Bapak Bejad Setubuhi Anak Tiri yang Masih Belia Berulang Kali

KabarNTB, Mataram – Seorang lelaki berinisial AD (42 tahun) ditangkap Tim Sat Reskrim Polresta Mataram karena menyetubuhi anak tirinya yang masih berusia 12 tahun.

Menurut Kasat Reskrim Polresta Mataram Kompol Kadek Adi Budi Astawa, pelaku AD warga Kecamatan Lingsar Lombok Barat itu ditangkap dirumahnya atas laporan Ibu kandung korban yang notabene adalah isterinya.

“Atas laporan itu, unit PPA langsung membawa korban ke RS Bhayangkara didampingi ibu korban untuk melakukan visum,” jelas Kasat Reskrim dalam konferensi pers di gedung PPA Satreskrim Polresta Mataram, Selasa 31 Mei 2022.

Ilustrasi (net)

Kadek Adi yang didampingi Waka Sat Reskrim, Kasi Humas dan penyisik Unit PPA Reskrim Polresta Mataram, menjelaskan, berdasarkan hasil visum, korban mengalami luka pada bagian kelamin baik luka lama maupun luka baru.

“Berdasarkan hasil visum tersebut Tim Ops Satreskrim Polresta Mataram mengambil langkah cepat dan mengamankan bapak tiri korban,” ucapnya.

Dari keterangan pelaku dan korban kepada Penyidik, kasus persetubuhan awal mula terjadi di rumah pelaku pada Agustus 2021. Kemudian pelaku mengulangi perbuatannya lagi di bulan Desember 2021. Karena merasa sudah terbiasa, terduga kembali melakukan perbuatan bejadnya pada bulan Januari 2022.

Peristiwa di bulan Mei 2022 itulah yang akhirnya menguak perilaku bejad terhadap korban. Kakak korban curiga melihat kelakuan bapak tirinya itu. Sang kakak kemudian menceritakan kecurigaannya kepada ibu kandungnya yang selanjutnya melapor ke Polresta Mataran.

Kadek Adi menyatakan, pihaknya telah mengantongi beberapa alat bukti, termasuk hasil visum, pakaian korban serta uang tunai yang diberikan tersangka kepada korban sebagai bentuk iming-iming agar korban mau melayaninya.

“Bukti yang kami miliki sudah sangat cukup untuk memproses tindak pidana tersangka. Saat ini tersangka sudah kami tahan di rutan Polresta Mataram,” tandasnya.

Tersangka dijerat dengan pasal 81 Jo 76 D UU no 35 tahun 2014 atas perubahan UU no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo UU no 17 tahun 2016 tentang perubahan kedua UU no 23 tahun 2002 dengan ancaman hukuman  setinggi-tingginya 15 tahun Penjara.(NK)

Komentar