‘Gotong Royong Pemikiran’ untuk Mencapai Tujuan Bersama di Forum Yasinan

Bupati Sumbawa Barat, HW Musyafirin, duduk didepan bersama Sekretaris Daerah, Kepala Kejaksanaan Negeri, Kapolres, Dandim dan sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Bupati mendengarkan dengan seksama, aspirasi dan berbagai persoalan yang disampaikan warga secara bergiliran dalam Forum Pelayanan Setara Inklusif Andalan (Forum Yasinan), Kamis malam (2/12/21).

Hairil W. Zakariah

Forum Yasinan diselenggarakan sebagai wadah perencanaan, pengawasan sekaligus evaluasi program pembangunan yang dilaksanakan Pemerintah Daerah. Ada banyak sekali persoalan yang mengemuka, dibahas dan dicarikan solusinya dalam forum yang dilaksanakan rutin setiap Kamis malam oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) itu.

Seperti Forum Yasinan sebelumya, malam itu juga banyak masalah yang disampaikan masyarakat dari sejumlah desa / kelurahan. Masyarakat mengemukakan persoalan mengenai saluran irigasi pertanian yang tertimbun sedimen, masalah pasokan ikan yang didatangkan dari luar KSB, pemutakhiran data Kepala Keluarga (KK) sasaran Program Keluarga Harapan (PKH),  batas usia penerima program (santunan) Pariri Lansia dan Disabilitas, hingga persoalan kelangkaan gas elpiji tabung 3 kg.

Masyarakat dari sejumlah desa/kelurahan di KSB hadir dalam Forum Yasinan, Kamis malam (2/12). Forum ini menjadi wadah untuk inventarisasi, perencanaan, pembahasan rencana aksi dan evaluasi program pembangunan yang dilaksanakan. Foto : HW Zakariah

Bupati HW Musyafirin menjawab langsung pertanyaan  dan memberi klarifikasi atas persoalan-persoalan yang dikemukakan masyarakat. Para kepala OPD dan pejabat terkait lainnya juga diberi kesempatan untuk menjawab, jika persoalan yang mengemuka berkaitan dengan bidang tugas mereka masing-masing.

Sekretaris Daerah KSB, Amar Nurmansyah, menjelaskan, Forum Yasinan didesain sebagai wadah untuk inventarisasi masalah, merencanakan program, pembahasan rencana aksi, pengawasan dan evaluasi pelaksanaan program. “Tujuannya agar program nyang dilaksanakan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat dengan melibatkan masyarakat itu sendiri, mulai dari proses perencanaan, aksi, pengawasan hingga evaluasi,” jelasnya.

Sesuai fungsinya, Forum Yasinan terbukti efektif sebagai bagian dari upaya penyelesaian masalah, termasuk dalam hal penanganan dampak bencana gempa bumi tahun 2018. Saat itu, gempa beruntun mengguncang Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Gempa pertama berkekuatan 6.4 SR terjadi 29 Juli 2018. Gempa ini disusul dua gempa utama pada 5 Agustus 2018 berkekuatan 7.0 SR berpusat di Lombok Utara dan gempa 6.9 SR berpusat di Lombok Timur pada 19 Agustus 2018.

Tujuh kabupaten / kota terdampak dengan 555 orang korban jiwa dan kerugian materiil mencapai Rp10 triliun. Di Kabupaten Sumbawa Barat, gempa menghancurkan 18.430 unit rumah. 1.286 unit rusak berat, 3.835 unit rusak sedang dan 13.309 unit rusak ringan, dua orang meninggal dunia dengan kerugian materiil Rp689 miliar.

Banyak persoalan yang muncul di tahapan penanganan dampak gempa, salah satunya keterlambatan penyaluran dana rehab rekon untuk pembangunan kembali rumah korban gempa dari Pemerintah Pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Namun KSB relatif lebih siap dan lebih cepat dalam penanganan masalah tersebut karena keberadaan PDPGR sebagai istrument pembangunan. Warga korban gempa dan Agen Gotong Royong digabung menjadi Pokmas Plus yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan rehab rekon di blok wilayah (peliuk) masing-masing.  

Rehab rekon rumah korban gempa dikerjakan dengan gotong royong atau di KSB lebih dikenal sebagai Siru’ oleh Pokmas Plus, masyarakat, Babinsa TNI, serta Bhabinkamtibmas Polri. Aparatur Pemerintah Daerah dikerahkan sebagai pendamping pelaksanaan  aksi di lapangan dan pelaporan penggunaan dana Rehab Rekon oleh warga korban gempa.

“Forum Yasinan memiliki peran sangat strategis dalam penanganan dampak bencana ini, karena persoalan-persoalan yang terjadi di lapangan dibawa ke forum untuk dibahas dan dicarikan solusinya. Forum Yasinan juga menjadi wadah evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan dan progress aksi di lapangan serta pertanggungjawaban penggunaan anggaran Rehab Rekon,” urai Asisten Pemerintahan Sekretariat Daerah KSB, Mulyadi, Senin (6/12).

Hasilnya, KSB menjadi kabupaten tercepat dalam proses rehab rekon rumah korban gempa dan pemulihan pasca bencana. Hal ini mendapat apresiasi langsung dari Presiden RI, Joko Widodo yang secara khusus datang ke kabupaten dengan motto ‘Pariri Lema Bariri’ itu untuk melihat progress penanganan rehab rekon rumah korban gempa pada 18 Oktober 2018.

“Forum Yasinan menjadi wadah ‘gotong royong’ semua komponen, dalam bentuk pemikiran, ide, masukan dan pengawasan guna mencapai tujuan bersama,” demikian Mulyadi. (*)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.