KabarNTB, Sumbawa — Pemda Sumbawa Barat melalui Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) akan segera memberlakukan kartu khusus bagi masyarakat penerima subsidi gas elpiji tabung 3 kg. Kartu yang diberi nama Kartu Sigas KSB itu rencananya akan dibagikan kepada masyarakat penerima subsidi gas dan wajib dibawa ketika akan membeli elpiji 3 kg.
Sekretaris Diskoperindag KSB, Rahadian S.Pd M.Si mengatakan, Kartu Sigas KSB merupakan alat pengontrol untuk memastikan subsidi gas elpiji benar-benar tepat sasaran.
“Artinya hanya masyarakat yang berhak yang masuk dalam database penerima subsidi yang bisa membeli elpiji tabung 3 kg. Kebijakan ini juga bagian dari upaya pemerintah menghindari penyalahgunaan gas subsidi. Terutama dimanfaatkan oleh kalangan mampu dan berada,” ujar Rahadian, Senin 14 November 2022.

Dalam kartu Sigas KSB tercantum nama dan alamat pemegang kartu. Lokasi pembelian elpiji disesuaikan dengan alamat pemegang kartu bersangkutan, tidak bisa membeli ke wilayah lain. “Misalnya masyarakat dari Poto Tano, dia tidak membeli gas ke Taliwang. Dia hanya boleh di Poto Tano saja. Demikian juga, kalau tidak bisa menunjukkan kartu itu, dia tidak boleh membeli,” imbiuh Rahadian.
Ia menegaskan, penggunaan kartu untuk mengendalikan pemakai gas subsidi ini penting dilakukan. Mengingat temuan di lapangan, banyak gas subsidi dinikmati orang mampu. Ada pula agen nakal yang secara bebas menjual gas subsidi ke kios-kios dan dijual kepada masyarakat dengan harga yang lebih tinggi, tiga sampai empat kali lipat dari HET.
Berdasarkan data, penerima gas subsidi di KSB sekitar 22 ribu lebih. Dari data itu sudah dilakukan pemutakhiran sehingga masyarakat KSB yang benar-benar berhak menggunakan gas subsidi hanya sekitar 16.900 lebih. Menurut Rahadian, sekitar 5.000 lebih masyarakat yang ada di data awal sudah tidak layak dan telah dikeluarkan dari database setelah dilakukan pemutakhiran data.
“Kelangkaan gas elpiji subsidi bukan karena jumlah gas yang dikirim ke KSB kurang. Sebaliknya, gas yang dikirim ini mencukupi karena mengacu pada data yang ada. Tapi di lapangan, masyarakat mampu, termasuk kalangan ASN sendiri lebih banyak memilih menggunakan gas subsidi. Bahkan dalam satu rumah mereka bisa membeli dua sampai tiga tabung sekaligus. Tabung yang dibelipun bukan dari agen yang ditunjuk, tapi dibeli dari kios-kios dengan harga di atas HET,” tandas Rahadian.(EZ)





