Rawan Kebakaran, Istana Tua Dalam Loka Minim Perlindungan

KabarNTB, Sumbawa – Musibah kebakaran yang menghanguskan Istana Bala Putih pada 11 Juli 2017 merupakan pelajaran berharga untuk memberi perlindungan pada bangunan tua bersejarah lainnya, terutama Istana Tua Dalam Loka di Kota Sumbawa.

Dari kunjungan ke istana yang dibangun tahun 1885 atau telah berusia 137 tahun tersebut, tak terlihat adanya fasilitas perlindungan dari bahaya kebakaran. Padahal material istana yang dibangun dimasa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin III itu seluruhnya terbuat dari kayu.

Istana Dalam Loka di Sumbawa. Sebagai Istana berbentuk panggung terbesar di dunia yang rawan kebakaran karena berbahan kayu namun minim perlindungan (foto : Irfan)

Kepala Bidang Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Sumbawa, Sutan Syahril mengakui minimnya fasilitas perlindungan di istana panggung bertiang 99 buah itu dari api.

“Pada masa lampau, kita kehilangan Bala Sawo dan Bala Balong karena kebakaran. Terakhir Bala Putih terbakar tahun 2017 lalu,” akunya.

Karenanya pada tahun tahun anggaran mendatang, Sutan berniat mengalokasikan dana untuk sarana perlindungan api untuk Istana Tua Dalam Loka dan situs budaya lainnya seperti Istana Datu Ranga dan Istana Bala Kuning. “Untuk tahun ini tidak ada dianggarkan. Tahun depan kami akan alokasikan,” sebutnya.

Mengenai jenis dari fasilitas perlindungan bahaya kebakaran, Sutan mengatakan disesuaikan jumlah dana yang tersedia. “Maunya kami pakai tangki hydran. Tapi itukan mahal,” tandasnya.
Kalaupun tidak menggunakan hydran, fasilitas lain yang lebih murah tengah dijajaki, misalnya alat Pemadam Api Ringan atau APAR.

“Kami sudah jajaki. Apakah yang dipakai yang kecil, sedang atau yang besar yang pakai roda,” sebutnya.

Karena pengadaan sarana proteksi kebakaran diadakan pada tahun depan, ditekankan pada tukang jaga Istana Tua untuk sungguh sungguh menerapkan larangan merokok pada tamu yang datang berkunjung. Hal serupa pada even even yang menggunakan Dalam Loka sebagai venue.

Menjawab kelayakan instalasi listrik yang kerap menyebabkan kebakaran, Sutan mengatakan pihaknya mendapat bantuan dari PT PLN yang secara rutin mengirim personilnya untuk melakukan pengecekan instalasi listrik.

Istana Dalam Loka merupakan istana berbentuk panggung terbesar didunia. Tiangnya saja berjumlah 99 buah yang merupakan filasopi Asmaul Husna. Konon pembangunannya memakan waktu 9 bulan 10 hari– menyerupai lama bayi dalam kandungan.

Pembangunan Istana tua Dalam Loka dipimpin oleh H Hasyim, seorang kepala tukang kayu yang berasal dari Taliwang, KSB. (IR)

Komentar