Ketua PKK NTB Singgung Catatan Perkembangan Anak Bolong dan Kelas Pra Nikah Belum Maksimal

KabarNTB, Mataram – Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTB, Hj. Erica Zainul Majdi menyinggung soal catatan perkembangan kesehatan anak dalam buku posyandu “yang bolong-bolong” dan kelas ‘Pra Nikah” salah satu program TPPKK NTB yang belum maksimal dilaksanakan.

‘Catatan bolong – bolong’ menurutnay disebabkan orang tua tidak teratur membawa dan memeriksakan anaknya ke posyandu terdekat. Sehingga menjadi sulit terpantau perkembangan dan kebutuhannya.

“Ternyata itu disebabkan karena posyandu tidak menyiapkan uang jalan dan juga tidak menyiapkan jajan/snack diposyandu,” tutur Hj. Erica, dalam konfrensi Pers peluncuran Aplikasi THRIVE OpenSRP (open Smart Register Platform) di ruang rapat Sekda NTB, Selasa, 2 mei 2017.

Ketua TP PKK NTB, Hj Erica Zainul Majdi

Catatan seperti ini, katanya, penting diperhatikan sebagai resep untuk menggerakkan dan menggiatkan masyarakat untuk termovitasi dan terlibat aktif pada kegiatan posyandu.

Sementara terkait program “kelas pranikah” yang diprakarsai oleh PKK, Bunda PAUD NTB ini mengatakan belum dapat dieksekusi secara maksimal karena melibatkan lintas sektor seperti kementerian agama, pendidikan, kesehatan dan stakeholder lainnya, sehingga memerlukan koordinasi yang lebih ekstra.

Dijelaskannya, dari target 25 orang pasangan orang tua atau calon orang tua yang mengikuti kelas pranikah tersebut, dalam tahap awal ini baru 6 pasang yang telah selesai mengikuti program tersebut.
Ditanya wartawan tentang hasil yang dicapai, istri Gubernur NTB ini mengakui hasilnya saat ini belum dapat dilihat.

“Paling cepat satu tahun ke depan, baru terlihat, mengingat pasangan yang baru menikah, kira-kira paling cepat 1 tahun ke depan baru akan melahirkan,” terangnya.

Namun Hj.Erica memastikan hasilnya, pasti lebih baik. Karena orang tua atau pasangan yang memiliki pengetahuan tentang kesehatan, program sadar gisi, pemahaman asupan ibu hamil dan nutrisi, tentu akan melahirkan bayi-bayi yang sehat.

Terkait dengan pemberian 10.000 sulement mikronutrisi kepada para ibu hamil di 100 desa, Hj. Erica menuturkan berdasarkan pengalaman pribadinya, pemberiaan saat hamil, kurang efektif. Sehingga disarankan pemberian nutrisi itu lebih baik diberikan 6 bulan menjelang kehamilan. (Yus)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.