PU Pastikan Pipa Induk Rusak Akibat Alat Berat, PDAM : Perbaikan Butuh Biaya Besar!

KabarNTB, Sumbawa Barat – Tim dari Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Pemukiman (PUPRPP), memastikan terjadi kerusakan jaringan pipa induk PDAM di Tiu Poso Desa Bangkat Monteh, Kecamatan Brang Rea.

Kasi penyediaan fasilitas air bersih dan limbah bidang Cipta Karya DPUPRPP KSB, Burhanuddin yang memimpin Tim melakukan pengecekan ke lokasi pada Senin 21 Januari 2019, menegaskan kerusakan itu akibat aktifitas alat berat.

“Ada sejumlah titik kebocoran parah dan ada badan pipa yang gepeng. Dari keterangan petugas pengawas PDAM, sebelumnya ada aktifitas alat berat membangun jalan akses untuk pengambilan material di lokasi dimaksud. Sudah dingatkan tetapi tidak diindahkan,” jelas Bur.

Aktifitas penggalian material menggunakan alat berat dan truk di dekat lokasi pipa induk PDAM di Tiu Sopo desa Bangkat Monteh (Foto : Dok PDAM KSB)

Pihaknya, lanjut Bur, pada hari itu juga langsung bertemu dengan perwakilan tiga perusahaan yang menjadi pelaksana proyek Bendungan Bintang Bano. Dalam pertemuan itu pihak perusahaan sempat menyangkal bahwa alat berat mereka yang menyebabkan kerusakan. Tetapi Tim menegaskan bahwa tidak ada alat berat lain, selain untuk kepentingan proyek Bintang Bano yang beroperasi di lokasi dimaksud. Pihak pelaksana akhirnya menyetujui untuk melakukan perbaikan atas kerusakan yang terjadi.

“Kami sudah meminta pihak PDAM untuk menyusun RAB perbaikan dan menstresing pihak yang bertanggungjawab untuk melaksanakan perbaikan segera karena ini menyangkut pelayanan kepada masyarakat,” pungkas Burhanuddin.

Ditemui terpisah, Dirut PDAM KSB, Bambang ST, menyatakan perbaikan jaringan pipa induk berbahan baja berdiameter 16 Inc, penghubung intake dan IPA dimaksud membutuhkan biaya besar, tenaga dan waktu yang lama.

Dari pengecekan yang dilakukan, terdapat tiga ruas pipa (total 18 meter) yang bocor dan pipih akibat alat berat. Sementara harga per satu lonjor pipa mencapai angka belasan juta, itu belum termasuk biaya mobilisasi ke lokasi. Selain itu juga dibutuhkan biaya tenaga dan akomodasi yang tidak sedikit karena lokasinya yang jauh, serta alat berat dan waktu yang lama.

Dalam kondisi cuaca yang tidak menentu seperti saat ini, Bambang menyatakan mustahil perbaikan atau penggantian pipa bisa dilakukan, karena sewaktu – waktu debit air sungai bisa naik dan membahayakan para pekerja.

“Karena itu petugas kami di lapangan berulang kali mengingatkan agar jangan mengambil material di lokasi tersebut, tapi tidak diindahkan,” sebutnya.

Di satu sisi, kondisi pipa yang bocor, rusak dan saat ini mengambang di dalam air harus segera ditangani karena bisa patah setiap saat. Jika itu terjadi maka dapat dipastikan pelayanan air bersih terhenti dan PDAM akan menjadi sasaran komplain pelanggan.

“Jadi kami minta pihak yang bertanggungjawab juga melakukan penanganan darurat untuk antisipasi pipa patah, sementara menunggu perbaikan secara menyeluruh,” tegasnya.

Persoalan kerusakan pipa ini diakui Dirut PDAM memang belum menimbulkan pengaruh signifikan terhadap pelayanan kepada pelanggan, karena level air masih cukup tinggi. Tetapi jika dibiarkan kerusakan akan semakin parah dan tidak tertutup kemungkinan pipa bisa patah akibat debit air sungai yang tinggi jika turun hujan.

“Ini baru awal musim hujan, nanti puncaknya di bulan Februari – Maret. Jadi harus ada langkah antisipasi darurat yang dilakukan untuk menjaga pipa itu tidak patah,” tegasya.

Dari kerusakan yang terjadi, Ia memastikan bahwa pipa-pipa tersebut harus diganti baru. Untuk pergantian ini dibutuhkan waktu sekitar 20 hari jika kondisi cuaca mendukung dan paling tidak satu bulan jika air sungai meluap.

“Kenapa butuh waktu lama, kerena lokasinya ditengah aliran sungai berarus deras, butuh bantuan alat berat dan pengelasan. Untuk mengelas satu titik saja, butuh waktu lebih dari tiga jam,” cetusnya.

Bambang mengingatkan pihak pelaksana Proyek Bintang Bano untuk menjadikan masalah ini sebagai pelajaran agar kedepan tidak sembarangan lagi mengeruk material di lokasi yang tidak diperkenankan.

“Ini bukan pekerjaan ringan dan sepele. Karen butuh biaya besar, tenaga dan waktu yang lama. Belum lagi resiko pelayanan terganggu yang menyebabkan pelanggan komplain kepada PDAM,” demikian Dirut PDAM KSB.(EZ)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.