Kronologi Dugaan Korupsi yang Menjerat Mantan Plt Direktur Perusda KSB

KabarNTB, Sumbawa Barat – Penyidik Kejaksaan Negeri akhirnya menetapkan tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengelolaan kuangan Perusahaan Daerah (Perusda) Sumbawa Barat, Senin 14 Agustus 2023.

Dua tersangka tersebut adalah SA, mantan Plt Direktur Perusda dan EK, pemilik CV Putra Andalan Marine (CV PAM). Namun dari dua tersangka tersebut hanya SA datang memenuhi panggilan penyidik. Ia langsung ditahan usai ditetapkan sebagai tersangka pada Senin petang. Sementara tersangka EK tidak datang memenuhi panggilan penyidik dan belum ditahan. Kajari Titin Herawati Utoro menegaskan, penyidik akan segera melayangkan surat panggilan kepada yang bersangkutan dalam status sebagai tersangka.

Kajari menjelaskan, penyidikan kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan di Perusda KSB dimulai berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Umum Nomor: PRINT-01/N.2.16/Fd.1/03/2023 tanggal 31 Maret 2023 dan Surat Perintah Penyidikan Khusus Nomor:PRINT-03/N.2.16/Fd.1/028/2023 dan PRINT-02/N.2.16/Fd.1/028/2023 Tanggal 14 Agustus 2023.

Selama proses penyidikan, Penyidik telah memeriksa 17 orang saksi. Dari keterangan saksi dan barang bukti yang berhasil dikumpulkan penyidik, kasus tersebut berawal dari kerjasama penyertaan modal Perusda KSB dibawah kepempimpinan SA dengan CV PAM pada rentang waktu tahun 2016 – 2019.  Dalam kerjasama itu Perusda KSB menyetorkan modal usaha ke CV PAM dengan rincian : Tahun 2016 total sebesar Rp. 650 juta. Rinciannya, pertama pada tanggal 18 Juli 2016 sebesar Rp. 100 juta, kedua tanggal 22 Juli 2016 sebesar Rp. 250 juta, penyetotan modal ketiga tanggal 26 juli 2016 sebesar 150 juta, dan keempat tanggal 19 agustus 2016 sebesar Rp 150 juta.

Tahun 2017 CV PAM melakukan pengembalian modal ke Perusda KSB sebesar Rp. 150 juta. Namun pada pada 13 Mei 2017 Perusda KSB kembali menyetor penyertaan modal ke perusahaan yang bergerak dibidang pengadaan peralatan kelautan dan perikanan itu sebesar Rp. 400 juta.

Tidak sampai disitu, pada tanggal 22 Maret 2018, Perusda KSB kembali menyetor modal ke CV PAM sebesar Rp.350 juta. Selanjutnya pada tanggal 23 Maret 2018 sebesar Rp. 250 juta, serta pada tanggal 19 Juni 2018 disetorkan penyertaan modal sebesar Rp. 500 juta.

Terakhir, pada tahun 202o, Perusda KSB meminjam dana dari CV PAM sebesar sebesar Rp.100 juta. “Sehingga penyertaan modal antara Perusda dengan CV PAM terjadi dari tahun 2016 sampai  2020 sebesar Rp. 2.100.000.000 (2,1 miliar). Yang mana terbagi penyertaan modal sebesar Rp. 2 miliar dan pinjaman Rp. 100 juta,” beber Kajari.

Penyidik berkesimpuilan bahwa kerjasama penyertaan modal tersebut dilakukan dengan mekanisme yang tidak sesuai yaitu modal diberikan terlebih dahulu kepada CV. PAM sedangkan perjanjian kerjasama dibuat jauh belakangan dari tanggal diberikannya modal tersebut. Disamping itu, CV. PAM hanya beberapa kali melaksanakan kewajiban menyetorkan bagi hasil atas Kerjasama itu ke Perusda KSB.

“Sampai saat ini sementara kerugian yang ditimbulkan adalah sebesar Rp 2,1 miliar. Namun tidak menutup kemungkinan nominal tersebut akan bertambah lagi karena masih menunggu penghitungan kerugian keuangan negara dari BPKP Provinsi NTB,” pungkas Kajari.(EZ)

Komentar