Desa Talonang Baru memiliki segudang potensi, diantaranya pertanian dan pariwisata. Lahan pertanian terbentang luas, demikian pula pantai yang eksotis dengan daya tarik alami sebagai tempat bertelur penyu hijau. Namun beragam potensi itu masih belum maksimal dikelola sebagai penopang ekonomi masyarakat.
20 orang wartawan dari PWI Sumbawa Barat mengeksplore potensi Desa Talonang Baru dan mendalami apa sesungguhnya yang menjadi kendala pengembangan melalui Ekspedisi Talonang 2022.
***
Bergerak dengan kecepatan sedang diatas jalan beraspal mulus, empat mobil yang membawa rombongan wartawan PWI, peserta Ekspedisi Talonang, melaju tanpa hambatan menuju Desa Talonang Baru di ujung paling selatan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Senin pagi 22 Agustus 2022.
Sejak 2012, Talonang Baru memang sudah tidak sulit dijangkau, ketika 11 unit jembatan bantuan JICA, lembaga donor dari Jepang, dibangun untuk membuka keterisoliran desa eks UPT Transmigrasi itu. Sampai sekarang jembatan tersebut masih berdiri kokoh.
Tahun 2017, jalan nasional, penghubung dari Kecamatan Maluk dibangun plus dua unit jembatan lainnya yang bersumber dari APBN. Sejumlah tanjakan yang sebelumnya menjadi momok para pengemudi juga dipapas sehingga menjadi lebih landai. Sekarang, menuju Talonang Baru hanya butuh waktu maksimal 3 jam dari Taliwang, Ibukota KSB. Hutan rimba nan biru, lengkap dengan suara burung dan aneka satwa lainnya, serta jalan berkelok yang indah, menjadi bonus selama perjalanan.
Ketika rombongan memasuki Dusun Lemar Lempo, pintu masuk Talonang dari Utara, ladang jagung yang telah usai dipanen terhampar luas. Di kejauhan Samudera Indonesia membentang biru sejauh mata memandang.
Hewan ternak nampak merumput di sepanjang jalan melintasi ladang yang kami lalui. Ladang – ladang tersebut dipanen pada Juni hingga Juli lalu. Batang-batang jagung dibiarkan berserakan dan mengering bersama rumput liar yang juga terlihat menguning.

Lahan pertanian di Talonang Baru memang hanya bisa ditanami sekali setahun, karena mengandalkan hujan sebagai sumber pengairan (tadah hujan). Padahal lahan pertanian di sana tergolong sangat subur. Dalam satu kali musim tanam, per hektar bisa menghasilkan 8 hingga 9 ton jagung. Berdasarkan data desa, luas lahan pertanian di desa tersebut mencapai 1.250 hektar (diluar lahan pekarangan 75 are per KK). Jika dirata-ratakan setiap kali panen, produksi jagung di Talonang Baru mencapai 8.000 ton lebih.
Tapi, hasil jagung yang diusahakan petani Talonang, tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sepanjang tahun. Ini karena sebagian besar petani mesti melunasi pinjaman ke Bank dalam bentuk KUR yang digunakan sebagai modal setiap awal musim tanam untuk pengolahan lahan, ongkos tenaga kerja, pupuk hingga obat-obatan.
“Ladang – ladang ini memang bersertifikat atas nama petani, tetapi dikuasai Bank. Itu sebabnya ketika harga jagung anjlok, petani Talonang pasti kelimpungan, karena dibayangi pinjaman Bank yang harus dibayar. Kalaupun ada sisa hasil panen, tetap tidak cukup untuk biaya hidup sampai musim tanam tahun berikutnya,” ungkap Rizal, salah seorang warga dalam silaturahmi dengan rombongan Ekspedisi Talonang di kantor desa setempat.
Warga lainnya, Mukhsin, menyebut, pengairan menjadi kendala utama pengembangan pertanian di Talonang Baru. Seandainya ada irigasi, petani bisa menanam dua kali setahun. Meski bukan jagung, di musim tanam kedua, petani bisa menanam tanaman hortikultura seperti sayur dan buah yang bisa diandalkan sebagai penghasilan tambahan.
Kepala Desa Talonang Baru, Budi Haryo, mengatakan, sebenarnya sudah ada embung yang dibangun pemerintah, tetapi karena debit air yang kurang, keberadaan embung tersebut tidak bisa menjadi solusi. Pemerintah desa telah mendapatkan solusi lain agar lahan petani bisa ditanami dua kali setahun, yakni dengan sumur bor dalam.
Rencananya, sumur bor akan dibangun di setiap blok lahan yang dikelola masing-masing kelompok tani. Terdapat sebanyak 22 kelompok tani di Talonang Baru. Tapi karena keterbatasan anggaran desa, saat ini baru dua sumur bor yang dibangun. Itupun diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan air bersih penduduk yang berjumlah 574 KK.
“Disini ada 6 sumur bor dalam, 4 unit bantuan JICA dan PTNNT (sebelum PTAMNT) namun sisa tiga unit yang beroperasi. Sedangkan yang dibangun desa 2 unit. Itu yang saat ini jaringan pipanya sedang dipasang untuk mencukupi kebutuhan air bersih warga. Sementara untuk irigasi, kami merencanakan di tahun 2023,” ungkap Kades Budi.
Pemerintah Desa, kata Dia, tidak bisa memenuhi secara keseluruhan kebutuhan sumur bor itu, karena anggaran yang terbatas. Karenanya ia berharap pemerintah dan pihak swasta seperti Amman Mineral bisa turut membantu.
Kendala pengairan juga menjadi factor penghambat pengembangan food estate di desa tersebut. Talonang Baru memiliki 100 hektar lahan yang saat ini dikelola sebagai Food Estate. Lahan milik negara berstatus hutan produksi itu dibuka oleh TNI kemudian diserahkan untuk dikelola kelompok masyarakat sebagai penopang ketahanan pangan. Dalam dua tahun terakhir, lahan food estate baru sebatas ditanami jagung. Kendati ada sumur bor dalam yang telah dibangun di lokasi itu, namun sampai sekarang belum bisa digunakan karena jaringan pipa irigasi belum ada.
Tidak hanya jagung, lahan food estate ini juga direncanakan untuk pengembangan agro forestry (tanaman hortikultura, buah dan kayu).
“Tetapi sampai sekarang belum terealisasi, salah satunya karena kendala pengairan. Paling tidak kami butuh tiga unit sumur bor lagi untuk pemenuhan kebutuhan air,” kata Syaifullah, Koordinator Kelompok Tani Hutan Sampar Baru, pengelola food estate.(*)







