Elpiji 3 Kg Langka, Diskoperindag Bentuk Tim Pengawasan

KabarNTB, Sumbawa Barat – Kelangkaan elpiji bersubsidi kemasan 3Kg yang kerap terjadi di Kabupaten Sumbawa Barat memantik reaksi keras DPRD setempat.

Senin 31 Juli 2023, Komisi II DPRD Sumbawa Barat mengundang perwakilan Pertamina, agen elpiji, dan Dinas Koperindag KSB untuk membahas masalah itu.

Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag) Sumbawa Barat, Lalu Muhammad Azhar mengatakan, kouta elpiji 3Kg yang dialokasikan untuk Kabupaten Sumbawa Barat sebanyak 3.195 metrik ton atau sebanyak 1.065 juta tabung.

Tabung gas LPG 3 Kg

Jumlah itu disalurkan oleh 168 pangkalan kepada 31.749 KK yang berhak menerima sesuai pendataan.

“Jika dibandingkan dengan rasio kouta, jumlah itu masih kurang sekitar 199 tabung perhari. Tetapi ini tidak terlalu bermasalah jika pendistribusiannya tepat sasaran,” ungkap Azhar.

Ia mengakui banyak menerima laporan soal indikasi penyebab kelangkaan ini. Diantaranya, pengguna  yang tidak tepat sasaran, serta dugaan penimbunan.

“Bahkan ada sektor sektor lain yang  diduga  memanfaatkannya, seperti Resto dan rumah makan,” sebutnya.

Pihaknya tambah Azhar, akan  terus melakukan monitoring untuk mencari tahu apa sebenarnya yang menyebabkan kelangkaan LPG 3 Kg terjadi. Karena sejauh ini, sudah tidak ada lagi kendala pengiriman.

“Monitoring dan pengawasan sudah mulai digalakkan dengan telah  membentuk tim pengawasan terdiri dari pihak Pol PP, Babinsa dan Babinkamtibmas,” katanya.

Sementara pihak Pertamina justru membantah adanya kelangkaan LPG kemasan tabung melon di KSB. Perwakilan perusahaan plat merah itu beralasan sudah menyalurkan gas sesuai dengan kuota yang ada, baik ke tingkat agen maupun pangkalan.

Klaim Pertamina itu pun beberapa kali dibantah anggota Komisi II DPRD Sumbawa Barat. Sebab, di lapangan masyarakat benar-benar kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg.

”Katanya normal, tapi banyak masyarakat yang mengeluh.  Pertanyaan sederhananya, kenapa kelangkaan bisa terjadi?,” ujar Ketua Komisi II DPRD Sumbawa Barat, Aheruddin Sidik.

Menurutnya, saat ini elpiji 3 Kg sudah menjadi bagian dari kebutuhan pokok masyarakat yang berhak menerimanya. Dulu, mungkin masyarakat masih bisa menggunakan kayu atau minyak tanah. Namun setelah konversi bahan bakar ke gas, nyaris semua orang kini sangat bergantung kepada bahan bakar tersebut.

”Keresahan masyarakat harus segera diatasi.Jangan sampai orang tidak makan gara-gara gas langka. Pertamina dan agen mengatakan pengiriman lancar, tapi ditingkat pangkalan justru keberadaannya tidak ada. Kan ini kontradiktif,” cetusnya.

Akher mengaku sempat muncul kecurigaan adanya aksi dari pihak tidak bertanggung jawab yang membuat stok elpiji langka. Aksi ini kemudian diperparah dengan keberadaan elpiji 3Kg yang justru banyak dijual bebas di pengecer.

Karena karena itu, pihaknya lanjut Aher, bakal berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk menuntaskan persoalan kelangkaan  ini.

“Setelah pertemuan ini, kami sudah mengangendakan akan bertemu langsung dengan pihak Pertamina. Kelangkaan Ini harus cepat diatasi  sehingga permasalahannya tidak terus berulang ulang,” demikian Aher.(EZ)

Komentar