KabarNTB,Mataram – Pasangan Calon Gubernur – Calon Wakil Gubernur NTB, DR Zulkieflimansyah – DR Hj Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi) memiliki cara tersendiri untuk menjaga stabilitas harga komoditi pertanian di NTB terutama di sektor pertanian tanaman pangan.
Pasangan nomor urut 3 ini paham betul bahwa stabilitas harga komoditi padi dan jagung, akan bermuara pada peningkatkan kesejahteraan petani yang dapat diukur dengan indeks Nilai Tukar Petani (NTP) yang disusun BPS nantinya.
Persoalannya, selama ini harga komoditi sektor tanaman pangan khususnya padi dan jagung kerap tidak stabil. Jika musim panen harga anjlok sangat murah. Sementara jauh dari musim panen, harga meningkat tajam dan menyebabkan inflasi daerah.
Doktor Zul menilai, ketidakstabilan harga komoditi itu disebabkan lantaran belum hadirnya industri-industri pengolahan yang bisa menampung hasil produksi pertanian petani di NTB.

Menurut dia, pendekatan yang digunakan selama ini masih terkesan pendekatan snapshoot yang hanya menyelesaikan masalah ketika ketidakstabilan harga terjadi, tanpa mengatasi akar masalahnya.
Sehingga menjadi masalah klasik yang tiap tahun terjadi.
“Misalnya, ketika harga anjlok maka petani diberi bantuan dan stimulan, sementara saat harga tinggi pemerintah melakukan operasi pasar untuk melindungi masyarakat kurang mampu,” ucapnya.
“Zul-Rohmi tidak menggunakan pendekatan yang snapshoot seperti itu, tapi pendekatan yang berkesinambungan dan menukik ke akar masalahnya. Banyak ketidakstabilan ini bukan hanya masalah pangan, tapi karena tidak hadirnya industri pengolahan,” kata Doktor Zul, lewat pernyataan resni kepada redaksi, Senin 28 mei 2018.
Ia mengatakan, produksi gabah dan jagung di NTB selalu surplus, namun ketidakstabilan harga masih terjadi. Sebab, selama ini komoditi yang dijual keluar masih dalam bentuk mentah.
“Harga tidak stabil karena, baik yang diserap Bulog maupun yang kita kirim keluar, ke Bali Jakarta dan Surabaya dalam bentuk mentah. Tugas kami adalah bagaimana mendorong agar industri pengolahan hadir, sehingga nilai tambah muncul. Kalau itu terjadi Insya Allah ketidakstabilan itu bisa dicegah, bahkan bisa jadi ekonomis produksi,” urainya.
Dirinya mengakui, untuk menghadirkan industri pengolahan bukan persoalan sederhana dan membutuhkan komitmen juga waktu. Sebab, daerah juga harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.
“Memang bukan masalah sederhana, karena ini tidak semudah membalik telapak tangan. Sehingga kita juga hadirkan infrastruktur
non-fisik di Kampus-Kampus untuk menciptakan SDM yang kondusif tentang itu,” katanya.
Doktor Zul menambahkan, kehadiran industri pengolahan dan penyiapan SDM yang memadai akan memperkuat posisi NTB yang selama ini merupakan lambang lumbung pangan nasional.
“Jadi jangan sampai petani kita ini miskin di tengah keberlimpahan kita. Kenapa kita tidak datang dengan pendekatan yang mendasar, hadirnya industri pengolahan, itu akan menjadi nilai tambah,” tukasnya.
Peran sektor perbankan juga akan ditingkatkan untuk upaya stabilisasi harga komoditi pertanian dan juga untuk peningkatan kesejahteraan petani di NTB.
Selama ini, kredit perbankan yang dikucurkan sebagian besar masih
didomonasi kredit konsumtif, dan juga akses petani untuk pinjaman
modal masih sangat terbatas.
“Kami juga akan dorong peran perbankan di NTB, tapi dengan cara berpikir agak berbeda. Perbankan ini harus ada political will untuk mendorong kredit modal usaha dan kredit ke hal yang produktif,” katanya.(JK/VR)






