Harga Gabah Anjlok, Petani Menjerit, Bulog Tak Bisa Berbuat Apa-apa

KabarNTB, Sumbawa Barat – Para petani di Kabupaten Sumbawa Barat kembali dihadapkan pada anjloknya harga gabah di musim panen M T (musim tanam) II yang sekarang sedang berlangsung.

Ditingkat lapangan, harga gabah berkisar di angka Rp 3.700 sampai Rp 3.800 per kg kering panen. Harga ini jauh lebih rendah dari harga pada musim panen MT1 dimana harga gabah berada di kisaran Rp 4.100 hingga Rp. 4.200 per kg.

“Menurut kami kondisi ini aneh. Musim panen kedua ini bukan merupakan puncak masa panen (panen raya) karena tidak semua petani menanam padi, sehingga volume produksi jauh lebih sedikit. Apalagi kualitas gabah juga lebih baik karena tidak sedang musim penghujan, jadi semestinya harga lebih tinggi,” ujar Ketua Komisi II DPRD Sumbawa Barat, Aheruddin Siddik SE ME, Selasa 22 Juni 2021.

Petani sedang melakukan panen padi. Dimasa pandemi Covid-19 ini harga gabah justeru anjlok (foto: ist)

Politisi Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKP) itu, menegaskan, kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut, karena akan berpengaruh langsung terhadap petani. Biaya produksi tinggi yang tidak sebanding dengan harga jual gabah, menurutnya, akan menambah berat beban petani di kondisi sulit dalam masa pandemi seperti sekarang.

“Artinya pemerintah pusat, provinsi maupun di kabupaten mesti menseriusi masalah ini. Mesti ada solusi segera dari pemerintah agar harga gabah kembali normal sesuai HPP (harga pembelian pemerintah),” imbuh Aher.

Sesuai Permendag Nomor 24 Tahun 2020, HPP gabah kering panen (di tingkat petani) sebesar Rp 4.200 – Rp 4.250 per Kg dan harga kering giling Rp. 5.250 per KG. Komisi II sendiri, kata Aher, terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk Bulog, agar masalah harga ini bisa segera ada solusinya.

“Kami mendesak Bulog agar segera turun melakukan pembelian gabah petani di lapangan. Karena jika pemerintah dan perangkatnya tidak turun mengintervensi  tidak mustahil harga akan terus anjlok dan petani akan semakin rugi,” tandasnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Bulog Divre Sumbawa, Kurnia Rahmawati, mengakui Bulog untuk saat ini tidak bisa turun melakukan intervensi untuk menyerap gabah petani. “Kondisi kami saat ini, ada kebijakan secara nasional dimana Bulog tidak melakukan penyerapan (gabah) untuk sementara ini dan nanti akan dievaluasi kembali,” ujar Nia via sambungan telephon.

Kebijakan nasional Bulog tidak melakukan penyerapan itu, urai Nia, karena beberapa alasan. Pertama terkait stok Bulog saat ini sudah jauh melebihi stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang ditetapkan pemerintah. Kedua, kondisi gudang Bulog di seluruh Pulau Sumbawa sudah penuh, sehingga tidak ada space lagi untuk penyerapan. Ketiga, secara nasional, Bulog memiliki stok sangat banyak, tetapi tidak ada penyaluran. Di Cabang Sumbawa saja stok setara beras yang ada sampai 46 bulan kedepan atau sampai dengan bulan maret 2025. Padahal minimum regional stok itu hanya 3 bulan saja.

“Baik gudang di Labuhan, Lopok Sumbawa dan Lamusung Sumbawa Barat semua gudang penuh. Jadi ada fungsi Bulog yang tidak berjalan. Ibarat dikasi makan tetapi tidak dikeluarkan. Bayangkan stok yang ada di Sumbawa saja sampai 46 bulan. Beras sebagus apapun jika tidak dikeluarkan selama itu, pasti akan rusak,” bebernya.

Nia mengakui Bulog bisa menyalurkan stok yang ada dengan operasi pasar atau lewat program bantuan pemerintah ke masyarakat. Namun dibandingkan dengan jumlah stok secara nasional yang sangat banyak, program – program tersebut tidak akan berdampak signifikan.

“Ini persoalan nasional yang telah dikomunikasikan juga oleh Pimpinan Bulog dalam RDP (rapat dengar pendapat) dengan DPRRI. Jadi memang butuh intervensi pemerintah agar fungsi penyaluran bulog bisa berjalan kembali,,” demikian Kurnia Rahmawati.(EZ)

Posted by: On: Reply

Subscribe

Langganan Berita Kami Disini. Silahkan Masukkan Alamat E-mail Anda.