Sumbawa Besar, KabarNTB
Nyanyian burung terdengar samar di bawah kanopi hutan Cagar Alam (CA) Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Pagi itu dalam bulan Mei 2026, udara hutan terasa lembab saat sebuah tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB Wilayah II Pulau Sumbawa dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) melangkah senyap membelah rimbunnya vegetasi hutan menuju site Brang Singa, ‘rumah’ Si Jambul Kuning. Mereka mengemban mandat yang sangat spesifik: mendata populasi satwa yang paling ikonik sekaligus terancam punah, Burung Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea).
Hasil penjelajahan dibulan itu membawa kabar gembira. Tim berhasil mendeteksi enam ekor kakatua yang tersisa di kawasan tersebut. Bagi sebuah kawasan yang menjadi benteng pertahanan terakhir, angka enam tentu teramat kecil. Namun di balik data itu ada secercah asa. Pada pemantauan di lokasi yang sama tahun 2025 lalu, tim hanya menemukan tiga ekor burung. Lonjakan kecil ini menjadi sinyal positif bahwa upaya konservasi otoritas pemerintah dengan swasta mulai membuahkan hasil.
Cagar Alam Jereweh membentang seluas 5.625 hektar. Salah satu sisinya berbatasan dengan konsesi tambang Batu Hijau milik AMMAN. Meski ‘rumah’ Si Jambul Kuning dicagar alam tersebut berjarak cukup jauh dari hiruk-pikuk kegiatan pertambangan, AMMAN memilih tidak berpangku tangan.
Salah satu perusahaan tambang emas dan tembaga terbesar di Indonesia ini berkomitmen bahwa operasional mereka harus tumbuh selaras dengan pelestarian lingkungan.
Kolaborasi tersebut diformalkan dalam bulan Desember 2025 bertajuk kerja sama memperkuat fungsi Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (KSDAHE). Kerjasama konservasi berdurasi lima tahun itu tidak hanya mencakup Cagar Alam Jereweh, tapi juga meluas ke Cagar Alam Pedauh dan Taman Wisata Alam Danau Rawa Taliwang. Melalui payung kemitraan tersebut, strategi penyelamatan disusun secara komprehensif dari hulu ke hilir.
Menambang dengan Hati
Wakil Presiden Komunikasi Korporat di AMMAN, Kartika Octaviana dalam keterangan tertulisnya menegaskan, salah satu implementasi kunci dari kolaborasi ini berlangsung di Cagar Alam Jereweh melalui konservasi Kakaktua Jambul Kuning, spesies burung endemik yang saat ini menghadapi ancaman kepunahan.
Kerjasama kedua belah pihak sambungnya mencakup inventarisasi satwa prioritas, perlindungan kawasan dan pemantauan lingkungan dengan melaksanakan SMART Patrol. Kemudian penanganan konflik satwa, edukasi konservasi serta penelitian dan publikasi terkait KSDAHE.
Pelibatan warga lokal dalam menjaga populasi satwa serta pemberdayaan masyarakat melalui pembangun community nursery untuk pembibitan tanaman kehutanan, tanaman obat, dan Multi-Purpose Tree Species (MPTS) juga menjadi perhatian. “Program ini meluas melampaui perlindungan satwa liar. AMMAN memposisikan masyarakat lokal sebagai garda terdepan konservasi. Warga diberdayakan untuk memantau habitat dan berperan sebagai pendidik konservasi aktif. Di bawah model ini, perlindungan lingkungan tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui harmoni dengan alam.”
”Di AMMAN, kami percaya bahwa setiap langkah yang diambil perusahaan harus meninggalkan jejak yang memberi kehidupan. Kemitraan dengan BKSDA NTB merupakan bagian dari serangkaian inisiatif strategis yang bertujuan untuk memastikan perlindungan lingkungan yang berkelanjutan. Kami ingin memastikan bahwa keindahan dan keanekaragaman hayati Sumbawa Barat bukan hanya cerita untuk cucu-cucu kita, tetapi warisan hidup yang terus berkembang. Inilah misi kami: menambang dengan bertanggung jawab, dan melindungi dengan sepenuh hati,” pungkas Kartika.
Menjaga Warisan Alam
Langkah taktis AMMAN dan BKSDA menyelamatkan populasi Kakatua Kecil Jambul Kuning dari kepunahan mendapat sokongan penuh dari pemerintah daerah. Bupati KSB, H Amar Nurmansyah ST MSi yang ditemui Selasa (04/08) menegaskan pemerintah daerah tidak akan menahan diri untuk membantu menyukseskan misi penyelamatan burung eksotis tersebut.
Masih kata Amar, membiarkan burung bermahkota kuning ini lenyap dari bumi adalah kegagalan sebuah generasi dalam menjaga warisan alam. “Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat berdiri di barisan depan dalam mendukung segala bentuk upaya konservasi. Apa pun bentuk konservasi yang dilakukan BKSDA dan AMMAN, kami siap memberikan support sepenuhnya,” tegasnya.
Komitmen menyelamatkan si Jambul Kuning tidak hanya datang dari pihak eksekutif. Parlemen Sumbawa Barat pun menyuarakan nada yang sama.
Anggota Komisi III yang membidangi pembangunan dan lingkungan hidup, H Basuki menyatakan legislatif berada di satu visi yang sama dengan pemerintah daerah dan mitra konservasi. “Apa pun bentuk kegiatannya, kami dari DPRD tentu mendukung penuh konservasi burung Kakatua Jambul Kuning,” ujar Basuki singkat namun tegas.
Burung Mini Nan Unik
Di Nusa Tenggara Barat (NTB), burung Kakatua Kecil Jambul Kuning hanya bisa ditemukan didua lokasi di Pulau Sumbawa : Pulau Moyo (Taman Nasional Moyo Satonda) dan Cagar Alam Jereweh. Kondisi populasinyapun serupa, kritis dan sama-sama diambang punah. Karena itu pemerintah melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 mengkatagorikan burung Kakatua Kecil Jambul Kuning masuk dalam list satwa yang dilindungi, dan masuk dalam daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) dengan katagori tertinggi yakni kritis terancam punah [critically endangered].
Ditemui dikantornya di Jalan By Pass Sumbawa, Kepala BKSDA NTB Wilayah II Pulau Sumbawa, Lalu Abdul Gani membeberkan tiga faktor utama yang menjadi momok menakutkan bagi kelestarian burung ini. Yang pertama, perburuan liar yang dipicu oleh tingginya nilai ekonomi burung itu di pasar ilegal. Kemudian, deforestasi yang mengikis ruang hidup mereka dari tahun ke tahun. Serta fragmentasi habitat yang diperparah oleh perubahan lingkungan dan krisis ketersediaan pakan.
Kata Abdul Gani, merawat Kakatua Jambul Kuning di Cagar Alam Jereweh bukanlah perkara mudah. Cagar alam seluas lima ribuan hektar itu hanya dipamong oleh enam orang petugas jagawana. Karenanya kehadiran AMMAN diprogram kerjasama KSDAHE sangat membantu. Gani mencontohkan pada kegiatan pemantauan satwa di site Brang Singa yang memakan waktu 6 sampai 7 jam berjalan kaki dari desa terdekat. Namun kini, waktu tempuh itu dipangkas menjadi 20 menit. Petugas langsung diterbangkan kelokasi menggunakan helikopter milik AMMAN.
Menjawab apa urgensi menjaga Si Jambul Kuning dari kepunahan ? Gani menyebut satwa berparuh bengkok tersebut bukan sekadar burung biasa. Morfologi dan taksonominya unik yang membedakannya dari jenis kakatua lainnya.
Dari sisi morfologi, ukuran tubuhnya paling mini daripada keluarga kakatua yang hidup di Maluku, Papua ataupun di Australia. Karena itulah Kakatua Jambul Kuning di Pulau Sumbawa ada tambahan embel-embel ‘Kecil’ dinamanya. “Kakaktua di (pulau) Sumbawa ukurannya paling mini. Bobotnya hanya 0.3 sampai 0,5 kilo gram,” sebut Gani seraya menambahkan, bandingkan dengan keluarga kakatua lain seberat 1,2 sampai 1,5 kg.
Selain ukurannya yang mini, taksonomi burung kakatua di CA Jereweh masih menyimpan misteri. Jika kerabatanya di Pulau Moyo sudah terkonfirmasi sebagai sub spesies Cacatua sulphurea occidentalisi. Namun bagi kawanan yang menghuni CA Jereweh, para peneliti belum berani memastikannya. Namun ada dugaan kuat bahwa kakatua di CA Jereweh merupakan jenis occidentalis yang sama. Meski begitu, kepastiannya masih menggantung. Dibutuhkan penelitian lanjutan ke level pengujian DNA untuk menguak identitas genetik asli mereka.
Harapan besar kini digantungkan pada kolaborasi lima tahun AMMAN dan BKSDA. Di balik kerja sama ini, ada nasib enam ekor kakatua CA Jereweh yang menjadi simbol hidup pertaruhan ekologis Sumbawa Barat.
Menjaga mereka tetap hidup dengan bebas adalah misi yang kini berkejaran dengan waktu. Kemitraan ini tidak boleh gagal. Sebab jika kalah cepat, suara melengking Si Jambul Kuning akan hilang selamanya, dan hutan hanya akan menyisakan kesunyian yang panjang. (IR)






