KabarNTB, Sumbawa Barat – Kontraktor lokal pelaksana pembangunan ruang kelas SDN Seminar Salit Kecamatan Brang Rea yang rusak berat akibat gempa, terpaksa menyegel ruang kelas yang sudah dikerjakannya karena hingga sekarang pembayaran masih mandeg.
H Saiman, kontraktor lokal pelaksana pembangunan dimaksud menyegel empat ruang kelas SDN Seminar Salit sejak Sabtu 28 September pekan lalu dan hingga hari ini, Senin 30 September 2019 belum dibuka.
Akibatnya kegiatan belajar mengajar di sekolah dimaksud tidak bisa maksimal. Pintu ruangan kelas dikunci dan ditempeli tulisan “Disegel”. Para siswa yang tidak bisa masuk terpaksa hanya diam diluar ruangan. Mereka menggantung tas sekolah di pintu dan tembok ruangan.
Dihubungi via sambungan telephon, Senin siang, H Saiman mengakui ia sengaja menyegel ruangan kelas.

“Betul saya yang menyegel sejak hari sabtu minggu lalu. Bukan hanya SDN Seminar Salit, tapi juga SDN Tepas Sepakat dan SDN Sapugara. Ini saya lakukan karena pembayaran dari PT Istaka sampai saat ini belum selesai,” cetusnya.
H Saiman bersama sejumlah kontraktor lokal lain hanya berstatus sebagai subkontraktor dalam proyek rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas umum (pendidikan, kesehatan dan rumah ibadah) yang rusak akibat gempa bumi pada Agustus – September 2018 lalu. Kontraktor pelaksana yang ditunjuk pemerintah untuk wilayah Kabupaten Sumbawa Barat adalah PT Istaka Karya. Para subkontraktor lokal ini, menerima pembayaran dari PT Istaka Karya. Namun dalam perjalanannya pembayaran ternyata tersendat.
“Padahal saya sudah menyelesaikan pekerjaan pada Juni 2019 lalu. Saya selalu dijanjikan, tanggal sekian bulan sekian, tetapi sampai sekarang tidak kunjung tuntas,” ungkap H Saiman.
Ia mengakui penyegelan yang sekarang dilakukan, merupakan yang kedua kali. Pada juli lalu penyegelan juga dilakukan karena belum sepeserpun pembayaran diterima. Segel dibuka saat itu setelah PT Istaka melakukan pembayaran kurang dari setengah dari total anggaran yang menjadi haknya. Selain itu, Istaka juga berjanji akan menyelesaikan pembayaran sebelum Bulan Agustus 2019.
“Saya mengerjakan tiga sekolah, selain SDN Seminar Salit, juga SDN Tepas Sepakat dan SDN Sapugara total 12 ruang kelas dengan nilai pekerjaan mencapai Rp 1,9 miliyar. Pembayaran yang tersisa sekitar Rp 1 miliyar,” sebutnya.
H Saiman mengaku kesulitan untuk menagih ke PT Istaka Karya. Kendatipun ada perwakilan perusahaan dimaksud di KSB namun tidak juga bisa mengambil keputusan dan memberi kepastian.
“Saya maklum kesulitan yang dialami pihak sekolah dan anak-anak, tetapi saya tidak bisa berbuat lain karena saya juga terdesak. Untuk menyelesaikan pekerjaan ini saya menggunakan dana pinjaman dari pihak lain. Sekarang saya ditagih karena sudah jauh lewat dari jatuh tempo,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Dikpora KSB, H Mukhlis yang ditemui di ruang kerjanya, menyatakan persoalan antara subkontraktor dengan PT Istaka Karya tidak ada kaitan dengan Dikpora. Apalagi pihak Istaka Karya sendiri telah melakukan serah terima bangunan tersebut kepada pihak sekolah.
“Kepentingan kami hanya karena persoalan ini (penyegelan) berimbas pada kegiatan belajar mengajar para siswa,” katanya.
Karena itu, H Mukhlis menyatakan pihaknya telah menjadwalkan pertemuan dengan H Saiman dan perwakilan PT Istaka pada Senin siang untuk mencari solusi agar persoalan ini bisa segera tuntas dan anak-anak bisa kembali belajar.
“Mudah-mudahan di pertemuan nanti ada solusi,” tandasnya.(EZ)







