‘Jaringan Bawah Tanah’ PAN Sumbawa Terus Bergerak untuk Ahyar – Mori

KabarNTB, Sumbawa – Meski tim sukses pemenangan dari gabungan partai politik pengusung belum resmi terbentuk, namun para kader dan simpatisan Partai Amanat Nasional (PAN) di Sumbawa terus bergerak memenangkan pasangan TGH Ahyar Abduh – H Mori Hanafi di Pilgub 27 Juni 2018 mendatang.

“DPD PAN Sumbawa menegaskan sangat siap mengamankan amanat DPP PAN, untuk memenangkan Pilgub NTB, bahkan melalui Tim jaringan bawah tanah,” ujar Anggota Fraksi PAN DPRD Sumbawa Arahman Atta, kepada KabarNTB, Rabu 28 februari 2018.

Arahman Atta, Anggota Fraksi PAN DPRD Sumbawa

Menurutnya pengaruh Mori khususnya diwilayah timur sumbawa semakin bagus, karena Akhyar-Mori ini juga mewakili masyarakat NTB khususnya Sumbawa bagian timur seperti Bima dan Dompu bahkan Kabupaten Sumbawa bagian timur di Tarano dan sekitarnya.

Arahman Atta yang juga anggota DPRD dari dapil Sumbawa I, menyatakan optimis pasangan Akhyar-Mori dapat memperoleh suara yang sangat signifikan meski secara formal tim parpol belum dibentuk.

“Di PAN juga demikian (belum ada tim), tetapi ketika ada instruksi DPP, kami harus loyal dan membuktikan. Dan itu adalah komitmen seluruh Anggota DPD PAN Sumbawa hingga ke tingkat ranting,” ucapnya.

Arahman Atta juga mengakui, menjadi bagian dari pasangan dengan dukungan parpol paling banyak merupakan beban dan tanggungjawab sangat besar. Ketika suatu parpol tidak terbukti mampu memenangkan, pasti dipertanyakan dan mungkin saja dinyatakan tidak loyal.

“Kami tidak menginginkan hal itu terjadi. Apalagi Ahyar-Mori merupakan Figur yang dapat diterima oleh masyarakat, karena memiliki kinerja yang bersih, selain itu juga dikelilingi oleh orang-orang dan keluarga bersih pula. Ketokohan Ahyar –Mori merupakan ketokohan yang bersih dan layak dijadikan panutan,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, Arahman Atta membeberkan salah satu strategi pemenangan yang sangat jitu dilakukan. Yakni dengan menggunakan jaringan bawah tanah dan komunikasi antar daerah.

Menurutnya, strategi ini tidak terbaca, karena bergerak senyap.

“Artinya ada komunikasi yang terbagun lintas daerah termasuk di kota Mataram,” ungkapnya.(JK)

iklan

Komentar