Menggali Sejarah Pemerintahan, Ekonomi dan Etnografi Lewat Buku ‘Sumbawa Tahun 1876’

KabarNTB, Sumbawa – Wakil Bupati Sumbawa, Hj. Dewi Noviany, membuka  Kegiatan Bedah Buku “Sumbawa Tahun 1876” (Catatan Tentang Pemerintahan, Ekonomi dan Etnografi Kesultanan Sumbawa), kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai II SMAN 2 Sumbawa Besar, Jumat pagi 28 Oktober 2022.

Wakil Bupati mengutip sebuah ungkapan yang berbunyi “Buku Adalah Jendela Dunia”, yang menggambarkan betapa pentingnya buku, karena memberikan banyak pengetahuan kepada manusia. Zaman dan ide-ide baru, bahkan dapat menyingkap tabir masa lalu menjadi sebuah memori kolektif sekaligus pedoman bagi seluruh masyarakat.

“Membaca buku dapat memperluas wawasan, dapat mengubah pola pikir menjadi lebih terbuka terhadap perkembangan zaman, memahami masa kini dan masa yang akan datang, sebagaimana pesan yang ingin disampaikan melalui buku Sumbawa Tahun 1876 ini,” ucapnya.

Wabup menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara kegiatan bedah buku ini, khususnya kepada alih bahasa buku “Sumbawa Tahun 1876”, seorang penulis muda berbakat yang memiliki konsen tinggi dalam penelusuran sejarah Sumbawa, Poetra Adi Soerjo.

“Sungguh saya mengagumi tulisannya yang mengalir jernih, dan menikmati setiap untaian kata dan kalimat yang tersaji secara apik dalam buku ini,” pujinya.

“Yang dihajatkan melalui kegiatan bedah buku ini, kiranya sejalan dengan apa yang menjadi visi besar pemerintahan kami saat ini, yaitu terwujudnya Sumbawa Gemilang yang Berkeadaban. Sumbawa gemilang mengandung makna bahwa Kabupaten Sumbawa memiliki daya saing kuat serta mampu berkompetisi baik di tingkat regional, nasional maupun internasional,” urai Wabup.

“Adapun, berkeadaban mengandung makna bahwa masyarakat Sumbawa memegang teguh nilai-nilai agama dan budaya, yang selaras dengan falsafah hidup tau samawa, yakni : Adat barenti ko syara’, syara’ barenti ko Kitabullah dengan berlandaskan kaidah : Takit ko nene, Kangila boat lenge,” timpalnya.

Ia juga mengutip tulisa Fahri Hamzah tentang “Sumbawa Tahun 1876”, bahwa Sumbawa dibangun diatas satu sistem monarkhi konstitusional yang kokoh, bukan monarkhi absolut.

Menurut Fahri, pendirian pada sistem monarkhi konstitusional di era jayanya sistem monarkhi adalah satu penanda maju dari sebuah peradaban umat manusia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Sumbawa pada masa lampau telah mengenal sistem pemerintahan modern, yang hal itu tentu lahir dari pergumuluan orang-orang sumbawa tempo dulu dengan ide-ide besar dunia.

“Semoga kegiatan bedah buku ini dapat bermanfaat untuk memperkaya khazanah keilmuan di bidang etnografi sekaligus menambah wawasan serta meningkatkan pemahaman masyarakat secara lebih mendalam tentang warisan budaya dan kearifan lokal Sumbawa,”.

Ia juga mengajak semua pihak untuk menulis. Dengan menulis, kenurutnya, manusia bisa memperkaya ilmu, dapat menyuarakan aspirasi, memotret kejadian, bahkan merekam jejak sejarah, sebagai pijakan bagi manusia menuju masa depan yang lebih baik. “Ketika kita mampu menghidupkan pemikiran dan mengasah kreativitas menulis, maka kita akan terbiasa menulis, yang pada akhirnya berbudaya menulis,” pungkasnya.

Kegiatan bedah buku dihadiri dihadiri oleh Kepala SMAN 2 Sumbawa Besar beserta Para Guru, Camat Sumbawa, Kepala Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sumbawa, Para Narasumber Pembedah, Penulis/Alih Bahasa, serta Siswa-siswi SMAN 2 Sumbawa besar.(JK)

Komentar