengetahui ada hewan baik yang peliharaan maupun yang liar mengalami kondisi mencurigakan.

“Kami juga akan berkoordinasi dengan Dikes terkait pengadaan vaksin anti Rabies,” tambahnya.

Sementara itu, drh Isnia, dokter hewan, dari Poskeswan
Taliwang, menjelaskan, hewan yang tertular dan positif Rabies akan menunjukkan
tanda-tanda sangat agresif.

“Cenderung akan 
langsung menyerang siapapun yang ada dihadapannya, termasuk pemiliknya
sendiri. Biasanya hewan yang positif Rabies hanya akan bertahan hidup selama
dua minggu, lalu mati,” jelasnya.

Penularan Rabies kepada manusia, lanjutnya, umumnya terjadi
karena gigitan hewan yang telah mengidap penyakit mematikan tersebut.  Gejala awal yang dirasakan penderita adalah demam
 tinggi dan jika tidak ditangani segera
sampai batas masa inkubasi (paling lama 14 hari) korban akan mengalami gejala
yang seperti hewan dan menjadi sangat agresif. Puncaknya, penderita akan
mengalami kematian.

Penangangan petama bagi yang mengalami gigitan anjing atau
hewan pembawa rabies, segera cuci luka bekas gigitan dengan air yang mengalir
dan detergent sampai bersih. Selanjutnya, segera bawa ke fasilitas kesehatan,
baik Puskesmas maupun rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis dengan
diberikan serum anti Rabies.

“Jika cepat ditangani setelah tergigit, termasuk
diberikan beberapa kali serum anti rabies sebelum masa inkubasi, Insyaallah
korban akan selamat,” imbuhnya.(EZ)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.