Hari Pertama Pertama Simulasi e-Voting, DPMD Temukan Kendala Delay Pembacaan Data Pemilih

KABAR UTAMA5 Dilihat

KabarNTB, Sumbawa Barat – Kegiatan sosialisasi dan simulasi pemungutan suara elektronik (e-voting) Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Sumbawa Barat telah dimulai dan disambut antusias warga.

Di hari pertama, Senin 1 Oktober 2026, kegiatan di awali di tujuh desa di Kecamatan Poto Tano. Warga datang berbondong – bondong ke lokasi dan mengantri dengan tertib menunggu giliran untuk mencoba menggunakan perangkat e-voting yang disiapkan DPMD.

Proses simulasi itu dimulai dengan pemanggilan pemilih oleh petugas. Pemilih besangkutan menunjukkan surat undangan dari KPPS dan kemudian diberikan kartu suara. Kartu suara itu kemudian dimasukkan kedalam mesin yang langsung membacanya dan menapilkan data pemilih di layar.

Warga Desa Tambak Sari Kecamatan Poto Tano nampak antusias mengikuti kegiatan simulasi e-voting dalam rangka Pilkades serentak yang dilaksanakan PPKD dan DPMD (foto: Rahmad)

Kabid Pemerintahan Desa DPMD KSB, Yayan Anugrainsyah, mengatakan secara umum kegiatan sosialisasi dan simulasi berjalan sukses. Kendati ada kendala, tetapi bisa diatasi oleh petugas lapangan yang ditugaskan khusus untuk mendampingi warga dalam kegiatan simulasi.

“Kendala yang kita temukan kemarin berupa keterlambatan (delay) respon perangkat untuk menampilkan data pemilih di layar ketika kartu suara dimasukkan. Harusnya ketika kartu dimasukkan data pemilih langsung tampil di layar. Namun kendala tersebut langsung bisa ditangani oleh petugas KPPS. Disamping itu kita juga menyiapkan Tenaga Tekhnis Lapangan (TTL) yang akan standby di setiap TPS di hari pencoblosan agar kalau terjadi kendala bisa segera ditangani,” ungkap Yayan.

Petugas KPPS juga akan bertugas untuk mendamongi pemilih Lansia atau pemilih berkebutuhan khusus yang mungkin akan mengalami kesulitan menggunakan perangkat e-voting.

“Nanti akan didampingi dan diarahkan oleh KPPS. Yang unggul dari sistem ini dibandingkan pencoblosan manual, adalah tidak ada suara rusak. Jadi semua suara pemilih terakomodir,” imbuhnya.

Persoalan lain yang sedang dicarikan solusinya oleh DPMD adalah NIK ganda (dua orang pemilih dengan NIK yang sama). Keberadaan pemilih dengan NIK ganda ini tidak bisa dibaca oleh sistem.

Pemilih dengan NIK ganda, ketika kartu suara dimasukkan ke mesin otomatis ditolak oleh sistem.

“Ini sedang kita selesaikan perbaikannya, termasuk dengan melibatkan tim IT. Selain itu kita juga akan melaksanakan pelatihan untuk pemantapan Tenaga Teknis Lapangan yang akan bertugas di setiap TPS. Ini penting agar mereka benar-benar paham tentang pengoperasian perangkat e-voting,” pungkas Yayan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses